Sunday, May 18, 2014

Sate Lilit Bali

aaaaghhh gosong @#$&^%$#!!!
Kalo disuruh memilih antara memasak makanan sehari-hari atau bikin kue, jelas saya pilih opsi kedua. Bikin kue itu meski ga gampang, tapi bisa dilakukan banyak improvisasi baik sebelum maupun setelah ngoven. Ga ada yogurt duganti susu. Ga ada brown sugar bisa diganti gula palem. Pun kalau masih gagal setelah dioven, masih bisa disulap jadi chocolate ball.

Sebaliknya, masakan sehari-hari, terutama masakan Indonesia yang kaya dengan rempah, meski bisa dimodifikasi, tapi kalo hasil jadinya ga enak ya tetep aja ga enak, ga bisa diapa-apain. Udah bikinnya susah, ribet, bahannya banyak, bikin bau seluruh ruangan, eh gagal lagi. Ampun deh. Oleh karena itu, saya jarang masak masakan aseli Indonesia. Mau rawon, opor, gudeg, kare, mending beli deh. Udah jaminan rasa.

Tapi saat daging tenggiri tanpa duri teronggok 4 hari di kulkas dan memohon untuk dimasak, saat empon-empon yang lengkap telah tersedia dan siap dimanfaatkan, saat aneka bawang merah, bawang putih, cabe merah dan cabe rawit menunggu dieksekusi, saat Kian begitu anteng nonton film Cars untuk yang kesekian juta kalinya, saat semesta mendukung kesemua bahan itu untuk berkumpul pada satu waktu yang saya tak tahu alasannya, saat itulah saya menemukan resep ini.

Seolah saya ditakdirkan untuk memasak sate lilit bali dan sambal matah.

Dan ternyata rasanya. Ya ampun. Enak. Pake. Banget.

Sate Lilit Bali 
By Hesti HH from Cooking Tackle 

Bahan:
250 gr daging ikan tenggiri cincang (aselinya 300gr)
20 batang serai, buang kulit bagian luar
50 gr kelapa parut
1 batang serai, geprek
2 lembar daun salam
3 lembar daun jeruk purut, sobek
3 sdm minyak untuk menumis bumbu

aduh telenan bapuk dipamerin :p

Bumbu Halus:
2 buah cabe merah besar
5 butir bawang merah
3 siung bawang putih
1 butir kemiri
1 cm kunyit
1 cm kencur
1 ruas lengkuas
1/3 sdt terasi
3 lembar daun jejruk purut, iris halus
1 sdt garam
1 sdt gula merah



Cara Membuat:
1. Panaskan minyak, tumis bumbu halus, daun salam, daun jeruk dan serai hingga wangi. Angkat. Dinginkan.


2. Dalam wadah, campur ikan, kelapa parut dan bumbu halus, aduk rata


3. Siapkan batang serai, ambil segumpal adonan dan kepalkan ke permukaan serai membentuk sate pentul. Letakkan dalam wadah yang dioles sedikit minyak. Selesaikan sampai adonan habis.


4. Panaskan wajan anti lengket. Panggang ikan sambil dioles sedikit minyak sampai matang sekitar 5 menit masing masing sisi. Usahakan tidak telalu lama memanggang supaya sate tidak kering.

serainya ga cukup, sebagian pake tusuk sate :D

5. Angkat. Siap disajikan dengan sambal matah.



Terang Bulan aka Martabak Manis aka Sweet Thick Indonesian Pancake

Saya suka kue Terang Bulan. Yang tebal dan bersarang tinggi, yang legit karena banyak mengandung butter, yang penuh isian meses dan keju parut, yang semakin nikmeh saat dimakan dingin dari kulkas. Errrr dimakan dingin? Bukannya martabak manis paling enak dimakan panas-panas ya? Iya emang, tapi ketika sudah dingin, apalagi kalo sudah nginep semalam di kulkas, kamu bisa tahu sebagus apa kualitas martabak manismu. Kalo masih enak, wah berarti itu martabak manis memang juwariyahhh.

tuh lihat seratnya 

Sejak mas belahan jiwa mulai agak ketat menerapkan food combining yang berarti mengkonsumsi sesedikit mungkin olahan tepung (roti, cake, mi, dsb), saya sudah sangat jarang sekali bahkan sudah tidak pernah dibawain terang bulan. Maka atas dasar tekad bulat ingin memuaskan diri sendiri, siang itu saya mantap membeli cetakan besi terang bulan ukuran 20 cm seharga 135ribu. Dan cetakannya beraaaaat.

Sampai rumah, dan tiga hari berikutnya, saya bikin 5 martabak manis dengan resep yang berbeda. Dari yang pake ragi, ga pake ragi, pake lelehan margarine, yang cuma pakai kuning telur, pakai kuning dan putih telur, semua dicobain. Dan dari kelima itu, masih belum ada yang sempurna sih menurut saya. Entah resepnya yang kurang atau emang saya yang kelewatan sesuatu. Tapi dari kelima itu, satu resep ini yang paling memuaskan.

Terang bulan

Bahan:
250 gr tepung terigu protein sedang
½ sdt baking powder
75 gr gula pasir
1 butir kuning telur (dan bisa ditambah pewarna kuning telur agar warnanya cerah kyk yg dijual abang2 pinggir jalan)
¼ sdt vanili bubuk
¼ sdt ggaram
375 cc air (susu UHT plain)

Bahan Taburan per Loyang:
¼ sdt baking powder
¼ sdt baking soda

Cara Membuat:
1.      Ayak tepung terigu dan baking powder, masukkan gula pasir, tambahkan kuning telur, vanili dan garam
2.      Tuang air ke dalam adonan, aduk dengan whisk sampai lembut dan tidak ada gerindil. Bila masih ada gerindil, saring. Diamkan 1 jam, adonan siap digunakan. Pada langkah ini, biasanya saya tambahkan mentega cair sekitar 2 sdm atau lebih bila ingin hasil yang lebih berminyak.
3.      Panaskan Loyang dengan api kecil hingga panas betul. Untuk mengetahui apakah Loyang sudah cukup panas, tetesi Loyang dengan adonan, bila terdengar bunyi mendesis, artinya Loyang siap digunakan
4.      Bagi 2 adonan (untuk ukuran loyang 20-22 cm), tambahkan ¼ sdt baking powder dan ¼ baking soda, aduk rata, lalu tuang ke dalam Loyang. Tekan perlahan dengan dasar gelas dan arahkan ke sekiling pinggiran Loyang untuk mendapatkan pinggiran tipis yang renyah
5.      Biarkan adonan sampai mucul lubang-lubang kecil merata, tabur gula lalu tutup hingga matang. Angkat

ketika sudah mucul lubang-lubang di permukaan adonan seperti ini, baru boleh ditutup

6.      Oles terang bulan dengan mentega, tabur meses, keju parut, susu kental manis, anything! Potong 2 dan tumpuk, oles kulitnya dengan mentega, potong

throw anything you like! Sambel juga boleh!


7.      Enjoy! 


Carrot Cake

Waktu kecil dulu, saya termasuk ke dalam barisan pembenci wortel. Saya benci warnanya, rasanya, baunya, bentuknya, semuanya. Saya heran, Tuhan lagi mikir apa ya saat nyiptain wortel. Mungkin beliau sedang bercanda hingga menciptakan sayur aneh seperti wortel. Saya ingat, saya selalu membuang potongan wortel setiap kali saya menemukannya di dalam sup. Yaaah meski warnanya cukup membuat sup terlihat menarik, tapi bagi saya 25 tahun lalu, warna oranye tersebut justru mengingatkan saya bahwa Tuhan sedang terbahak-bahak setiap kali Ia melihat manusia mengunyah wortel. Dan bayangan bahwa Tuhan sedang terbahak-bahak itu menakutkan :| 

My crumbly yet moist carrot cake


Tapi sepertinya Tuhan memang sedang ingin bercanda dengan saya. Dibikinnya mata saya minus. Hingga ibuk saya memaksa untuk meminum jus wortel buatannya hampir setiap hari. Karena ibuk percaya bahwa wortel memiliki kandungan vitamin A yang sangat tinggi sehingga bisa menyembuhkan penyakit mata. Yang kemudian kelak saya ketahui bahwa cerita ini hanyalah mitos. Pemerintah Inggris di jaman Perang Dunia II bikin propaganda bahwa pilotnya yang selalu jitu mengembom Nazi Jerman selalu makan wortel setiap hari, padahal mereka punya persenjataan baru.

Jadi atas ijin Tuhan yang Maha Bercanda, pada akhirnya saya bisa makan wortel. Dari dibikin sup sampai wortel, meski awalnya saya selalu menutup hidung sedtiap kali meminum jus wortel, tapi lambat laun rasa langunya mulai membiasa di lidah.

Hingga suatu hari ketika sedang asyik berselancar di blog masakan, saya terperangkap pada blog Riana Ambarsari. Dan saya terpaku di laman tentang Carrot Cake. Keik Wortel. Ya ampun apa-apaan ini. Tidakkah cukup wortel dibikin jus atau sup saja, kenapa harus dibikin panganan manis kayak keik, pikir saya. Mungkin sebentar lagi orang-orang akan bikin keik ketumbar atau keik lengkuas. Corriander Cake. Namanya sih cukup bagus yak :D

Anyway, didorong rasa penasaran, saya akhirnya mencoba separuh resep tersebut. Dan tentu saja gagal. Karena ga punya timbangan. Karena telurnya masih dingin dari kulkas langsung dikocok sehingga ga ngembang. Karena oh karena banyak sekali. Dan kegagalan mengolah wortel membuat saya patah arang. Hingga saya menguburnya dalam-dalam dan berniat tidak akan mencobanya lagi.

Namun kemarin semuanya berubah. Saat melihat wortel impor di abang langganan sayur. Saat menyadari semua bahan-bahan tersedia. Saat melongok freezer dan menangkap sosok cheese cream yang entah berapa lama sudah ngendon di sana. Maka dengan bertekadkan baja, saya membuat carrot cake. Kali ini sudah dengan timbangan digital di tangan. Bahkan sudah dengan kamera poket untuk mengabadikan hasilnya.

Daaaaaaan (genderang ditabuh), rasanya awenaaaaaaak. Ga kerasa wortel. Ga bau langu. Perpaduan wortel dan kayumanis itu ternyata: surga.

Kalo lagi nganggur, yuk cobain yuk. Resep saya kopi plek dari sini ya

Bahan:
250 gr telur
300 gr gula pasir (cuma pakai 275gr)
2 gr garam
5 gr emulsifier
260 gr tepung segitiga biru (pakai kunci biru)
1 gr baking soda
1 gr baking powder
1 gr kayu manis bubuk
450 gr wortel parut halus
150 gr minyak (pake minyak goreng)

Cara membuat:
1. kocok telur, gula, garam hingga kental dengan kecepatan tinggi. masukkan emulsifier, kocok terus hinggan kental dan meninggalkan jejak
2. ayak bahan kering, kemudian masukkan ke dalam adonan dengan kecepatan rendah hingga tercampur rata
3. masukkan wortel parut, aduk rata
4. masukkan minyak perlahan ke dalam adonan hingga tercampur rata
5. tuang ke dalam loyang bundar 20-22 cm tinggi 5 cm yang telah dialasi kertas
6. panggang dengan suhu 180 derajat C selama 30-45 menit (lakukan tes tusuk)

Cream Cheese Frosting (nyontek di sini)
campur 70 gr whipped cream bubuk + 140 mil air es + 40 gr keju filling Kraft (saya pake cheese cream)

Kalo lihat foto di blog mbak Riana dan carrot cake punya saya memang beda ya. Aslinya sepertinya lebih padat, punya saya lebih beremah dan rapuh, ga bakal cocok untuk memapah aneka ria frosting dan hiasan macam-macam, apalagi kayak fondant. Kenapa lebih rapuh dan beremah, barangkali karena saya pake tepung protein rendah (kunci biru), sedangkan resepnya pakai protein sedang (segitiga biru). Dan satu lagi, warna carrot cake saya lebih menyala karena saya pakai wortel impor. #hidupimpor #tidakbanggapakaiproduklokal


Tapi gimanapun, meski teksturnya beremah dan warnanya lebih ngejreng, yang penting rasanya juwaraaaah \m/

Letter To My Bread

Hi Bread, my new lover. Have I told you that I love you?

I saw you first in the old shop’s rack, in late 1980ies when I was 4 years old. And since then I could never forget you. I mean, I still can’t eat and feel full stomach without eating rice; but you always comes first as my sweet nibble, my snack even my lunchbox.

A simple white bread sandwich with chocolate rice filling and margarine would always make me smile. And my smile will last until the end of the day if my mother grilled the sandwich until I can see the burnt slice in top and bottom of you.

If everybody raved for indomie as their holy angel to feed their hungry tummy, I would presumably choose you rather than indomie. Although indomie, well, I can hardly to resist. I mean, we all agree that indomie with chili bird eye and sawi and sunny side egg is the best combo so far, right? No matter they come with new varieties from sate to rendang to iga bakar, but still, the most delicious which win everyone’s heart is indomies goreng, the one and only.

But since my letter doesn’t address to indomie, so I would stop writing about indomie. And bring back the focus of attention to you.

My first homemade bread is when I was in college, off course. I never had any gut to step my feet into kitchen, as we all know for sure. And unfortunately, my first homemade bread turned into traumatic syndrome which always haunted me for years and double my paranoia to kitchen.

My first and biggest mistake is about your soul: yeast. I was wrongly bought yeast to make fermented cassava aka tape in bahasa Indonesia. And my second horrible mistake is, I poured the yeast with boiled water. So my dough never rose although I wait it for long hours, maybe million hours. I remember that until the next three day, my dough didn’t rise at all. There came fungi, a green fungis, instead. So I threw it away with full of tears and made promise to myself that I would only eat you, but not to make.

But then destiny calls. My never ending boredom as housewife forced me to step into the kitchen. And when I went to shop to food store, I found your instant soul (instant yeast). Hesitantly, I finally buy you. But I don’t remember how long you’ve been in my kitchen storage. Until I remember you, and I try once again. This time with long depth listening, reading and understanding about bread making. I read and remember all the instructions, the step by steps, and everything in between. And I remember, my first yeasty bread I made is pizza.

And guess what, believe it or not, my dough is finally rising, double in bulk. And although it result a heavy, hard, harsh bread (because overbaked), but it is edible. I mean, despite the unidentified flavor, I still could eat you by soak it in hot chocolate. And you feel so enormously delicious since what I taste is the rich chocolate milk.

Since then, I almost make bread every week. And always pizza. I mean, pizza is fool proof, rite? You can’t go wrong with flat bread topped with anything you like and find and have. Pizza become my addiction, and so is making you.

I don’t know, there’s something about you I can’t resist. Just like what Peter Reinhart said, maybe I like making you because I feel like I have a power, a tremendous one, to shape and change from dead ingredients (flour and yeast), feed it with sugar and water, let you rise to eat the sugar and create your gluten, then knead you once again and let you proof. To let you proof that you are alive: rise and double in bulk. And then the saddest yet happiest part which, eventually kill you yet turn you into edible food for our life: bread. Baker is like a God, that’s what Peter Reinhart said. And I nod, faithfully.

Maybe the biggest excitement I felt when I make you is in every part of making you. From measuring, mixing, kneading, proofing, resting, baking and off course, eating. I watch you rise in the room temperature for an hour, slow by slow. And watch you rise fastly in not more than 10 minutes when you are in the oven. I watch you, touch your texture, feel your bubble in your skin, and treat you like my lover. I feel amazing. And do feel relaxing every time I smack, slap, toss, punch and beat you. You are my boxing sack to punch. You are my enemy to beat. But you are also my idol to watch you rise.

I love you Bread. And though I sometimes still fail to treat you, sometimes too long to bake you, sometimes I do still make mistakes to make you, but trust me, my love for you will last till I find another excitement hobby, which I don’t know when.

And so is the reason I make a new blog to dedicate my yeast experiment to the readers who’s lost in their way when making bread. May this blog guide you to the right and the left way. Amen.

Sincerely,

Kiki