Monday, May 22, 2017

Keju Dangke



Hari ini, dia-diam saya mengamini petuah Giada de Laurentiis; bahwa  food brings people together on many different levels. it's nourishment of the soul and body; it's truly love.

Memandangi beranda fesbuk (dan karena alasan inilah saya lebih suka ke Instagram) yang berbulan-bulan ini kental dengan atmosfer tegang karena pandangan politik yang berseberangan, dan kini yang terhangat tentang status Afi dengan kata kunci warisan. Saya ga akan membahas pro-kontra “warisan”, sesederhana karena saya ga punya pengetahuan yang cukup untuk menelitinya (baik dari sisi agama, antropologi, sosial, budaya, dst dst). Dan atas dasar alasan tersebut, maka bagi saya arena yang paling tepat untuk membincangkan politik ada di ruang-ruang pribadi di mana kita saling kenal siapa yang kita ajak bicara, bukan di media sosial yang siapa saja bisa mampir dan berkomentar (I dont have enough time and energy to reply, rebut, debate, defend, offend something beyond my knowledge).

Lalu apa hubungannya dengan makanan? Karena tadi pagi saya mengunggah foto keju Dangke, keju asli Indonesia asal kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Keju Dangke dibuat dari susu kerbau/sapi dengan memanfaatkan getah daun/batang/bunga papaya muda untuk memisahkan air dan lemaknya. Bongkahan lemak terfermentasi tersebut kemudian dicetak di dalam batok kelapa sebelum dibungkus daun pisang.

Menilik sejarahnya, konon penduduk lokal menyajikan keju ini ke orang Belanda saat pertama kalinya mereka “bertamu” sambil berucap “dank je” yang dalam bahasa Belanda berarti Terima Kasih. Keselip lidah, Dank Je berubah jadi Dangke.


Yang bikin saya senang dengan unggahan saya di Instagram tadi pagi, karena begitu banyak respon dari orang Sulawesi dan daerah lain Indonesia terkait keju Dangke. Seseorang yang ibundanya asli Enrekang menerangkan tentang cara makan Dangke. Seseorang dari Batak mengaku bahwa produk susu kerbau yang serupa juga ada di Batak dan biasa dimasak Arsik (Arsik Susu Horbo). Seseorang dari Sumbar juga menyebut tentang Dadiah, olahan susu kerbau yang difermentasi dalam bambu, mirip seperti keju Dangke. Orang Indonesia di Perancis dan California sampai penasaran dengan Dangke dan membandingkan antara Dangke dengan Paneer (keju segar asli India), Dangke dengan Ricotta.

Lihat kan, betapa perbincangan tentang makanan mampu menembus sekat perbedaan di antara kita? Ga peduli warna kulitmu apa, sukumu apa, pandangan politikmu gimana, sampai apakah kamu peserta #HariPatahHatiNasional atau ga; makanan menyatukan kita :D. Tentu kita boleh berbeda pendapat apakah Soto Banjar memakai kunyit atau ga, apakah Bubur Ayam mesti diaduk atau ga, apakah kamu pantas ditenggelamkan Bu Susi karena ga doyan makan ikan; tapi di atas itu semua, kita sepakat bahwa makanan Indonesia ituuuuuuu …… paling enak sedunia!!!

Kembali ke Dangke, foto di atas adalah penampakan Keju Dangke (beserta olahannya di bawah ini). Makasih buat pak suami yang tak lupa membawakan makanan tradisional khas saat berkunjung ke daerah lain demi menuruti hobi bininya yang suka nguplek pawon dan jeprat-jepret :*.

Dangke Goreng


Cukup iris tipis Dangke, lalu goreng seperti goreng tahu. Ga pake bumbu apa-apa udah gurih. Beberapa menyarankan untuk dipotong bentuk stik seukuran jari lalu digoreng (jadi bayangin kayak French fries ya). Ini saya ngiris Dangke teralu tebal karena takut hancur waktu digoreng, eh ternyata utuh kok, jadi diiris lebih tipispun ga akan mudah hancur. Menurut penuturan orang Sulawesi, Dangke biasa digoreng atau dipanggang (dengan olesan mentega) untuk kemudian dicocol sambal.


Dangke Pan Pizza


Saya suka banget dengan adonan Pizza dari Seriouseats ini. Dengan fermentasi semalaman dan kadar air yang tinggi, membuat interior pizza berlubang-lubang besar, sehingga saus lebih meresap. Selain itu dalamnya empuk tapi permukaan luar dan bawahnya garing renyah, asik kan? Tapi kalo kamu sudah punya resep pizza andalan, sok atuh. Ini saya Cuma tambah Keju Dangke aja sebagai toppingnya, dan kejutaaaan, enak juga loh! Keju Dangke yang cenderung gurih-hambar, bisa masuk tuh dimakan bareng saus Bolognese.

Dangke Pan Pizza
Bahan:
400 gr tepung protein tinggi
10 gr garam
4 gr ragi instan
275 gr air
8 gr minyak zaitun
Saus Bolognese
Mozarella
Topping sesuai selera (saya pake smoked beef dan Dangke)

Cara membuat:
Campur tepung, garam, ragi, air dan minyak di wadah yang besar. Aduk rata dengan sendok kayu.
Tutup dengan plastic wrap, istirahatkan di suhu ruang 8-24 jam. Adonan akan mengembang tinggi.
Basahi tangan dengan minyak, ambil adonan, bagi 2 lalu bulatkan.
Tuang 1-2 sdm minyak zaitun di dasar skillet ukuran diameter 20cm (saya pake skillet dan Loyang biasa). Letakkan adonan di skillet (dan Loyang), lalu tekan-tekan perlahan hingga pipih dan memenuhi dasar skillet (ga perlu ngotor ngelebarin, tar adoannnya melebar sendiri kok), istirahatkan 2 jam.
Panaskan oven 250 C selama minimal 15 menit.
Angkat pinggir adonan pizza dengan jari, lalu tekan hingga mengisi setiap sudut skillet dan  gelembung udaranya keluar.
Olesi permukaan dnegan saus Bolognese, keju mozzarella, smoked beef dan keju Dangke. Kecruti minyak zaitun.
Panggang hingga matang dan dasar pizza kecoklatan garing, sekitar 12-15 menit.
Angkat dari skillet, potong-potong, sajikan.
Pssst, karena ga punya daun Basil, saya pake daun Sirih Bumi buat garnish pizza :D

Paprika Panggang Isi Dangke



Bermula dari mbak Ayu yang berkomentar bahwa Dangke sepertinya mirip Paneer, guglinglah saya tentang Paneer ini. Dan ternyata benar, Dangke dan Paneer sepupuan loh, sama-sama dari susu sapi/kerbau yang diolah secara tradisional. Karena penasaran, saya coba mengkreasikan Dangke menjadi isian Paprika, seperti umumnya masakan India yang menggunakan Paneer. Rasanya? Enak!

Bahan:
½ buah bawang Bombay, cincang kasar
1 siung bawang putih, cincang
3 buah paprika ukuran sedang, potong horizontal atasnya, lalu keruk bijinya sehingga menyerupai mangkuk dengan tutup
1 bongkah keju Dangke, hancurkan dengan garpu
1 sdm bumbu kare (atau 1/2 sdm bubuk kari)
1 tomat, potong dadu
3 bunga bawang, iris tipis (boleh diganti daun bawang)
Gula, garam, merica
Minyak goreng

Cara membuat:
Panaskan oven 180 C.
Panaskan 2 sdm minyak goreng, tumis bawang Bombay dan bawang putih hingga harum.
Masukkan bumbu kare, tumis hingga wangi.
Masukkan keju Dangke, aduh-aduk hingga bumbu merasuk.
Terakhir masukkan tomat dan bunga bawang, gula garam merica, aduk rata. Tes rasa.
Isi paprika dengan tumisan Dangke hingga penuh, lalu letakkan di Loyang. Panggang hingga paprika lembut, sekitar 20-25 menit.
Angkat, sajikan hangat dengan acar timun.



Saturday, April 22, 2017

Tumisan Sayur Indonesia Banget


Saya suka jalan-jalan ke supermarket besar seperti Loka, terutama untuk mampir ke bagian sayur dan buah. Di sana, bisa puas-puasin mata memandang warna-warni buah-buahan dan sayuran (impor) yang menawan hati (tapi bikin hati tersayat pilu). Cukup membayangkan saja bikin blueberry muffin (karena harga blueberry 200 gr seratus ribu lebih), atau mata yang berbinar-binar saat pertama kalinya melihat Alfalfa Sprout, micro vegetables yang imutnya keterlaluan, yang biasanya nampang di majalah-majalah foodie sebagai campuran salad. Lalu binar di mata itu perlahan pudar saat mengintip harganya yang 30 ribu rupiah untuk sekotak kecil Alfalfa. Errrrr….

Sakit hati!

Itu yang saya rasakan. Sakit hati karena ga semudah itu beli sayur/buah impor (faktor dompet) dan karena keIndonesiaan saya yang (akhirnya) terusik (faktor identitas kebangsaan). Dan saat berjalan ke lorong pasar tradisional, tanpa sengaja menemukan seorang mbah-mbah penjual sayur. Tapi bukan sayur biasa seperti bayam, kangkung atau sawi. Sayuran yang beliau jual adalah sayuran yang mulai langka yang jarang sekali ada di pasaran, seperti kecipir, bunga pepaya, daun beluntas, daun ketela, sinom (daun pohon asem jawa), jantung pisang, pokak (rimbang), hingga kadang ada semanggi, daun kelor hingga daun katuk. Menemukan mbah-mbah tersebut merupakan tamparan tersendiri. Betapa selama ini saya memuja sayur/buah asing karena penampakannya yang unch unch waktu dipotrek, tapi meleng dari harta karun negeri kita yang sangat jarang terabadikan secara genah, baik dan cantik oleh kita-kita sendiri.

Maka di sinilah saya sekarang. Mencoba merekam secuil keindahan Indonesia. Tak muluk-muluklah impian saya, cuma buat belajar mencintai apa yang tumbuh di tanah kita, mengolahnya dengan sepenuh hati dan membiasakan mengkonsumsinya bersama keluarga. Ibu adalah madrasah terbaik untuk buah hatinya kan, dan kurikulum makanan untuk sekolah di keluarga kecil saya adalah memperkenalkan sedini mungkin aneka makanan/masakan/minuman tradisional Indonesia. Go Local!!!


Tumis Bunga Bawang



sumber: Anitajoyo

Bahan:
1 kotak tahu, potong dadu, goreng 
1 ikat bunga bawang, cuci, potong 2 cm 
1 ons udang, buang kepala dan kulit, sisakan ekornya 
6 bawang merah, rajang tipis 4 bawang putih, rajang tipis 
5 cabe rawit, iris jadi 2
3 sdm kecap manis 
100 ml air matang gula, garam, merica


Cara membuat: 
Tumis duo bawang hingga wangi, masukkan cabe rawit dan udang. Tumis lagi hingga udang berubah warna. 
Tuang kecap manis, tunggu sebentar hingga kecap mendidih terkaramelisasi, masukkan tahu goreng dan bunga bawang. 
Tuang air, tambah gula, garam, merica. 
Masak hingga bumbu meresap dan air habis.


Tumis Pokak Teri



Sumber: Anitajoyo

Bahan:
250 gr pokak, petiki, cuci bersih
100 gr teri, gorenggula, garam

Bumbu halus:
8 bawang merah
6 bawang putih
2 cabe merah besar (tambahan dr saya)
10 cabe rawit
4 butir kemiri bakar

Cara membuat:
Rebus pokak hingga agak empuk (sekitar 7 menit), tiriskan, sisihkan.
Tumis bumbu halus hingga wangi, tambahkan sedikit air. 
Masukkan pokak, gula, garam; masak hingga air menyusut, minyak keluar dan bumbu merasuk.
Sesaat sebelum diangkat masukkan teri, aduk rata. 
Sajikan dengan nasi panas ngepul



Tumis Bunga Pepaya 



Bahan:
500 gr bunga pepaya, petiki, buang batangnya, cuci bersih, tiriskan
1 sdt asam jawa
1 ons udang, kuliti, sisakan ekor
8 bawang merah, rajang tipis
4 bawang putih, rajang tipis1 ruas lengkuas, geprek
10 cabe rawit
2 cabe merah besar
gula, garam, merica

Cara membuat:
Rebus air di panci bersama asam jawa, masukkan bunga pepaya. 
Masak 5 menit, angkat, saring, sisihkan.
Tumis duo bawang dan lengkuas hingga harum.
Masukkan cabe merah besar, cabe rawit dan udang. Masak hingga udang berubah warna.
Masukkan bunga pepaya, gula, garam, merica. Aduk rata hingga bumbu meresap.


Tumis Kulit Melinjo



Bahan:
300 gr kulit melinjo, iris tipis
1 papan pete, kupas
5 siung bawang putih, geprek
1 butir bawang merah, rajang
10 cabe rawit, iris
1 lembar daun salam
1 ruas lengkuas, geprek
Gula, garam, merica50 ml air matang

Teri goreng


Cara membuat:
Tumis duo bawang, lengkuas, cabe rawit dan daun salam hingga wangi. 
Masukkan kulit melinjo, aduk sebentar, tuang air.
Tambahkan gula, garam, merica, masak hingga air berkurang. 
Masukkan pete, aduk-aduk hingga air menyusut. 
Taburi teri goreng, aduk rata, sajikan

Friday, April 21, 2017

Terong Belanda


Indonesia itu kayaaaaaaaa banget!! Salah satunya soal hasil bumi yang tumbuh dan berkembang di negeri kita tercinta ini. Pernah dengan Terong Belanda? Buah bernama Latin Solanum Betaceum ini berasal dari Amerika Selatan hingga kemudian dibawa penjelajah laut ratusan tahun lalu hingga sampai dan dibudidayakan di Indonesia. Buah yang berwarna oranye kemerahan saat telah matang ini memiliki rasa manis-masam-getir, seger deh pokoknya. Di negara asalnya, Terong Belanda biasa dimanfaatkan sebagai minuman. Tapiii, kreatifnya orang Indonesia, Terong Belanda ga cuma dijadikan minuman aja loh. Salah satu olahan Terong Belanda yang bikin ternganga karena saking mengejutkannya sekaligus saking enaknya waktu udah dirasain adalah Cecah Angur, sambal khas Gayo, Aceh.

Mau tahu olahan apa aja yang bisa dibikin dari Terong Belanda? Yuk kita Kemon…

1.       Martabe



Martabe adalah singkatan dari Markisa – Terong Belanda. Dua jenis buah tropis eksotis ini dijus jadi satu, menghasilkan cairan kental dengan rasa asam manis. Kedua buah dengan rasa yang sama-sama kuat ini berpadu sempurna dan menghasilkan rasa baru yang ga kalah enak. Jus Martabe merupakan minuman yang sangat populer di Medan, Sumatera Utara.

Bahan:
3 terong belanda
200 ml air
Es batu secukupnya
Sirup markisa

Cara membuat:
Masukkan terong belanda ke dalam tabung blender bersama air, haluskan. Tuang ke dalam gelas, tambahkan es batu dan sirup markisa.


2.       Sirup Rempah Terong Belanda


Gimana ya rasanya kalo Terong Belanda ketemu rempah-rempah nusantara? Ga nyangka loh kalo rasanya jadi makin eksotis. Resep ini terinspirasi dari buku Craft of Baking yang berisi resep Roasted, Poached and Compote.

Bahan:
10 buah terong belanda
400 gr gula pasir
400 ml air
1 batang kayu manis
5 buah kapulaga hijau
2 buah bunga pala kering

Cara membuat:
Belah melintang kulit terong belanda, masukkan ke dalam panic bersama dengan semua bahan.
Masak hingga gula larut, air mulai menyusut dan daging terong belanda lembut.
Ambil 8 terong belanda, dua sisanya hancurkan dengan cara menggerusnya dengan sendok sayur, Masak lagi hingga air terserap dan menjadi sirup kental.
Matika api, saring.
Ambil rempah-rempah yang sidaring, masukkan kembali ke dalam sirup bersama ke-8 terongbelanda yang masih utuh.
Dinginkan, simpan dalam wadah kedap udara yang telah disteril.

3.       Selai Terong Belanda


Salah satu cara mengawetkan buah ya dengan jalan ini: dibikin selai!

Bahan:
500 gr terong belanda, kupas, potong-potong
200 gr gula pasir
100 ml air

Cara membuat:
Campur smeua bahan di panic, masak dengan api kecil hingga mengental dan daging terong belanda lembut dan sebagian hancur.
Dinginkan, simpan di dalam jar bersih.

Selai Terong Belanda di atas, bisa banget dibuat olesan pancake atau kayak ini: buat isian donat. Enyak! Resep donatnya bisa pake apa aja ya, di sini saya pakai resep KSB.

Tamarillo Jam Filled Donut


Bahan:
260 gr tepung terigu protein tinggi
30 gr gula pasir
3 gr ragi instan
1 butir telur yang ditambah susu cair hingga beranya jadi 160-180 gr
30 gr mentega
Garam

Cara membuat:
Campur tepung, gula pasir dan ragi instan di dalam wadah.
Tuang campuran susu dan telur, uleni hingga kalis.
Tambahkan butter dan garam, uleni lagi hingga kalis elastis.
Giling adonan seteal 5 mm atau sesuai ketebalan yang diinginkan.
Potong bentuk bulat memakai ring cutter diameter 7 cm.
Istirahatkan adonan sampai dua kali mengembang.
Panaskan minyak baru di wajan cekung dengan api kecil-sedang.
Goring donat hingga berwarna keemasa.
Dinginkan, isi selai terong belanda lalu taburi gula donat.

Besoknya, donatnya masih sisa nih. Tinggal diangetin dengan cara dipres pake waffle maker, tabur gula bubuk dan selai Terong Belanda, aduhhh ngeces deh :P


4.       Cecah Angur


Ini dia sambal unik khas Gayo Aceh. Terong Belanda disini difungsikan seperti tomat, jadi ga pake tomat lagi ya. Asem segernya terong belanda dengan pedasnya sambal bikin selera nambah deh, beda banget dengan sambal terasi yang pakai tomat. Rasa dan aroma Cecah Angur lebih intens dan yang pasti, menyelerakan bah!

Bahan:
1 cabe merah besar, buang biji, potong
10 cabe rawit merah
1 sdt terasi bakar
½ sdt gula pasir
¼ sdt garam
½ jeruk limau
1 terongbelanda, belah 4

Cara membuat:
Goring sebentar cabe-cabean, campur semua bahan kecuali jeruk limau di cobek batu, uleg kasar sampai tercampur rata. Terakhir, kucuri jeruk limau sebelum dihidangkan.

Paling cucok disajikan dengan ikan bakar, lalapan dan nasi panas ngepul, hmmmm…

Saturday, December 3, 2016

Mimpi dan Roti


Akhir 2004.

Pertanyaan itu menggelayut di benak sekian lama. Pertanyaan yang terlontar dari mulut Pemimpin Umum Organisasi Pers Mahasiswa itu, “apabila kamu dihadapkan pada situasi: melihat seseorang meregang nyawa sedangkan di badanmu tergantung kamera; apakah yang akan kamu lakukan? Menolongnya atau memotretnya?”.

Pada saat itu, tahun 2004 saat instagram dan aneka media sosial yang menjadi wadah eksistensi manusia belum hadir dalam ruang-ruang komunikasi kita; pada saat hanya ponsel super mahal yang memiliki kamera dengan resolusi kurang dari 1 MB, pertanyaan akan etika versus seni tersebut menjadi bahan renungan yang dalam. Barangkali bila pertanyaan tersebut terlontar saat ini, di saat kita semua memiliki ponsel berkamera, tentu saja, memotret orang meregang nyawa (sekaligus numpang selfie di sebelahnya) adalah hal yang biasa (dan malah bikin popular) (note the sarcasm in my sentence ya).

Tapi bukan tentang pertanyaan itu yang hendak saya ulas di celotehan kali ini. Tapi tentang James Nachtwey.

Beliau adalah fotografer perang yang karya-karyanya banyak mengisi sampul majalah Time di tahun 80-90an. Apa hubungan Tuan Nachtwey dengan paragraph pertama? Pertanyaan retoris di atas adalah pertanyaan yang dilempar, dan dijawab sendiri oleh Nacthwey berdasar pengalamannya. Kala itu tahun 1998 saat reformasi tengah bergulir. Beliau berada di Ketapang Jakarta dan menyaksikan dengan mata kepala bagaimana perang berbasis SARA begitu mudahnya mencabut nyawa seseorang. Di hadapannya ada seorang Ambon yang berlari dikejar segerombolan orang bersenjata tajam. Sebagai orang “luar” yang “netral”, beliau mencoba menghentikan tindak pembunuhan tersebut. Hingga dua kali beliau memohon, tapi massa tak menghiraukannya. Dan kita tahu pada akhirnya. Nachtwey menangkap momen pembunuhan tersebut melalui lubang kameranya. Dia gagal menolong orang tersebut, namun batinnya, dengan memotret dan mengabarkannya pada dunia barangkali mampu menolong jutaan orang lain agar tidak terjerembab pada akhir tragis yang sama: korban konflik. Nachtwey yang membekukan masa perang dan terror seolah selalu mengingatkan kita akan masa lalu. Bahwa udara yang kita hirup detik ini tak pernah lepas dari pengorbanan dan darah jutaan manusia yang namanya tak tercantum dalam teks pelajaran sejarah.

James Nachtwey adalah sosok pertama yang membuat saya jatuh cinta pada fotografi. Dan Afrika. Dan studi tentang perdamaian dan perang. Karenanyalah pada masa itu saya bercita-cita menjadi aktivis perdamain di perbatasan Kenya. Ya ya ya, kalian semua boleh ngakak menertawakan saya yang ga bisa berenang dan takut kucing ini; tapi setiap orang, entah apapun statusnya, entah siapapun dia kini, tak pernah terlarang baginya untuk memiliki mimpi kan?

Seorang kawan yang dengannyalah saya berbagi mimpi (yang kebetulan pada saat itu mimpi kami tak jauh berbeda), saat ini sedang menapaki mimpinya. Ia melanjutkan studi ke jenjang tertinggi, berkeliling dunia, berdiskusi dengan profesor-profesor yang dulu namanya hanya sempat kami eja di buku diktat kuliah, menulis di media besar nasional bahkan jurnal internasional. Tapakan impian yang dulu kami idamkan, sedang dijalaninya saat ini. Sedangkan saya?

Saat saya mengetik curhatan ini waktu menunjukkan pukul sebelas malam, anak-anak telah terlelap setelah seharian tadi si bocah tak henti-hentinya menggoda saya, dari mencampuri sesi pemotretan, menabur bedak di karpet dan menganggapnya badai salju hingga menangis meraung-raung minta ke supermarket di jam 9 malam. Setelah si bayi yang tak bisa saya tinggal itu, yang bahkan harus saya gendong dan susui saat saya sedang mencuci piring, memasak hingga memotret itu, habis diperiksa dokter dan ternyata menderita tongue tie yang membuat berat badannya susah naik. Saya yang saat ini dengan badan linu semua, berdaster, dengan koyo menempel dari pundak sampai lutut, lupa kapan terakhir kali menyisir rambut, selama 24 jam setiap harinya disibukkan dengan aktivitas domestik dari setrikaan segunung sampai rencana tamasya anak TK.

Merenungi bagaimana semua ini berawal – mimpi – dan bagaimana saat ini (belum akhir) – realita – membuat saya tertawa. Bahwa ternyata, suratan takdir begitu sulit diterka. Bagi orang lain, katakanlah teman saya di atas, kebahagiaannya adalah menyusuri jalur sunyi menjadi seorang akademisi. Dan segigih apapun saya dulu mengejar mimpi menjadi aktivis perdamaian di Kenya bertahun lalu, ternyata saya bahagia dengan hidup saya yang sekarang. Yang setiap harinya juggling mengurus kegiatan rumah tangga sambil menyelipkan hobi di sela-selanya. Dan ternyata lagi, meskipun melenceng dari cita-cita mulia sebagai penjaga perdamaian dunia, saya sedang menjalani mimpi saya saat ini: seorang ibu rumah tangga yang memegang kamera. Meski yang saya abadikan bukan wajah keberingasan perang; namun hasil karya manusia yang mampu membuat mulut beringas untuk segera melahapnya: food photography.

Dengan demikian, meski kita berbeda aliran, saya ucapkan terima kasih kepada Pak James Nachtwey yang pernah memercik mimpi saya J

Back to the purpose of this blog: recipe and food photography. September lalu dapat kiriman ragi organic kering dari mbakyu @tarivc, seorang kawan instagram asal wrongthree yang kini tinggal di negeri Napoleon. Seneeeeng banget! Secara ya, selama ini udah bikin ragi alami 3 kali lebih dan selalu gagal dong :D

Jadi berbekal dried sourdough tersebut, hampir semingguan saya ngebut bikin roti (yang 2 resepnya dari beliau semua), berkejaran dengan hari perkiraan lahir si bayi. Ada 3 macam roti yang saya bikin, so siap-siap ngantuk baca resep panjang kali lebar ya.

1.     Pain au Levain Fermentescible
500 gr tepung protein tinggi
20-21 gr sourdough kering (11gr bila pake ragi instan)
13 gr garam
340 ml air matang

Cara membuat:
Campur bahan kering di wadah. Tuang air sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga rata dan kalis (saya ga sampe elastis).
Tutup, istirahatkan selama 2jam di suhu ruang.
Tinju adonan hingga kempes, uleni sebentar, bentuk bola, taruh di loyang, tutup serbet basah, istirahatkan lagi 1jam.
15 menit sebelum dipanggang, panaskan oven suhu 250C.
 
Tuang air panas di loyang kue, lalu masukkan loyang berisi air panas tsb ke dasar oven (metode steam bake/au bain marie). Gurat permukaan roti dg pisau tajam lalu panggang selama 30 menit atau sampai permukaan roti kecoklatan.
Keluarkan dari oven, tempatkan di rak kawat hingga dingin.
Hirup aromanya saat mengiris, nikmati kebahagiaan bikin roti homemade utk keluarga

2.     No Knead Baguette

450 gr tepung
315 ml air
9 gr garam
1/2 sdt dried sourdough

Cara membuat:
Campur bahan kering di wadah bersih, tuang air sambil diaduk dg sendok kayu sampai rata. Adonan akan lengket. Tutup dg plastik, istirahatkan di suhu ruang temp 20C selama 12-18 jam (saya: simpan di kulkas rak bawah selama 20jam).
Adonan roti telah siap bila sudah mengembang dan muncul gelembung2 udara.
Taburi tepung secukupnya di meja kerja, ambil adonan dan uleni sebentar (taburi tepung sedikit demi sedikit bila adonan sangat lengket). Bagi adonan, bentuk panjang, letakkan di loyang (saya bagi 3 tak sama rata). Tutup dg serbet, istirahatkan 2jam. Saat sudah mengembang, dg pisau tajam, gurat permukaan baguette.

Panaskan oven suhu 250C. Dg metode steam bake, panggang baguette selama kurleb 30m atau sampai kecoklatan.
Angkat, dinginkan di rak kawat.
Siap dinikmati gitu aja dg olesan butter atau diolah jadi baguette sandwich, garlic bread, bruschetta dsb


3.     Brioche Au Levain Fermentescible

500 gr tepung protein tinggi
2 butir telur
220-250 ml susu
50 gr gula pasir
12 gr garam (1 sdt)
20 gr dried sourdough (atau 11 gr ragi instan)
100 gr mentega

Cara membuat:
Campur telur, gula, garam dan susu di wadah. Tuang tepung dan dried sourdough. Uleni hingga kalis.
Masukkan mentega, uleni lagi hingga elastis. Adonan akan sedikit lembek, ga perlu ditambah tepung yes.
Tutup dg handuk basah, istirahatkan selama 30 menit.
Tinju adonan, uleni sebentar lalu bentuk sesuai selera. Istirahatkan lagi selama 30-45 menit.
Nyalakan oven suhu 200C selama 15m. Olesi permukaan roti dg kuning telur lalu panggang 30m atau hingga bau harum menguar dari oven dan warna roti keemasan.
Keluarkan dr oven, panas2 olesi mentega. Siap dinikmati

Thursday, September 8, 2016

Mi Buah Bit




Tidak ada yang instan di dunia ini, sayang. Bahkan untuk membuat mi instan, kita masih harus merebus air terlebih dahulu. Jadi bisa dibayangkan berapa lama proses yang dibutuhkan membuat mi sendiri lalu memasak dan menghidangkannya di meja berupa Mi Ayam seperti yang dijual abang-abang gerobak pinggir jalan?

Tapi perlu kau ketahui sayang, bahwa pengalaman 3 jam menguleni, menggiling, mencacah daging ayam, menumisnya, membuat kaldu bening berminyak hingga menggoreng pangsit garing (yang untungnya pangsit boleh beli) hingga membuat acarnya; semuanya sepadan dengan senyuman dan kepuasan menghadirkan masakan rumahan untuk keluargamu. Makanan instan memang murah, gampang dan yeahhhh enak. Tapi kita sepakat tak ada yang bisa mengalahkan masakan ibu yang penuh cinta kasih kan?

Sedikit memodifikasi dari resep mi milik blogger keceh IsnaSutanto dengan menambahkan sesendok makan tepung tapioca  ke dalam adonan, mi buah bit terasa sedikit lebih kenyal, meski harus diakui tidak sekenyal mi-mi yang beli di pasar (yang entahlah, kita tak tahu pasti bahan pembuatnya). Sedangkan saat mengolahnya jadi Mi Ayam, saya gunakan resep milik busutilmenari @Anitajoyo, a very best friend who happen to be my inspiration whenever I run out of idea what to cook.

Sebagai catatan, bila membuat jus buah bit sebaiknya airnya sedikiiit saja, asal bisa dibuat blender buah bit. Jus buah bit milik saya terlalu encer, sehingga ketika dicampur di dalam adonan mi warnanya terlalu muda. Masih mentah sih bagus, nge-pink gitu. Tapi waktu udah dimasak, lhaa kok jadi kekuningan pucat :D

Berikut resepnya saya tulis lagi buat menuh-menuhin blog hahahaha.


Mi Buah Bit

500 gr tepung terigu protein tinggi
1 sdm tepung sagu tapioca (bisa pake tepung sagu atau tapioka/kanji)
1 sdt garam
3 butir telur
100 ml jus buah bit hasil dari memblender 2 buah bit + air segelas kecil, saring, ambil 100 ml
Tepung sagu untuk taburan

Cara membuat:
Campur tepung terigu, tepung sagu dan garam di wadah, aduk rata.
Masukkan telur, aduk-aduk dengan tangan sambil menuang jus buah bit sedikit demi sedikit.
Uleni hingga rata. Bila terlalu kering, tambah just bit 1 sdm. Tesktur akhir adonan liat, tidak basah, tercampur sempurna.
Siapkan pasta maker, bagi adonan @100 gr. Giling dengan pasta maker dari nomor terkecil hingga ketebalan sesuai selera (saya berhenti di nomor 7). Sesekali taburi tepung sagu agar tidak lengket.
Pasang pemotong mi, potong adonan sesuai selera.
Gulung, taruh di dalam plastic lalu masukkan ke wadah kedap udara. Tahan di kulkas selama 5-7 hari.


Mi Ayam Gerobak

Bahan:
3 gulung mi
Sayur sawi, potong-potong
Seledri, daun bawang dan bawang goreng untuk taburan

Taburan ayam
200 gr fillet ayam, potong dadu
2 siung bawang putih, cincang halus
1 sdm kecap manis
½ sdm saus tiram
½ sdt kecap asin
Gula, garam, merica secukupnya
Aduk rata semua bahan, simpan di kulkas 60 menit. Panaskan sedikit minyak, tumis ayam hingga matang.

Kuah: rebus dengan api keciiiil
Tulang ayam
½ liter air matang
2 siung bawang putih, geprek
1 cm jahe, geprek

Minyak bawang: tumis dengan api kecil hingga harum dan kulit ayam dan bawang kering
75 ml minyak sayur
4 siung bawang putih, geprek
Kulit ayam

Acar timun: Campur semua bahan hingga gula dan garam larut, simpan di wadah kedap udara, tahan hingga 2 minggu di kulkas
Timun, iris korek api
Wortel, iris korek api (saya skip)
Cabe rawit hijau, buang tangkainya
Gula dan garam
Cuka masak
Air sedikit

Pake resep yang sama, tapi mi buah bitnya beli jadi merk Javara

Cara mengolah untuk 1 porsi mi, aduk rata di mangkuk:
1 sdm minyak bawang
1 sdt kecap asin
½ sdt kecap ikan
1 sdt kecap manis
¼ sdt minyak wijen
Merica

Rebus mi dan sawi, masukkan ke dalam mangkok berbumbu, aduk rata.
Taburi dengan taburan ayam, daun bawang, seledri dan bawang goreng.
Sajikan bersama semangkok kuah panas, acar timun serta pangsit goreng.