Saturday, April 22, 2017

Tumisan Sayur Indonesia Banget


Saya suka jalan-jalan ke supermarket besar seperti Loka, terutama untuk mampir ke bagian sayur dan buah. Di sana, bisa puas-puasin mata memandang warna-warni buah-buahan dan sayuran (impor) yang menawan hati (tapi bikin hati tersayat pilu). Cukup membayangkan saja bikin blueberry muffin (karena harga blueberry 200 gr seratus ribu lebih), atau mata yang berbinar-binar saat pertama kalinya melihat Alfalfa Sprout, micro vegetables yang imutnya keterlaluan, yang biasanya nampang di majalah-majalah foodie sebagai campuran salad. Lalu binar di mata itu perlahan pudar saat mengintip harganya yang 30 ribu rupiah untuk sekotak kecil Alfalfa. Errrrr….

Sakit hati!

Itu yang saya rasakan. Sakit hati karena ga semudah itu beli sayur/buah impor (faktor dompet) dan karena keIndonesiaan saya yang (akhirnya) terusik (faktor identitas kebangsaan). Dan saat berjalan ke lorong pasar tradisional, tanpa sengaja menemukan seorang mbah-mbah penjual sayur. Tapi bukan sayur biasa seperti bayam, kangkung atau sawi. Sayuran yang beliau jual adalah sayuran yang mulai langka yang jarang sekali ada di pasaran, seperti kecipir, bunga pepaya, daun beluntas, daun ketela, sinom (daun pohon asem jawa), jantung pisang, pokak (rimbang), hingga kadang ada semanggi, daun kelor hingga daun katuk. Menemukan mbah-mbah tersebut merupakan tamparan tersendiri. Betapa selama ini saya memuja sayur/buah asing karena penampakannya yang unch unch waktu dipotrek, tapi meleng dari harta karun negeri kita yang sangat jarang terabadikan secara genah, baik dan cantik oleh kita-kita sendiri.

Maka di sinilah saya sekarang. Mencoba merekam secuil keindahan Indonesia. Tak muluk-muluklah impian saya, cuma buat belajar mencintai apa yang tumbuh di tanah kita, mengolahnya dengan sepenuh hati dan membiasakan mengkonsumsinya bersama keluarga. Ibu adalah madrasah terbaik untuk buah hatinya kan, dan kurikulum makanan untuk sekolah di keluarga kecil saya adalah memperkenalkan sedini mungkin aneka makanan/masakan/minuman tradisional Indonesia. Go Local!!!


Tumis Bunga Bawang



sumber: Anitajoyo

Bahan:
1 kotak tahu, potong dadu, goreng 
1 ikat bunga bawang, cuci, potong 2 cm 
1 ons udang, buang kepala dan kulit, sisakan ekornya 
6 bawang merah, rajang tipis 4 bawang putih, rajang tipis 
5 cabe rawit, iris jadi 2
3 sdm kecap manis 
100 ml air matang gula, garam, merica


Cara membuat: 
Tumis duo bawang hingga wangi, masukkan cabe rawit dan udang. Tumis lagi hingga udang berubah warna. 
Tuang kecap manis, tunggu sebentar hingga kecap mendidih terkaramelisasi, masukkan tahu goreng dan bunga bawang. 
Tuang air, tambah gula, garam, merica. 
Masak hingga bumbu meresap dan air habis.


Tumis Pokak Teri



Sumber: Anitajoyo

Bahan:
250 gr pokak, petiki, cuci bersih
100 gr teri, gorenggula, garam

Bumbu halus:
8 bawang merah
6 bawang putih
2 cabe merah besar (tambahan dr saya)
10 cabe rawit
4 butir kemiri bakar

Cara membuat:
Rebus pokak hingga agak empuk (sekitar 7 menit), tiriskan, sisihkan.
Tumis bumbu halus hingga wangi, tambahkan sedikit air. 
Masukkan pokak, gula, garam; masak hingga air menyusut, minyak keluar dan bumbu merasuk.
Sesaat sebelum diangkat masukkan teri, aduk rata. 
Sajikan dengan nasi panas ngepul



Tumis Bunga Pepaya 



Bahan:
500 gr bunga pepaya, petiki, buang batangnya, cuci bersih, tiriskan
1 sdt asam jawa
1 ons udang, kuliti, sisakan ekor
8 bawang merah, rajang tipis
4 bawang putih, rajang tipis1 ruas lengkuas, geprek
10 cabe rawit
2 cabe merah besar
gula, garam, merica

Cara membuat:
Rebus air di panci bersama asam jawa, masukkan bunga pepaya. 
Masak 5 menit, angkat, saring, sisihkan.
Tumis duo bawang dan lengkuas hingga harum.
Masukkan cabe merah besar, cabe rawit dan udang. Masak hingga udang berubah warna.
Masukkan bunga pepaya, gula, garam, merica. Aduk rata hingga bumbu meresap.


Tumis Kulit Melinjo



Bahan:
300 gr kulit melinjo, iris tipis
1 papan pete, kupas
5 siung bawang putih, geprek
1 butir bawang merah, rajang
10 cabe rawit, iris
1 lembar daun salam
1 ruas lengkuas, geprek
Gula, garam, merica50 ml air matang

Teri goreng


Cara membuat:
Tumis duo bawang, lengkuas, cabe rawit dan daun salam hingga wangi. 
Masukkan kulit melinjo, aduk sebentar, tuang air.
Tambahkan gula, garam, merica, masak hingga air berkurang. 
Masukkan pete, aduk-aduk hingga air menyusut. 
Taburi teri goreng, aduk rata, sajikan

Friday, April 21, 2017

Terong Belanda


Indonesia itu kayaaaaaaaa banget!! Salah satunya soal hasil bumi yang tumbuh dan berkembang di negeri kita tercinta ini. Pernah dengan Terong Belanda? Buah bernama Latin Solanum Betaceum ini berasal dari Amerika Selatan hingga kemudian dibawa penjelajah laut ratusan tahun lalu hingga sampai dan dibudidayakan di Indonesia. Buah yang berwarna oranye kemerahan saat telah matang ini memiliki rasa manis-masam-getir, seger deh pokoknya. Di negara asalnya, Terong Belanda biasa dimanfaatkan sebagai minuman. Tapiii, kreatifnya orang Indonesia, Terong Belanda ga cuma dijadikan minuman aja loh. Salah satu olahan Terong Belanda yang bikin ternganga karena saking mengejutkannya sekaligus saking enaknya waktu udah dirasain adalah Cecah Angur, sambal khas Gayo, Aceh.

Mau tahu olahan apa aja yang bisa dibikin dari Terong Belanda? Yuk kita Kemon…

1.       Martabe



Martabe adalah singkatan dari Markisa – Terong Belanda. Dua jenis buah tropis eksotis ini dijus jadi satu, menghasilkan cairan kental dengan rasa asam manis. Kedua buah dengan rasa yang sama-sama kuat ini berpadu sempurna dan menghasilkan rasa baru yang ga kalah enak. Jus Martabe merupakan minuman yang sangat populer di Medan, Sumatera Utara.

Bahan:
3 terong belanda
200 ml air
Es batu secukupnya
Sirup markisa

Cara membuat:
Masukkan terong belanda ke dalam tabung blender bersama air, haluskan. Tuang ke dalam gelas, tambahkan es batu dan sirup markisa.


2.       Sirup Rempah Terong Belanda


Gimana ya rasanya kalo Terong Belanda ketemu rempah-rempah nusantara? Ga nyangka loh kalo rasanya jadi makin eksotis. Resep ini terinspirasi dari buku Craft of Baking yang berisi resep Roasted, Poached and Compote.

Bahan:
10 buah terong belanda
400 gr gula pasir
400 ml air
1 batang kayu manis
5 buah kapulaga hijau
2 buah bunga pala kering

Cara membuat:
Belah melintang kulit terong belanda, masukkan ke dalam panic bersama dengan semua bahan.
Masak hingga gula larut, air mulai menyusut dan daging terong belanda lembut.
Ambil 8 terong belanda, dua sisanya hancurkan dengan cara menggerusnya dengan sendok sayur, Masak lagi hingga air terserap dan menjadi sirup kental.
Matika api, saring.
Ambil rempah-rempah yang sidaring, masukkan kembali ke dalam sirup bersama ke-8 terongbelanda yang masih utuh.
Dinginkan, simpan dalam wadah kedap udara yang telah disteril.

3.       Selai Terong Belanda


Salah satu cara mengawetkan buah ya dengan jalan ini: dibikin selai!

Bahan:
500 gr terong belanda, kupas, potong-potong
200 gr gula pasir
100 ml air

Cara membuat:
Campur smeua bahan di panic, masak dengan api kecil hingga mengental dan daging terong belanda lembut dan sebagian hancur.
Dinginkan, simpan di dalam jar bersih.

Selai Terong Belanda di atas, bisa banget dibuat olesan pancake atau kayak ini: buat isian donat. Enyak! Resep donatnya bisa pake apa aja ya, di sini saya pakai resep KSB.

Tamarillo Jam Filled Donut


Bahan:
260 gr tepung terigu protein tinggi
30 gr gula pasir
3 gr ragi instan
1 butir telur yang ditambah susu cair hingga beranya jadi 160-180 gr
30 gr mentega
Garam

Cara membuat:
Campur tepung, gula pasir dan ragi instan di dalam wadah.
Tuang campuran susu dan telur, uleni hingga kalis.
Tambahkan butter dan garam, uleni lagi hingga kalis elastis.
Giling adonan seteal 5 mm atau sesuai ketebalan yang diinginkan.
Potong bentuk bulat memakai ring cutter diameter 7 cm.
Istirahatkan adonan sampai dua kali mengembang.
Panaskan minyak baru di wajan cekung dengan api kecil-sedang.
Goring donat hingga berwarna keemasa.
Dinginkan, isi selai terong belanda lalu taburi gula donat.

Besoknya, donatnya masih sisa nih. Tinggal diangetin dengan cara dipres pake waffle maker, tabur gula bubuk dan selai Terong Belanda, aduhhh ngeces deh :P


4.       Cecah Angur


Ini dia sambal unik khas Gayo Aceh. Terong Belanda disini difungsikan seperti tomat, jadi ga pake tomat lagi ya. Asem segernya terong belanda dengan pedasnya sambal bikin selera nambah deh, beda banget dengan sambal terasi yang pakai tomat. Rasa dan aroma Cecah Angur lebih intens dan yang pasti, menyelerakan bah!

Bahan:
1 cabe merah besar, buang biji, potong
10 cabe rawit merah
1 sdt terasi bakar
½ sdt gula pasir
¼ sdt garam
½ jeruk limau
1 terongbelanda, belah 4

Cara membuat:
Goring sebentar cabe-cabean, campur semua bahan kecuali jeruk limau di cobek batu, uleg kasar sampai tercampur rata. Terakhir, kucuri jeruk limau sebelum dihidangkan.

Paling cucok disajikan dengan ikan bakar, lalapan dan nasi panas ngepul, hmmmm…

Saturday, December 3, 2016

Mimpi dan Roti


Akhir 2004.

Pertanyaan itu menggelayut di benak sekian lama. Pertanyaan yang terlontar dari mulut Pemimpin Umum Organisasi Pers Mahasiswa itu, “apabila kamu dihadapkan pada situasi: melihat seseorang meregang nyawa sedangkan di badanmu tergantung kamera; apakah yang akan kamu lakukan? Menolongnya atau memotretnya?”.

Pada saat itu, tahun 2004 saat instagram dan aneka media sosial yang menjadi wadah eksistensi manusia belum hadir dalam ruang-ruang komunikasi kita; pada saat hanya ponsel super mahal yang memiliki kamera dengan resolusi kurang dari 1 MB, pertanyaan akan etika versus seni tersebut menjadi bahan renungan yang dalam. Barangkali bila pertanyaan tersebut terlontar saat ini, di saat kita semua memiliki ponsel berkamera, tentu saja, memotret orang meregang nyawa (sekaligus numpang selfie di sebelahnya) adalah hal yang biasa (dan malah bikin popular) (note the sarcasm in my sentence ya).

Tapi bukan tentang pertanyaan itu yang hendak saya ulas di celotehan kali ini. Tapi tentang James Nachtwey.

Beliau adalah fotografer perang yang karya-karyanya banyak mengisi sampul majalah Time di tahun 80-90an. Apa hubungan Tuan Nachtwey dengan paragraph pertama? Pertanyaan retoris di atas adalah pertanyaan yang dilempar, dan dijawab sendiri oleh Nacthwey berdasar pengalamannya. Kala itu tahun 1998 saat reformasi tengah bergulir. Beliau berada di Ketapang Jakarta dan menyaksikan dengan mata kepala bagaimana perang berbasis SARA begitu mudahnya mencabut nyawa seseorang. Di hadapannya ada seorang Ambon yang berlari dikejar segerombolan orang bersenjata tajam. Sebagai orang “luar” yang “netral”, beliau mencoba menghentikan tindak pembunuhan tersebut. Hingga dua kali beliau memohon, tapi massa tak menghiraukannya. Dan kita tahu pada akhirnya. Nachtwey menangkap momen pembunuhan tersebut melalui lubang kameranya. Dia gagal menolong orang tersebut, namun batinnya, dengan memotret dan mengabarkannya pada dunia barangkali mampu menolong jutaan orang lain agar tidak terjerembab pada akhir tragis yang sama: korban konflik. Nachtwey yang membekukan masa perang dan terror seolah selalu mengingatkan kita akan masa lalu. Bahwa udara yang kita hirup detik ini tak pernah lepas dari pengorbanan dan darah jutaan manusia yang namanya tak tercantum dalam teks pelajaran sejarah.

James Nachtwey adalah sosok pertama yang membuat saya jatuh cinta pada fotografi. Dan Afrika. Dan studi tentang perdamaian dan perang. Karenanyalah pada masa itu saya bercita-cita menjadi aktivis perdamain di perbatasan Kenya. Ya ya ya, kalian semua boleh ngakak menertawakan saya yang ga bisa berenang dan takut kucing ini; tapi setiap orang, entah apapun statusnya, entah siapapun dia kini, tak pernah terlarang baginya untuk memiliki mimpi kan?

Seorang kawan yang dengannyalah saya berbagi mimpi (yang kebetulan pada saat itu mimpi kami tak jauh berbeda), saat ini sedang menapaki mimpinya. Ia melanjutkan studi ke jenjang tertinggi, berkeliling dunia, berdiskusi dengan profesor-profesor yang dulu namanya hanya sempat kami eja di buku diktat kuliah, menulis di media besar nasional bahkan jurnal internasional. Tapakan impian yang dulu kami idamkan, sedang dijalaninya saat ini. Sedangkan saya?

Saat saya mengetik curhatan ini waktu menunjukkan pukul sebelas malam, anak-anak telah terlelap setelah seharian tadi si bocah tak henti-hentinya menggoda saya, dari mencampuri sesi pemotretan, menabur bedak di karpet dan menganggapnya badai salju hingga menangis meraung-raung minta ke supermarket di jam 9 malam. Setelah si bayi yang tak bisa saya tinggal itu, yang bahkan harus saya gendong dan susui saat saya sedang mencuci piring, memasak hingga memotret itu, habis diperiksa dokter dan ternyata menderita tongue tie yang membuat berat badannya susah naik. Saya yang saat ini dengan badan linu semua, berdaster, dengan koyo menempel dari pundak sampai lutut, lupa kapan terakhir kali menyisir rambut, selama 24 jam setiap harinya disibukkan dengan aktivitas domestik dari setrikaan segunung sampai rencana tamasya anak TK.

Merenungi bagaimana semua ini berawal – mimpi – dan bagaimana saat ini (belum akhir) – realita – membuat saya tertawa. Bahwa ternyata, suratan takdir begitu sulit diterka. Bagi orang lain, katakanlah teman saya di atas, kebahagiaannya adalah menyusuri jalur sunyi menjadi seorang akademisi. Dan segigih apapun saya dulu mengejar mimpi menjadi aktivis perdamaian di Kenya bertahun lalu, ternyata saya bahagia dengan hidup saya yang sekarang. Yang setiap harinya juggling mengurus kegiatan rumah tangga sambil menyelipkan hobi di sela-selanya. Dan ternyata lagi, meskipun melenceng dari cita-cita mulia sebagai penjaga perdamaian dunia, saya sedang menjalani mimpi saya saat ini: seorang ibu rumah tangga yang memegang kamera. Meski yang saya abadikan bukan wajah keberingasan perang; namun hasil karya manusia yang mampu membuat mulut beringas untuk segera melahapnya: food photography.

Dengan demikian, meski kita berbeda aliran, saya ucapkan terima kasih kepada Pak James Nachtwey yang pernah memercik mimpi saya J

Back to the purpose of this blog: recipe and food photography. September lalu dapat kiriman ragi organic kering dari mbakyu @tarivc, seorang kawan instagram asal wrongthree yang kini tinggal di negeri Napoleon. Seneeeeng banget! Secara ya, selama ini udah bikin ragi alami 3 kali lebih dan selalu gagal dong :D

Jadi berbekal dried sourdough tersebut, hampir semingguan saya ngebut bikin roti (yang 2 resepnya dari beliau semua), berkejaran dengan hari perkiraan lahir si bayi. Ada 3 macam roti yang saya bikin, so siap-siap ngantuk baca resep panjang kali lebar ya.

1.     Pain au Levain Fermentescible
500 gr tepung protein tinggi
20-21 gr sourdough kering (11gr bila pake ragi instan)
13 gr garam
340 ml air matang

Cara membuat:
Campur bahan kering di wadah. Tuang air sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga rata dan kalis (saya ga sampe elastis).
Tutup, istirahatkan selama 2jam di suhu ruang.
Tinju adonan hingga kempes, uleni sebentar, bentuk bola, taruh di loyang, tutup serbet basah, istirahatkan lagi 1jam.
15 menit sebelum dipanggang, panaskan oven suhu 250C.
 
Tuang air panas di loyang kue, lalu masukkan loyang berisi air panas tsb ke dasar oven (metode steam bake/au bain marie). Gurat permukaan roti dg pisau tajam lalu panggang selama 30 menit atau sampai permukaan roti kecoklatan.
Keluarkan dari oven, tempatkan di rak kawat hingga dingin.
Hirup aromanya saat mengiris, nikmati kebahagiaan bikin roti homemade utk keluarga

2.     No Knead Baguette

450 gr tepung
315 ml air
9 gr garam
1/2 sdt dried sourdough

Cara membuat:
Campur bahan kering di wadah bersih, tuang air sambil diaduk dg sendok kayu sampai rata. Adonan akan lengket. Tutup dg plastik, istirahatkan di suhu ruang temp 20C selama 12-18 jam (saya: simpan di kulkas rak bawah selama 20jam).
Adonan roti telah siap bila sudah mengembang dan muncul gelembung2 udara.
Taburi tepung secukupnya di meja kerja, ambil adonan dan uleni sebentar (taburi tepung sedikit demi sedikit bila adonan sangat lengket). Bagi adonan, bentuk panjang, letakkan di loyang (saya bagi 3 tak sama rata). Tutup dg serbet, istirahatkan 2jam. Saat sudah mengembang, dg pisau tajam, gurat permukaan baguette.

Panaskan oven suhu 250C. Dg metode steam bake, panggang baguette selama kurleb 30m atau sampai kecoklatan.
Angkat, dinginkan di rak kawat.
Siap dinikmati gitu aja dg olesan butter atau diolah jadi baguette sandwich, garlic bread, bruschetta dsb


3.     Brioche Au Levain Fermentescible

500 gr tepung protein tinggi
2 butir telur
220-250 ml susu
50 gr gula pasir
12 gr garam (1 sdt)
20 gr dried sourdough (atau 11 gr ragi instan)
100 gr mentega

Cara membuat:
Campur telur, gula, garam dan susu di wadah. Tuang tepung dan dried sourdough. Uleni hingga kalis.
Masukkan mentega, uleni lagi hingga elastis. Adonan akan sedikit lembek, ga perlu ditambah tepung yes.
Tutup dg handuk basah, istirahatkan selama 30 menit.
Tinju adonan, uleni sebentar lalu bentuk sesuai selera. Istirahatkan lagi selama 30-45 menit.
Nyalakan oven suhu 200C selama 15m. Olesi permukaan roti dg kuning telur lalu panggang 30m atau hingga bau harum menguar dari oven dan warna roti keemasan.
Keluarkan dr oven, panas2 olesi mentega. Siap dinikmati

Thursday, September 8, 2016

Mi Buah Bit




Tidak ada yang instan di dunia ini, sayang. Bahkan untuk membuat mi instan, kita masih harus merebus air terlebih dahulu. Jadi bisa dibayangkan berapa lama proses yang dibutuhkan membuat mi sendiri lalu memasak dan menghidangkannya di meja berupa Mi Ayam seperti yang dijual abang-abang gerobak pinggir jalan?

Tapi perlu kau ketahui sayang, bahwa pengalaman 3 jam menguleni, menggiling, mencacah daging ayam, menumisnya, membuat kaldu bening berminyak hingga menggoreng pangsit garing (yang untungnya pangsit boleh beli) hingga membuat acarnya; semuanya sepadan dengan senyuman dan kepuasan menghadirkan masakan rumahan untuk keluargamu. Makanan instan memang murah, gampang dan yeahhhh enak. Tapi kita sepakat tak ada yang bisa mengalahkan masakan ibu yang penuh cinta kasih kan?

Sedikit memodifikasi dari resep mi milik blogger keceh IsnaSutanto dengan menambahkan sesendok makan tepung tapioca  ke dalam adonan, mi buah bit terasa sedikit lebih kenyal, meski harus diakui tidak sekenyal mi-mi yang beli di pasar (yang entahlah, kita tak tahu pasti bahan pembuatnya). Sedangkan saat mengolahnya jadi Mi Ayam, saya gunakan resep milik busutilmenari @Anitajoyo, a very best friend who happen to be my inspiration whenever I run out of idea what to cook.

Sebagai catatan, bila membuat jus buah bit sebaiknya airnya sedikiiit saja, asal bisa dibuat blender buah bit. Jus buah bit milik saya terlalu encer, sehingga ketika dicampur di dalam adonan mi warnanya terlalu muda. Masih mentah sih bagus, nge-pink gitu. Tapi waktu udah dimasak, lhaa kok jadi kekuningan pucat :D

Berikut resepnya saya tulis lagi buat menuh-menuhin blog hahahaha.


Mi Buah Bit

500 gr tepung terigu protein tinggi
1 sdm tepung sagu tapioca (bisa pake tepung sagu atau tapioka/kanji)
1 sdt garam
3 butir telur
100 ml jus buah bit hasil dari memblender 2 buah bit + air segelas kecil, saring, ambil 100 ml
Tepung sagu untuk taburan

Cara membuat:
Campur tepung terigu, tepung sagu dan garam di wadah, aduk rata.
Masukkan telur, aduk-aduk dengan tangan sambil menuang jus buah bit sedikit demi sedikit.
Uleni hingga rata. Bila terlalu kering, tambah just bit 1 sdm. Tesktur akhir adonan liat, tidak basah, tercampur sempurna.
Siapkan pasta maker, bagi adonan @100 gr. Giling dengan pasta maker dari nomor terkecil hingga ketebalan sesuai selera (saya berhenti di nomor 7). Sesekali taburi tepung sagu agar tidak lengket.
Pasang pemotong mi, potong adonan sesuai selera.
Gulung, taruh di dalam plastic lalu masukkan ke wadah kedap udara. Tahan di kulkas selama 5-7 hari.


Mi Ayam Gerobak

Bahan:
3 gulung mi
Sayur sawi, potong-potong
Seledri, daun bawang dan bawang goreng untuk taburan

Taburan ayam
200 gr fillet ayam, potong dadu
2 siung bawang putih, cincang halus
1 sdm kecap manis
½ sdm saus tiram
½ sdt kecap asin
Gula, garam, merica secukupnya
Aduk rata semua bahan, simpan di kulkas 60 menit. Panaskan sedikit minyak, tumis ayam hingga matang.

Kuah: rebus dengan api keciiiil
Tulang ayam
½ liter air matang
2 siung bawang putih, geprek
1 cm jahe, geprek

Minyak bawang: tumis dengan api kecil hingga harum dan kulit ayam dan bawang kering
75 ml minyak sayur
4 siung bawang putih, geprek
Kulit ayam

Acar timun: Campur semua bahan hingga gula dan garam larut, simpan di wadah kedap udara, tahan hingga 2 minggu di kulkas
Timun, iris korek api
Wortel, iris korek api (saya skip)
Cabe rawit hijau, buang tangkainya
Gula dan garam
Cuka masak
Air sedikit

Pake resep yang sama, tapi mi buah bitnya beli jadi merk Javara

Cara mengolah untuk 1 porsi mi, aduk rata di mangkuk:
1 sdm minyak bawang
1 sdt kecap asin
½ sdt kecap ikan
1 sdt kecap manis
¼ sdt minyak wijen
Merica

Rebus mi dan sawi, masukkan ke dalam mangkok berbumbu, aduk rata.
Taburi dengan taburan ayam, daun bawang, seledri dan bawang goreng.
Sajikan bersama semangkok kuah panas, acar timun serta pangsit goreng.





Sunday, August 14, 2016

Jelajah Boga Sulawesi



Selama lebih dari 30 tahun (yah ketauan deh umurnya :D), belum pernah sekalipun saya menginjakkan kaki di luar Pulau Jawa dan Bali. Alasannya klasik, keluarga saya ga ada yang hidup di luar kedua pulau tersebut dan kami bukanlah tipe keluarga petualang yang gemar menghirup atmosfer tanah antah berantah sembari menyapa orang asing. Malah sebaliknya, almarhum bapak saya bisa dibilang sebagai seorang yang overprotektiv. Saya ingat benar saat perpisahan SD, bapak tidak memberi ijin saya mengikuti studi tur ke area Tapal Kuda. Beliau terlalu kuatir terhadap anak gadisnya yang berusia 12 tahun melancong bersama teman sekelas dan guru-gurunya tanpa kehadiran orang tua. Sehingga, jarak terpanjang yang pernah kami tempuh adalah Bali, karena di Pulau Dewata tersebut beberapa sanak saudara tinggal.

Beberapa saat lalu, saya membaca sebuah post di instagram yang kira-kira berbunyi “The best education you will ever get is traveling. Nothing teaches you more than exploring the world and accumulating experiences”.

Kalimat tersebut mengendap di benak selama berhari-hari. Sungguhpun saya ingin mengangguk membenarkan, tapi ternyata saya tidak cukup sependapat. Untuk seseorang yang memiliki latar belakang keluarga seperti saya (kakak tertua saya meninggal di tanah nun jauh sana yang akhirnya membuat kedua orang tua saya overprotektiv terhadap ketiga anak gadisnya), bertualang menjadi kata yang asing di telinga. Petualangan terbesar yang pernah saya lakukan terletak pada lembar-lembar buku yang selama ini saya baca. Pun ketika saya menikah. Suami adalah tipe pelancong yang bisa hidup berminggu-minggu hanya dengan satu ransel di pundaknya (yang tentu saja berisi atm wuakakkaka). Tapi saya sangat jarang ikut suami. Mungkin karena saya tidak terbiasa hidup di suatu tempat yang tidak saya kenal. Mungkin saya terlalu malas membayangkan kerempongan bertualang bersama bocah. Atau mungkin saya terlalu nyaman duduk di sofa membaca buku dan setahun terakhir ini, membuat aneka makanan tradisional yang asing di lidah.


Sehingga bagi saya, perjalanan bukanlah tentang tempat, jarak atau berapa banyak foto yang kamu bagi di medsos untuk menunjukkan eksistensimu pernah ada di sana. Perjalanan bagi saya pribadi adalah mengerjakan, menyukai dan terlarut dalam sesuatu yang membangkitkan semangatmu dan membuatmu merasa penuh. Sesuatu itu bisa jadi sekedar ngobrol dengan teman lama, tetangga jauh atau cuma bertegur sapa dengan mbok-mbok penjual sayuran di pasar tradisional. Dalam kamus saya, perjalanan yang saya lakukan akhir-akhir ini adalah memasak panganan tradisional daerah lain.

Saya memang belum pernah menginjakkan kaki di tanah Sulawesi. Namun dengan memasak makanan khas mereka, saya sedikit banyak bisa membayangkan keramahan dan senyum orang Sulawesi sembari merasakan Angin Mamiri menyentuh wajah saya. Dengan membuat panganan Sulawesi, saya menyadari betapa mereka sangat mencintai rempah-rempah dan daun-daunan, dan bagaimana kami (orang Jawa) memiliki panganan yang hampir sama rasanya namun berbeda nama dan cara pembuatannya. Saya sudah jatuh cinta pada Sulawesi hanya dengan masakan yang saya buat di rumah tanpa sekalipun menginjakkan kaki di ranah Bugis. Dan bukankah itu tujuan dari perjalanan?

Selama bulan Mei lalu, saya membuat berbagai varian masakan Sulawesi dari jajanan kecil, minuman hingga hidangan utama. Tentu tak adil mengatakan bahwa ke-12 jenis hidangan di bawah ini mampu mewakili citarasa Sulawesi, karena toh ada ratusan bahkan ribuan jenis masakan asli Sulawesi yang tak sempat saya bikin. Bahkan aneka bubur sayur seperti Tinutuan atau Binte Bilihuta serta aneka olahan ikan khas Sulawesi juga luput dari tangan saya. Namun semoga sedikit resep di bawah ini yang saya coba bisa menggambarkan sekilas tentang masakan Sulawesi. Dan bagi saya pribadi, masakan asing yang belum pernah saya makan atau masak sebelumnya ini benar-benar memperkaya pengetahuan dan rasa di lidah.

Jajanan tradisional
Apang Coe
Sumber: Primarasa Aneka Kue Tradisional

Bahan:
10 helai daun pandan lebar utk takir
150 gr gula merah
 
125 ml air kelapa
200 gr tepung beras
5 gr ragi instan
75 gr tepung terigu serbaguna
1/2 sdt garam
1/2 sdt baking powder
200 ml santan dr 1/2 butir kelapa
2 pandan potong 2cm

Cara membuat:
Potong daun pandan lebar sepanjang 25 cm, lipat tanpa putus 5x5 cm. Potong 1/2 lipatan, lalu bentuk takir (spt melipat kardus), jepret pake streples.
Sisir gula merah, masak bersama air kelapa dan daun pandan hingga gula larut. Saring, sisihkan hingga hangat.
Masukkan tepung beras di wadah, tuang air gula merah sedikit demi sedikit sambil dikeplok2 hingga halus sekitar 15 menit.
Masukkan ragi instan, aduk rata, istirahatkan 30menit.
Masukkan tepung terigu, garam dan santan, lalu keplok2 selama 15 menit. (Stlh fase ini sy istirahatkan lagi 15 mnt).
Panaskan dandang dengan api sedang. Tuang adonan ke takir hingga hampir penuh lalu kukus selama 20 menit tanpa membuka tutup dandang.
Angkat, sajikan dengan kelapa parut.

Catatan:
- saya ngukusnya 3 bagian, bagian pertama Apang Coe berhasil ngakak, lainnya senyum simpul. Spertinya adonan gabisa nunggu? Lain kali mesti pake dandang besar.
- sebagai taburan saya pake kelapa parut segar. Biar lebih awet, kelapa parut + garam sauprit dikukus dulu


Koyabu
Sumber: Tabloid Saji

Bahan:
275 gr tepung ketan putih
300 gr kelapa parut kasar
1 sdt garam
150 gr gula merah, disisir halus
20 lembar daun pandan besar, potong 20cm utk membungkus

Cara membuat:
Campur tepung ketan, kelapa parut dan garam, aduk rata.
Ambil daun pandan, beri adonan, isi dg gula merah, tutup adonan.
Bungkus dg daun pandan, semat dg lidi.
Kukus dg api sedang 20menit sampai matang.

Notes:
- Bagian tersulit ada di cara membungkus, krn itu cari daun pandan yg buesar yaa, punya saya pandannya ukuran sedang, jd ukuran Koyabu-nya kecil-kecil, sekali hap di mulut


Barongko and Mandafa
Barongko ini versi Sulawesinya Carang Gesing: perpaduan pisang, santan dan telur yang dibungkus daun pisang. Paling enak dinikmati dingin keluar dari kulkas, meski hangat-hangat pun tak kalah enaknya. Sedangkan Mandafa adalah Barongko yang dilapisi dengan bubur sum-sum di atasnya.

Barongko

Sumber @anitajoyo


10 pisang gepok, potong2
2 butir telur
100 gr gula pasir
500 ml santan
3 daun pandan, potong2 ukuran 5cm
Daun pisang utk membungkus

Cara membuat:
Masukkan pisang, santan dan gula ke blender, haluskan. Tambahkan telur, blender sebentar asal rata.
Ambil 1 sendok sayur adonan, taruh di daun, tambahkan 1 potong daun pandan, bungkus bentuk tum. 
Kukus selama kurleb 30menit sampai matang dan bau harum menguar di dapur. 


Catatan:
Pilih pisang gepok yg matang dan berwarna merah, saya pake gepok putih, warnanya jadi pucat, tp tetep enyaaak!
Mbungkus tum adonan cair ini syusyahhh, sebagian daun saya bentuk takir biar lbh mudah. Pengen lbh gampang lagi, taruh di ramekin yg dialasi daun pisang dan pandan.


Mandafa


Lapisan bawah :
10 pisang gepok, potong2
2 butir telur
100 gr gula pasir
500 ml santan

Lapisan atas :
50 gr tepung beras, larutkan dengan sedikit air
300 ml santan
1 sdt garam
1 sachet susu kental manis putih

Cara membuat:
Lapisan bawah: Masukkan pisang, santan dan gula ke blender, haluskan. Tambahkan telur, blender sebentar asal rata.
Siapkan cucing, olesi tipis-tipis dengan minyak goreng. Tuang adonan 2/3 cucing, kukus dengan api sedang.
 
Sesaat sebelum adonan lapisan pertama matang, bikin lapisan atas: didihkan santan, masukkan larutan tepung beras. Aduk rata. Tambahkan garam dan susu kental manis, aduk terus sampai mengental.
 
Tuang lapisan atas ke adonan barongko di cucing, kukus lagi selama 5 menit hingga set.
 
Angkat dari kukusan, tunggu dingin sebentar, lalu keluarkan dari cucing.
 
Nikmati dingin keluar dari kulkas.
 

Catatan:
- Biar lebih gampang, taruh di ramekin, jadi makannya tinggal nyendokin.
- Kalo mau bubur sum-sumnya lebih encer, tinggal tambah santannya.
 

Sanggara Peppe

Setahu saya penggunaan pisang mentah hanya diperuntukkan untuk bumbu Rujak Cingur yang diulek bersama petis, kacang dan gula merah. Ga pernah sekalipun terlintas di pikiran kalau pisang mentah bisa diolah jadi pisang goreng khas Makasar, kalau bukan karena @citrahendrawijaya, seorang teman instagram yang pernah mengaplod foto Sanggara Pepped an sukses bikin liur menetes. Pisang goreng penyet ini gampang banget bikinnya, bahannya murah dan yang pasti, enaaaak!!


Bahan
Pisang kepok yang masih hijau, kupas lalu rendam air garam 10 menit 


Sambel terasi:
3 cabe rawit 
1/2 sdt garam 
1/2 sdt gula pasir Terasi 
1 tomat kecil 
Jeruk limau

Cara membuat:
Goreng pisang 1/2 matang, penyet pake ulekan, lalu goreng kembali sampe garing 
Sambal terasi: 
Ulek semua bahan kecuali jeruk limau, saat akan disajikan kecruti perasan jeruk limau.


Minuman Khas Sulawesi

Es Pisang Hijau
Siapa yang ga kenal Es Pisang Hijau? Bukan hanya di Sulawesi, bahkan di kota kecilpun kita bisa menemukan es berisi pisang yang dibungkus adonan tepung beras dan ekstrak pandan, bubur sum-sum, susu kental manis plus sirup merah ini. Beli sendiri tentu mudah dan murah, tapi bikin sendiri tentu lebih enak dan puas daaaan hasilnya buanyaaak!

Sumber: JTT

Bahan pisang ijo:
- 8 buah pisang gepok matang, kukus
- 100 gr tepung beras
- 100 gr tepung terigu
- 25 gram gula pasir
- 300 ml santan kental dari 1/2 butir kelapa
- 250 ml air pandan (100 gr daun pandan, potong2, blender dg 250 ml air, saring) 


Bahan vla santan:
- 50 gram tepung beras
- 250 ml santan kental
- 25 gr gula pasir
- 1/2 sendok teh garam

Pelengkap:
- es batu
- sirup DHT atau coco pandan
- susu kental manis

Cara membuat:
Campur tepung beras, tepung terigu, santan, air pandan dan gula pasir, aduk rata hingga licin dan tidak menggumpal. Tuang adonan ke loyang tahan panas, kukus selama 20 menit hingga matang. 
Angkat adonan dan uleni dg sendok nasi hingga kalis. 
Letakkan selembar plastic wrap di permukaan meja. Olesi permukaanya dengan minyak goreng, letakkan 3 sdm adonan kulit, tipiskan dan letakkan sebuah pisang di atasnya. Bungkus pisang dengan adonan kulit hingga pisang tertutup.
Siapkan selembar daun pisang, letakkan adonan yang telah dibentuk di atasnya. Lipat daun pisang dan bungkus pisang ijo spt bentuk lontong. 
Kukus selama 15 menit, dinginkan.

Vla santan:
Masukkan semua bahan vla santan, aduk hingga halus dan larut, tambahkan daun pandan. Masak dg api kecil hingga mengental. Angkat dan dinginkan.

Penyajian:
Siapkan mangkuk, tata potongan pisang hijau, tambahkan vla santan dan es serut, kucuri SKM dan sirup DHT.

Catatan:
-vla santan sy bikin kental kyk bubur sumsum, krn klo kena es yg mencair biar ttp kerasa. Klo mau encer, kurangi tepung beras


Pallu Butung

Pallu Butung ini friendly version-nya Es Pisang Hijau. Masih menggunakan vla santan, susu kental manis, sirup DHT serta pisang; hanya bedanya pisangnya hanya dikukus tanpa dibalut adonan tepung beras.

Es Brenebon

Kuliner Manado ga ada matinya, termasuk minuman khas ini. Terbuat dari kacang merah dan cokelat, Es Brenebon ini jauhhh lebih enak dari es-es pake kacang merah ala Korea yang lagi booming.

Bahan:
150 g kacang merah
 
1/2 sdt garam
4 sdm gula pasir
2 batang kayu manis
2 helai daun pandan
 
2 sdt coklat bubuk
200ml santan kental
SKM coklat
es serut

Cara Membuat:
Rebus kacang merah dan kayumanis sampai lunak. Masukkan garam, gula & coklat bubuk, masak hingga mendidih, angkat, sisihkan.
Didihkan santan dan daun pandan, angkat, sisihkan.

Cara penyajian:
Tuang santan ke dalam gelas, tambahkan es serut dan beberapa sendok kacang merah. Guyur dengan SKM coklat.

Catatan:
Santan bisa diskip biar rasanya lbh ringan
 

Hidangan Utama
Karakteristik utama masakan Sulwesi itu penggunaan daun-daunan yang banyak, terutama daun pandan. Rasanya segar dan lebih ringan daripada masakan Jawa yang terbiasa pakai bumbu lengkap.

Ayam Woku Belanga

Resepnya sy ambil dr blog dapurgue.blogspot.co.id milik mb Lia, haturtenkyu mbaak


Bahan:
1/2 kg ayam, bersihkan dan potong2
50 gram tomat, iris2 (boleh tomat ijo kalau mau rada asam)
Garam dan sejumput gula
Air jeruk limau sesuai selera asam
400 ml air
Sedikit minyak untuk menumis

Bumbu Daun:
2 lembar daun pandan (pilih yg tidak terlalu tua), diiris halus
1 batang sereh, bagian putihnya diiris halus
3 lembar daun jeruk, iris halus
1 lembar daun kunyit, sobek dan simpulkan (skip)
Daun kemangi, petik daunnya
2 tangkai daun bawang, iris2

Bumbu Halus, goreng semua, blender jadi satu:
5 butir bawang merah
4 cabe merah
2 cm jahe
3 cm kunyit
4 butir kemiri

Cara membuat:
Panaskan minyak, tumis berurutan: daun pandan dan sereh, setelah wangi masukkan bumbu halus dan daun kunyit.
Tumis hingga semuanya matang, masukkan potongan ikan, daun jeruk, garam, gula dan air, didihkan.
Masak api kecil, tertutup selama 20 menit.
Buka tutupnya, tambahkan air jeruk limau dan tomat, masak selama 15 menit lagi atau sampai kekentalan sesuai selera.
Masukkan kemangi dan daun bawang, aduk sebentar, angkat dan sajikan hangat.


Tumis Bunga Pepaya

Sumber: @hestihhakim, dg modifikasi dikiit menyesuaikan ketersediaan bahan dan faktor males 😅 (mestinya bumbu dihalusin, tapi saya iris tipis aja)


Bahan :

150 gr bunga pepaya, siangi, rebus dg asam potong, tiriskan, lalu aduk2 dengan garam
1 ikat kangkung, siangi
250 gr teri nasi
3 btg serai, ambil bagian putihnya, geprek
5 lbr daun jeruk, sobek sobek
3 lbr daun pandan, robek dan simpulkan
3 btg daun bawang, iris serong
daun kemangi
2 cm jahe, geprek
gula garam secukupnya
1 sdm saus tiram
Cabe rawit

Bumbu rajang:
4 bh cabai merah
10 bh bawang merah
5 siung bawang putih

Cara membuat :
Panaskan minyak, masukkan daun pandan sampai harum. Masukkan bumbu rajang, serai, jahe. Tumis hingga matang dan wangi.
Tambahkan teri nasi dan daun bawang, aduk rata.
Masukkan bunga pepaya dan kangkung, aduk hingga tercampur rata. Tambahkan saus tiram, masak hingga matang.
Tambahkan gula dan garam, terakhir masukan daun kemangi dan cabe rawit, aduk sebentar, angkat, sajikan dg nasi panas. 


Cakalang Jagung Manis

Sumber: Primarasa via @anitajoyo

 

Bahan:
150 gr cakalang, kukus, suwir (sy pake tuna)
2 cabe merah besar, iris serong tipis
3 batang daun bawang, iris
8 daun jeruk, iris tipis
3 jagung manis, pipil
1 ikat kemangi
100 ml air
1 jeruk limau

Bumbu, tumbuk kasar:
10 butir bawang merah
6 cabe merah
7 cabe rawit
2 cm jahe
1 batang serai
Gula
Garam

Cara membuat:
Tumis bumbu hingga harum, masukkan cabe merah, daun bawang dan daun jeruk. Aduk.
Masukkan tuna suwir, jagung pipil dan air, aduk rata, masak hingga air menyusut, bumbu merasuk.
Tambahkan kemangi dan kucuri air jeruk limau sesaat sebelum diangkat.

Dadar Jagung Manado

Bahan:
2 buah jagung manis ukuran sedang, pipil
100 gr tepung beras
30 gr tepung terigu
1 butir telur kecil
70 ml air
1 batang daun bawang
3 lembar daun jeruk, buang tulangnya, iris tipis
1/4 sdt ketumbar bubuk
7 siung bawang merah, iris tipis
Gula, garam, merica

Cara membuat:
Panaskan minyak.
Campur semua bahan jadi satu, aduk rata.
Ambil 1 sendok adonan, goreng di minyak banyak yg sudah panas hingga kuning keemasan. Angkat, tiriskan.

Ayam Iloni

Sumber: @magfirahh_

Bahan:
1 ekor ayam kampung
 
Jeruk nipis
2 batang serai, geprek
2 daun jeruk, sobek2
3 daun salam
1 daun pandan, potong2 kecil
500 ml santan dr 1/2 butir kelapa

Bumbu halus
6 bawang merah
5 bawang putih
4cm jahe
4cm kunyit
5 butir kemiri
10 cabe merah besar (sy cuma pake 8)
Cabe rawit (sy skip)
Gula garam

Cara membuat:
Cuci bersih ayam, lumuri jeruk nipis dan garam, biarkan sebentar, bilas.
Tumis bumbu halus dg sedikit minyak hingga wangi, masukkan serai, dan daun2an, masak sebentar hingga wangi. Masukkan ayam, tuang santan sedikit demi sedikit sambil diaduk sesekali hingga bumbu meresap dan daging ayam lunak.
Matikan kompor, angkat.
Panggang ayam dalam oven yg sudah dipanaskan atau langsung dipanggang di grill/wajan hingga berwarna kecoklatan (sy manggang pake oven, loyang dialasi 6helai daun pandan lbh dulu, biar makin wangiiii).
Nikmati panas dg nasi ngepul, lalapan dan sambal rica rica.