Saturday, December 26, 2015

Lemon Tart



I know that most of times I do look like a seriously smart badass *pasangkacamatahitam. I am preaching about the food photography theories, the highly developed recipes (which errrr mostly turn into horrible disaster foods), the feminism concept, or about the omnipresence and omnipotent of God. But today, this time, the most philosophical thought on my mind as a wellbeing is about Ed Sheeran *grin*

Think I’m in the puberty phase, again. Gosh, could it be because of the period I don’t know. I just fall for this cute ginger alive. Spending home alone when it was rain outside while listening his tracks again and again, and I helplessly couldn’t help myself to stop.

Forgot the draft about Andrew Scrivani’s speech on lighting and compositional basic which is really enlightened me in a very basis of FP understanding. Didn’t finish the draft about the use of flowers in FP either, while the pictures were already in pc about weeks ago. Have many kinds of chocolate and breads and jams and spreads and new old props which off course too photogenic to not photograph them. But instead of taking picture or reading the e- Donna Hay magazines, I spend my time effortlessy, lazily watched Teddy’s channel on Youtube.

Friday, December 25, 2015

Sapi Menek Pring


Sekitar tahun 1990-an, kuliner di kota Malang berpusat di daerah mall dan pertokoan paling ngehits kala itu, yakni Mitra, Gajahmada Plaza, Variety dan disusul Matahari yang berjajar di sekitar Jl KH Agus Salim sampai Jl Pasar Besar. Warung-warung yang saat ini dibilang legendaris berkumpul di daerah tersebut, seperti Warung Nguling, Warung Lama, Warung Brintik, Pangsit Hok Lay, Dragon Phoenix, Mie Gloria, sampai Warung Bu Yun. Yang terakhir disebut barangkali tak dikenal saat ini. Maklum Warung Bu Yun yang berjarak sekitar 2-3 toko dari Hok Lay di jl Kh Ahmad Dahlan sudah tutup bertahun lalu (terakhir kali berpindah ke daerah Kauman, dan sekarang kabarnya ada di dalam Pasar Besar).

Berbeda dari Warung Nguling yang terlihat modern dan lebih wah di tahun 1990-an, warung Bu Yun terbilang sangat sederhana. Menempati ruangan 3x6 meter dengan bangku kayu tua mengelilingi stall yang berisi aneka masakan Jawa, berdirilah Bu Yun bersama beberapa pegawainya yang sibuk melayani pembeli. Dapur ngebulnya ada di rumah belakang, tempat tungku besar berbahan bakar arang dan batok kelapa selalu mengepul.

Sejak pukul 6 pagi, deretan mobil dan sepeda motor sudah mengantri di depan warung sampai hampir sepanjang jalan Ahmad Dahlan. Belum waktunya makan siang, sudah dipastikan lebih dari separuh menu telah ludes. Iya, seramai dan seenak itu masakan di warung Bu Haji.

Ibu Yun sendiri, seorang wanita paruh baya dengan perawakan subur dan ngecepres. Suaranya melengking cemprang, tapi dari nadanya semua pelanggan tau bahwa beliau sangat ramah. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Apalagi saat ia menjawab pesanan pengunjung. Ada bahasa-bahasa khusus yang hanya dimengerti Bu Yun, pegawainya dan pelanggan setia. Lewat kode-kode unik tersebut, tanpa sadar pelanggan disuguhi pertunjukan serupa ludruk yang mbanyol.


Bagaimana tidak bikin ketawa, menyebut sate komoh, Bu Yun menggantinya dengan istilah Sapi Menek Pring atau dalam bahasa Indonesia Sapi Naik Bambu (sate komoh adalah potongan daging sapi yang dimasak bumbu merah, digeprek hingga agak tipis, ditusuk di tusukan bambu, kemudian dibakar). Atau menggunakan bahasa Walikan khas Malang, seperti Lecep untuk menyebut Pecel.

Entah sejak kapan pastinya warung Bu Yun berpindah ke daerah Kauman, tak jauh dari tempat asalnya. Namun di sana, meski dengan pertunjukan ludruk yang masih istimewa, bangunan lama dari kayu tak bisa tergantikan oleh angkuh beton yang menopang ruko. Ada yang hilang di situ. Seperti halnya surat elektronik yang menggantikan kertas surat. Meski isi pesan sama, media yang berbeda membuat rasa tak lagi serupa.

Tuesday, December 22, 2015

Chocolate Meringue Cake





It’s sometimes funny to see how people change. Lebih lucu lagi kalo yang berubah itu ternyata kita. Saya, maksudnya. Tujuh tahun lalu, tak akan terlintas sedetikpun di pikiran kalo saya di tengah malam seperti ini akan ngeblog setelah seharian bebersih dapur, ngasuh anak, masak dan segala pekerjaan domestik tak berkesudahan itu. Satu-satunya waktu sendiri adalah tengah malam seperti ini, saat semua kewajiban istri dan ibu usai, sebelum esok memulai hal yang sama. All over again.

Tujuh tahun lalu, ketika getol-getolnya mempelajari feminisme, menikah adalah the least thing on earth I imagined. Saya bahkan pernah berdebat dengan seorang sahabat betapa pernikahan adalah legalisasi hubungan seksual, in the name of religion and social construction. And love doesn’t need those legally binding formal institution. Tapi tentu saja, I sometimes feel that God loves me that much. And He’s surely has a very big sense of humor. Me, the one who opposed marriage idea years ago, diketemukanlah dengan my better half. The one who could make me laugh and cry in a second. And yes, I eat my words. Blatantly. Married at 26 right after I graduated. And I am living what I cursed years ago: Manak, Masak, Macak atau dalam seloroh kaum feminist title WIFE: Washing, Ironing, Fucking and Entertaining.

Pound Cake



Saya lupa kapan terakhir kali membaca novel sampai habis. Sepertinya bertahun lalu, pada novel Manjali dan Cakrabirawa. Atau pada The Unknown Errors of Our Lives. Entah saya tidak ingat. Beberapa novel yang mengisi daftar resolusi buku di 3 tahun terakhir pun belum juga saya selesaikan; seperti 1984, Anna Karenina, The God of Small Things, The Famished Road atau Cantik Itu Luka. Membaca pada masa seperti ini menjadi sebuah kemewahan. Bertahun lalu saat masih kuliah, Vagina Monologues atau Animal Farms bisa saya habiskan dalam satu malam. Namun saat ini, membaca satu bab buku terjemahan Paulo Coelho saja butuh perjuangan lebih.

Saya dulu, sering bertemu beberapa teman hanya untuk duduk diam bersama membaca buku masing-masing. Sesekali berseloroh tentang isi buku, lalu kembali tenggelam dalam kata. Diam yang karib. We are sailing in the different sea, but we are sailors. Saat pertemuan telah usai, di sepanjang jalan kami sibuk menceritakan pengalaman membaca masing-masing, hingga saat tiba di kostan, kami sama-sama tersenyum karena merasa penuh hari itu.

Pada waktu itu, membaca adalah perjalanan menuju saya. Secuil meditasi dalam kesunyian, saat yang ada hanya saya dan tokoh dalam buku. Tak ada riuh rendah likes atau follower atau komen. Tak ada gegap gempita maya maupun basa basi indah. Semua hanya kesunyian yang tersembunyi dalam ruang-ruang imajinasi kita.



Sunday, December 13, 2015

Lemon Madeleines



Jadi, berapa banyak dari kita yang selalu memiliki berjuta alasan untuk tidak melakukan sesuatu? Punya ide jalan cerita di kepala, tapi satu-satunya laptop di rumah dipake suami untuk kerja. Akhirnya ide untuk menulis novel tersebut menguap tanpa jejak. Atau terlalu sibuk mengisi bookmark resep di ponsel pintar; tapi jangankan memulai, membaca dengan detil resepnya saja enggak. Alasannya sibuk ini itu lah, ga punya oven lah, bahan-bahannya ga lengkap lah. Yang penting ngesave resep dulu, perkara nyobanya kapan itu urusan nanti. (ngacung bareng siapa yang kayak giniii??!)

Padahal, seorang tua pernah bersabda bahwa you will be regret of what you didn’t do rather than what you did, atau kira-kira kamu bakal lebih nyesel karena ga melakukan sesuatu daripada menyesal karena telah melakukannya. Baik atau buruk, gagal atau sukses, akan selalu memberi kita pelajaran berharga saat kita benar-benar telah mencobanya. Membayangkan saja tidak akan membawa kita kemana-mana. Karena pada akhirnya, pengalaman yang memperkaya jiwa bukanlah deretan kalimat yang kita baca; namun lebih kepada hal nyata yang kita alami sendiri.

Thursday, December 10, 2015

Welcome Waffle

Percayalah, pancake yang lebih mirip serabi ini ga enak :/
Entah sejak kapan pastinya saya kehilangan kesaktian dalam seni pencampuran bahan basah ke bahan kering, alias metode muffin dalam jagad perbakingan. Pancake adalah mimpi buruk saya beberapa bulan terakhir ini. Sekitar 5 kali bikin pancake dengan aneka resep, semuanya berakhir dengan uraian air mata dan kejengkelan luar biasa. Gimana ga jengkel, semua rasa ke-5 pancake tersebut persis seperti kulit pisang goreng. Lebih buruknya, ini adonan ga digoreng serta tanpa pisang, sehingga tidak ada gurih garing saat adonan tepung bertemu minyak goreng panas; ataupun legitnya ketika berpadu dengan pisang raja yang manis. Pancake saya kenyal dan hambar. Sesederhana itu.

Kemalangan tak berhenti sampai di situ. Karena muffin yang menggunakan metode adonan basah vs kering juga turut beranjak pergi dari saya. Kini tak ada lagi muffin beremah yang empuk dengan permukaan menggunung tinggi dan retakan indah. Yang ada hanya muffin bantat dengan retakan nanggung.
apalagi muffin ini, b a n t a t. nuff said.


Entahlah. Bila rumput bergoyang saja tak tau musababnya, apalagi saya?

Tuesday, December 8, 2015

Chicken Nawabi and Bukhari Rice




Whenever I lost my appetite, I turn into Arabian food or something resembles their food characteristics which use tons of spices (think about gulai and rendang). I don’t know why, but something about spices has attracted me so much. Their beautiful shapes and color, the exotic taste and warmth really kick my bud. No wonder, everytime we went to Arabian restaurant – Cairo restaurant here in Malang – I could clean my full plate of Kebuli rice with Roasted Lamb, a full jar of Chai Tea and 3 big sambosa. And for sure, let my husband dropped his jaw watching me ate those festive Arabian foods all by myself.

But then in the name of tight money policy, we can’t go to Cairo restaurant whenever we want. So the best thing I can do is back to the kitchen, grab some rice, chicken and spices and cook them. Lucky me, I already have Chicken Nawabi instant paste from my bestie once she came to my house last Eid Fitri (thanks granbun!!). So my job is only preparing the rice, as I chose Bukhari Rice because its ingredients are available in my pantry.

Monday, November 30, 2015

Babka Labu



Ada banyak cara pembuatan dan jenis roti di dunia, salah satunya adalah Babka. Babka merupakan salah satu tradisi pembuatan roti bangsa Yahudi di Eropa Timur yang kemudian menyebar cepat di Amerika Serikat pada awal abad 20.

Baik Babka maupun roti manis lain tidak memiliki perbedaan pada komposisi bahan-bahannya yang terdiri dari tepung, ragi, gula, susu dan telur. Satu-satunya yang membedakan adalah cara membentuknya. Adonan babka diolesi cokelat atau gula kayumanis, kemudian digulung atau dipuntir untuk dimasukkan ke dalam loyang loaf sebelum ditaburi streusel. Sehingga saat dikonsumsi, Babka tidak memerlukan olesan seperti selai karena rasanya yang sudah kaya.

Penasaran dengan Babka, beberapa waktu lalu saya pun memguatkan tekad dan niat bikin Babka. Padahal kalo udah mencium harum bau roti matang dari oven, segala cucuran keringat saat nguleni langsung menguap entah kemana. Tapi entahlah, ngebayangin nguleni itu sudah bikin ngantuk duluan.

Mumpung punya kabocha yang dibeli saat diskon 50%, yuk mari kita manfaatin. Ehhhmm.. sebenarnya ga ada ceritanya sih Babka dicampur labu, tapi kalo cireng aja sekarang diisi mozarella, ga salah kan kalo Babka dibuat dari labu?

Friday, November 27, 2015

Zebra Cake


Hidup adalah serangkaian pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Dibiarkannya kita meragu, menunggu dan melaju untuk mencari tahu. Seperti rindu. Tak pernah kita tahu bahwa apa yang biasa kita temui setiap hari, sekejap saja tiba-tiba musnah. Pergi untuk selamanya. Lalu kita pun terdiam pilu, menyesali mengapa waktu berlalu begitu kejap, hingga tak menyisakan apa-apa untuk kita.

Memandang tanah merah basah sore itu membuat saya, entah. Hanya rekaman memori yang terus menerus berputar di kepala. Ketika jasad orang tercinta telah terbungkus tanah untuk selamanya, saat itu baru kita sadar betapa waktu tak pernah menunggu. Hari ini atau esok nanti, bisa jadi saya yang terbaring di sana.

1 minggu yang melelahkan. Seolah semua energi terserap habis di hari itu. Tapi saat tak sengaja membuka buku resep, ada semangat memercik. Then I cook, bake, make something. Tanpa sadar, dapur telah menjelma menjadi sarana teurapis, tempat saya kembali menyala. Entah dengan pancake gagal untuk yang kesekian kali atau ini, zebra cake yang selalu mengingatkan saya pada kotak jajan berkatan kampung.

Unlavishly original, I told you. Karena saya – tentu saja – telah menambah kurangi ini itu, termasuk menambah ubi cilembu ke dalam adonannya. Hasilnya zebra cake yang lebih padat karena keberadaan ubi, wangi sekaligus lembab karena campuran mentega, margarine dan minyak kelapa; dan beremah khas butter cake. Bila ada yang ingin saya ubah saat membuatnya lagi kelak, akan saya tambah ½ cup susu ke dalam adonan agar sedikit lebih ringan, karena adonan kali ini lebih kental dari yang seharusnya.

Menikmati sepotong cake ditemani teh manis hangat di sore hari bersama bocah menjadi penenang dan pengingat bahwa hidup tak lebih dari penantian akan keabadian. Dan selagi singgah di sini, mari manfaatkan waktu sebaik-baiknya…

Thursday, November 19, 2015

Kue Kamir dan Shay Adane



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakutuhu
Ahlan wa sahlan ya akhi wa ukhti..

Bagi penduduk Pemalang, khususon yang mendiami wilayah kampung Arab, pasti tidak asing dengan Kue Kamir. Kue yang seperti perpaduan baina apem wa pancake ini konon diciptakan pertama kali oleh seorang Arab yang tinggal di Kelurahan Mulyoharjo, sebuah kampung Arab di Pemalang. Namun hingga kini masih menjadi tanda tanya mengapa kue tsb bernama Kamir. Kemungkinan paling mendekati, nama Kamir berasal dari kata Khamir yang dalam al lughotul Arabiyya berarti ragi.


Na'am, salah satu bahan utama pembuatan kue Kamir adalah ragi yang berasal dari tape singkong. Adonan didiamkan selama semalaman agar terfermentasi, menghasilkan kue berserat mengembang wa empuk dengan rasa tape yang khas. Di beberapa literatur menyebutkan bahwa ada dua jenis kue Kamir: berbahan dasar tepung terigu dan berbahan dasar tepung besar. Namun karena Kamir tepung beras hanya tahan satu hari, maka Kamir tepung beras hanya dibuat berdasar pesanan. Sedangkan Kamir tepung terigu banyak dijajakan di pasar-pasar maupun toko oleh-oleh di kota Pemalang.

Kamir yang saya bikin menggunakan tepung terigu, dengan resep asli yang berasal dari NCC yang telah dimodifikasi mbak Endang Justtryandtaste. Namun resep beliau juga tidak luput saya modifikasi hahaha. Kue Kamir ini paling nikmat dinikmati hangat-hangat bersama Shay Adane, semacam teh tarik berempah khas Timur Tengah. Setiap selesai makan kue Kamir dan menyeruput Shay Adane, saya merasa hidung semakin mancung kayak orang Arab...aamiin ya Allah..

Wednesday, November 18, 2015

Indonesian Mud Cake


In the last two months, I’ve been crazy about traditional foods. I sometimes still wondering how could a person like me, who addicted to anything highly effective and efficient (western) recipes, fall into the most challenging recipe ever. One thing about traditional snacks is the methods. The ingredients might be cheap but it takes more efforts to do those kind of special beating, a long waiting fermentation process, or unusual pan to cook them. And yet, the more depressing process lay in how to capture them. Most of time they doesn’t look appetizing at all, no bright beautiful color or shape. So, if you see my picture a bit odd, trust me, I’ve done my best and spent hours to capture them.

Anyway, these are Kue Lumpur or Indonesian potato mud cake. Totally different from American mud cake, Kue Lumpur is made from mashed potato with coconut milk. The texture is soft, moist and dense. The authentic Kue Lumpur has raisin topping, but now we can easily find various topping from young coconut flesh until shredded cheddar cheese. While some people are creatively substitute the potato with pumpkin, resulting a beautiful yellow Lumpur. And some, still using potato, but add pandan extract to make the color more vibrant.



Sunday, November 8, 2015

Juwet Crumble




Waktu masih duduk di sekolah dasar 20 tahun yang lalu, ada seorang bapak tua yang berjualan buah juwet di depan gerbang sekolah, di sebelah penjual kerupuk bumbu rujak, tepatnya. Pak tua itu datang dengan menggendong sekeranjang besar rotan berisi juwet. Kami, para pembeli ingusan, berdiri mengantri di depan pak tua yang selalu sibuk membungkus segenggam juwet ke dalam selembar kertas tulis bekas berbentuk contong (kerucut), lalu beliau menaburi dengan garam sekenanya. Saya tak ingat persis berapa rupiah yang kami bayar saat itu. Yang paling saya ingat hanya, kami semua selalu pamer seberapa ungu gigimu setelah makan juwet asam, asin, manis tersebut.

Tak banyak, bahkan bisa dibilang tak ada lagi penjual juwet di pasar-pasar maupun sekolah. Lagian toh siapa yang mau makan buah ndeso kecut ini, di saat pedagang buah di pasar maupun supermarket telah berbangga menjajakan apel fuji, jeruk kalifornia bahkan duren Thailand. Dengan nama yang sama sekali tidak catchy serta penampakan tak seseronok stroberi, juwet tetaplah juwet. Barangkali hanya orang tuan dan generasi sebelum 90 lah yang satu-dua mencarinya untuk mengenang masa lalu.

Tiba-tiba siang itu saat kaki tak tentu arah menyusuri pasar besar, mata tertuju pada timbunan buah kecil hitam di dalam keranjang rotan. Memori masa lalu kembali menari di ingatan, dan tanpa sadar saya telah membayar 10 ribu rupiah untuk satu kilo juwet. Ide pertama yang terbersit di kepala adalah membuat pie isi juwet. Dan dua hari kemudian, ide tersebut telah berwujud dalam 5 wadah ukuran besar kecil yang habis dalam sehari.

Aslinya pake resep Blueberry Crumble, tapi apa daya, melihat harga blueberry yang bikin bergidik, kenapa ga pake buah lokal yang rasanya kira-kira hampir sama (kira-kira loh ya, karena ga pernah makan blueberry): kecut, asem, seger. Dan dugaan saya terbukti. Lupakan blueberry laknat itu. Skip strawberry atau raspberry. Embrace Juwet in your pie, crumble, or any sweet treats. Terganggu dengan bijinya yang harus dilepeh setiap kali makan adalah resiko. Namun apa sih yang tidak mengandung resiko di dunia ini? Toh kenikmatan ikan panggang justru ketika kita mengelamuti sisa-sisa daging yang menempel di durinya kan?

Friday, October 30, 2015

Kue Ku (Kue Thok) dan Jelajah Boga Indonesia

Kue Ku alias Kue Thok

Jadi begini. Di beberapa postingan terakhir, saya curhat betapa motrek makanan Indonesia itu ga seindah rasanya. Kita semua boleh jumawa betapa masakan Indonesia paling enak sedunia, tapi dengan rupa yang tidak fotogenik, apa iya anak cucu kita nantinya mengamini pendapat kita di tengah serbuan waralaba gerai fastfood dari western, Korean, Japanese dsb yang penampakannya lebih eye catching? Jangan-jangan waktu kita ngomongin kare, yang di kepala mereka terbayang karage; kita cerita tauco dikiranya taco K

Beruntung, saya dikelilingi orang-orang yang sedari awal sudah getol untuk memotrek masakan Indonesia dengan cantik. Saya yang mulanya antipati sama makanan Indonesia, lama-lama terketuk juga api keindonesiaan saya karena kompor mereka. Iseng-iseng kami bikin akun @jelajahboga di instagram untuk ikut serta dalam upaya mendokumentasikan masakan/makanan/minuman/buah/sayur khas daerah-daerah nusantara. Keinginan kami ga muluk-muluk, kami cuma ingin kita semua lebih getol motrek masakan Indonesia daripada masakan luar. Eh ini namanya muluk-muluk ya hahaha.

Jadi, buat kamu yang punya akun instagram, yuk sertakan tagar #jelajahbogaindonesia di caption foto masakan Indonesiamu, setiap harinya akan kami pilih 1-2 foto untuk kami kurasi. Selain foto, yang tidak kalah penting adalah resep atau cerita tentang masakan/minuman/buah/sayur tersebut. Misalnya nih foto keluwek, selain dibikin rawon biasanya dibikin apa? Atau barangkali ada tips untuk memilih keluwek yang bagus gimana? Dsb dsb. Karena kami yakin, setiap kuliner memiliki akar budaya yang berbeda, sehingga ceritanya pun berbeda.

Back to blog yang sudah 2 minggu libur, bebarengan dengan Pukis Pandan, 2 minggu saya juga bikin Kue Ku. Usut punya usut, ternyata Kue Ku ini berasal dari Tiongkok. Ku dalam bahas Tionghoa dialek Hokkian berarti Kura-kura, untuk menyebut bentuknya yang menyerupai kura-kura. Rakyat Cina selalu menyediakan Kue Ku di perayaan-perayaan besar keluarga seperti kelahiran atau ulang tahun orang tua, karena bentuk Kura-kura menyimbolkan panjang umur dan rejeki berlimpah.

Sedangkan di Jawa, Kue Ku lebih familiar dengan sebutan Kue Thok karena saat mengeluarkan adonan Kue Ku dari cetakan kayu, bunyinya “Tok Tok”. Nah karena suatu kali tersesat di sebuah toko tua dan menemukan cetakan kayu Kue Ku yang sudah uzur, di kepala langsung terbayang kenyalnya kulit yang terbuat dari tepung ketan dan legitnya kacang hijau kupas sebagai isiannya. Alhamdulillah, Kue Ku yang diwarna dengan daun suji ludes hari itu juga. Enaaaak!!!

Sunday, October 25, 2015

Day 3

Pernahkah terbersit di benakmu, bahwa sudut pengambilan foto ternyata juga menentukan cerita foto kita? Dengan aneka bentuk hero, ada beberapa bagian yang pastinya lebih menarik untuk ditonjolkan daripada bagian lainnya. Atau mungkin bagi yang bikin sendiri, selalu ada bocel-bocel ketidaksempurnaan yang sebisa mungkin ga keliatan saat difoto :D

Ada berbagai sudut pengambilan gambar dalam FP, katakanlah sudut 10 20, 30 derajat, 45 derajat atau 90 derajat. Pemilihan sudut pengambilan gambar sangat krusial untuk menyampaikan cerita foto kita. Misalnya mau motrek pizza yang berbentuk datar pipih, apa ga kliatan kayak roti maryam kalo dipotrek pake sudut 0 derajat? Sebaliknya untuk motrek makanan yang memiliki volume dan ketinggian dengan lapisan cantik seperti burger, apa bisa bikin ngiler kalo dipotrek dengan sudut 90 alias dipotrek dari atas?

Karena itu, hal pertama saat mempertimbangkan mau memakai sudut pengambilan berapa, kita perlu tau bagaimana bentuk, tekstur, sifat dan apa yang menonjol dari hero yang akan kita potrek. Apa yang ingin kita perlihatkan ke audience? Lapisannya? Warnanya? Bentuknya? Teksturnya? Atau kegiatan yang sedang dilakukan?



Foto nangka ini misalnya, saya pengen memperlihatkan bentuk nangka kupas, sekaligus menunjukkan setting meja messy (ceritanya habis ngupas nangka trus mau dicemil gitu). Coba bayangin kalo nangkanya belum dikupas lalu difoto dengan sudut dari atas seperti ini, ga bakal keliatan kalo itu nangka kan?

So, foto nangka ini adalah foto pertama yang saya kumpulin untuk 30dbfp. Motreknya udah sore sekitar jam 5an, dengan matahari yang hampir tenggelam. Karena dikejar waktu, saya ga sempat utak-atik komposisinya. Jadinya ya, kaku gitu. Piring 1, 2 dan biji nangka berada pada satu garis lurus. Kalo mau diubah, saya bakal geser piring kiri lebih ke atas dan mengamini krisan Winda Priandita, untuk mengurangi nangka di piring kiri agar fokus ga rebutan antara piring 1 dan 2. Dan mungkin nambah beberapa serat atau biji nangka di sekitar piring. Atau nampak napkin juga? Entahlah. Gitu deh kalo motrek tanpa persiapan. 


Sekian laporan hari ke-3.  

Day 2

As I told you earlier, sebagai seseorang yang ingin menjadi seorang food blogger yang baik dan gaya #eaaaa, saya selalu terdorong untuk memotrek hasil kreasi saya sendiri. Selain untuk mendokumentasikan resep dan bikin saya rajin di dapur, juga agar saya lebih mampu mengeksplorasi setiap sudut dan sifat makanan yang saya bikin untuk kemudian dipotrek.

Nah di 30dbfp ini, sikap di atas ingin saya aplikasikan. Iya iya bakalan berat baking/masak untuk dipotrek setiap harinya selama 30 hari. Kak Henny pun udah memperingatkan sebaiknya fokus di foto aja, tanpa peduli subyek apa yang dipotrek. Tapi karena saya ga kapok sebelum kepentok, maka dengan ini saya keukeuh untuk motrek apa yang saya bikin. Minimal motrek bahan mentah lah. Pokoknya bukan makanan beli.


Jadi yah, tugas hari kedua 30dbfp adalah memutuskan mau motrek apa selama 30 hari ke depan. Dan pleidoi di atas adalah jawaban saya. 

Garing banget laporannya. 

Day 1

Pernah suatu kali mbok bertanya (yang sampai sekarang belum saya jawab pertanyaannya), siapa fotografer favorit saya. Kalo fotografer secara umur (bukan food photographer), tentu James Nachtwey akan selalu menempati urutan teratas. Beliaulah yang pertama kali membuat saya jatuh cinta pada melukis dengan cahaya. Dan beliaulah yang memercik impian saya bertahun lalu untuk menjadi agen perdamaian di Afrika. Tapi takdir berkata lain, tentu saja. Saya ga ke Afrika. Dan alangkah baiknya kita beralih ke topik selanjutnya, yakni food photographer favorit, daripada saya kembali labil meratapi nasib karena cita-cita tak tercapai.

Jujur saja saya bingung memilih karena saking banyaknya food photographer yang karya-karyanya banyak menginspirasi dan mempengaruhi saya. Dari Eliza Setiawan yang membuat saya jatuh hati ke low key, Sefa Firdaus yang membuat saya semakin terjerat ke FP, Ira Rodrigues yang penguasaannya terhadap cahaya bikin saya klepek-klepek, Asri Pamuncar yang mengubah pandangan saya tentang food photography, La Binar yang menggelitik dengan still life, Henny Marlina yang banyak mengajari soal teknis fotografi, sampai Anitajoyo yang memancing kecintaan saya pada makanan Indonesia; daaan banyak lagi lainnya yang tidak sempat saya sebutkan satu demi satu. Tapi untuk tugas hari pertama 30 dbfp ini, saya pilih fotografer yang telah disediakan Neel aja ya, biar nama yang saya sebutkan di atas ga pundung karena saya cuma milih 2 :D

Pertama, saya pilih Matt Armendariz.

bukan foto saya, tapi milik Matt Armendariz
diambil dari https://www.pinterest.com/pin/72761350205895129/

Foto-foto Matt Armendariz menurut saya tipe editorial/ food blog yang lebih banyak bermain dengan ketidaksempurnaan untuk menunjukkan jejak aktivitas manusia di dalamnya. Dalam setiap fotonya, selalu ada detil kecil yang membuat saya ditarik ke dalamnya, ikut menikmati makanan yang difotonya. Misalnya di foto muffin, galette atau es krim, akan selalu kita temukan muffin yang telah digigit, galette yang dikucuri saus caramel yang berantakan atau es krim yang mencair. Namun justru sentuhan manusiawi itulah yang membuat fotonya hidup dan membuat makanan terlihat sangat real dan sangat applicable untuk dibuat di rumah. Di foto-foto Armendariz, property digunakan dengan jitu, sebagaimana fungsinya. Misalnya di foto galette, tak ada property lain kecuali sendok dengan bekas saus caramel. Dan sendok tersebut sudah cukup menyampaikan cerita foto tentang pembuatan galette dengan kucuran saus caramel yang berantakan, lengket namun manis.

Kedua, saya pilih Helene Dujardin.

Tak jauh berbeda dengan Armendariz, karya-karya Helen Dujardin  bernafaskan foto editorial yang homey sekali. stylingnya effortless, sangat luwes, dengan cahaya yang kalem. Tentang stylingnya, bisa jadi karena beliau berangkat dari food blogger sehingga foto-fotonya sangat bercerita. Makanan tidak hanya menjadi hero, tapi juga pendukung suasana. Sehingga tak jarang kita temui susunan botol-botol sebagai background untuk menegaskan suasana di dapur, atau sekedar jendela besar di sebelah meja makan yang menguatkan cerita sarapan pagi

So dari kedua fotografer di atas, saya menyimpulkan bahwa tendensi saya mengarah pada foto-foto model editorial yang lebih banyak menekankan pada cerita foto, daripada kesempurnaan subyek itu sendiri. Kalo kamu, siapa food photographer idolamu?


Anyway, tulisan ini adalah laporan hari pertama dari rangkaian 30 Days for Better Food Photography (30dbfp) yang digagas Neel dari LFP. Sebuah kursus onlen selama 30 hari non stop yang mengharuskan pesertanya untuk memotrek makanan sesuai dengan tema yang diberikan setiap harinya. Last thing, doakan saya bisa istiqomah ya, untuk baking, motrek dan nulis laporannya di blog. 

Monday, October 19, 2015

Pukis Pandan


Suatu kali, seorang karib yang saya anggap adik sendiri bertanya heran, kenapa di galeri instagram saya sangat jarang ditemui masakan Indonesia. Saya mengiyakan keheranannya, karena memang, jujur saja masakan Indonesia menurut saya tidak fotogenik. Coba ingat bentuk dan tekstur rendang, yang pernah nangkring sebagai jawara makanan terlezat di dunia tahun 2013, hitam pekat dengan bongkahan daging yang mirip batu. Mau distyling model apa cobaaaa??? Dikasi dedaunan di sebelahnya? Kayak taman berbatu dong.

Gimana dengan jajanan tradisional? Meski terlihat fotogenik dengan warna-warna mencolok dan bentuk yang menggemaskan (terbayang cenil seperti ulat pink), tapi tau sendiri kan makanan tradisional itu ribet bikinnya. Bahannya boleh murah dan sederhana, tapi siapa coba yang mau mbuletin puluhan klepon dan mengisinya dengan gula merah untuk satu resep? Belum lagi proses merebusnya yang rawan njebrot. Aaaghhhhh. Paling gampang ya beli, udah murah, tersedia tiap hari lagi.

Nah yang terakhir ini saya agak segan. Sebisa mungkin makanan yang saya foto ya saya masak sendiri. Mengamini beberapa foodblogger senior, saat memasak makanan yang kita potrek, kita akan merasa lebih nyambung saat memotreknya. Karena kita tahu bagaimana proses dan seluk beluk pembuatan sehingga lebih mudah mencari apa yang mesti ditonjolkan dan apa yang mesti disembunyikan. Coba kalo makanan beli, dapetnya itu ya udah itu aja yang dipotrek. 

Sampai suatu hari saya membaca buku Antropologi Kuliner Nusantara terbitan Tempo.

Lalu saya tersentak.

Sunday, October 18, 2015

Banana Cake




Buat yang hobi baking, pasti pernah (atau sering banget?) bikin banana cake. Gimana enggak, rata-rata resep banana cake sama aja (cuma beda di takaran), bahan2nya sangat home friendly dan yg terpenting, bisa dibikin dari bahan yang murah sampe yang mahal (ini penting di saat akhir bulan pengen ngemil hihi). Bahan utamanya cuma telur, tepung, gula dan lemak. Mau dibikin eggless bisa, tinggal tambahin bahan cairnya. Mau tambah susu/yogurt bisa, tinggal utak-atik perbandingan bahan kering : bahan basah. Lemak bisa dari mentega, margarin atau minyak sayur/minyak goreng. Mau legit bisa pake gula palem atau brown sugar (atau, hey udah pernah cobain pake gula merah?). Isiannya bisa dari kacang, choco chips atau tanpa isian juga udah okeh.

Kali ini saya bikin Banana Cake punya Julie Hasson. Ihwal resep ini, dulu saya sering kepoin twitter mbak Ienas Tsuroiya. Beliau jualan Banana Cake yang sepertinya selalu jadi best seller. Akhirnya saya dapat resep dari dapursolia yang berasal dari mbak Ienas Tsuroiya. Entah resep ini yang dipake beliau jualan atau ga, saya ga paham. Tapi yang jelas, cake ini enaaaak banget.

Sunday, October 4, 2015

Tentang Orisinalitas



Dengan muka penuh amarah artis Titi Rajo Bintang mengarahkan moncong bedil ke kepala Marcellino Lefrandt, di bawah Titi tersungkur penyanyi Andre Hehanusa dalam dekapan Regina Ivanova. 

Sudah bisa menebak cerita di atas berjudul apa? Yak anda benar, Sabai Nan Aluih adalah salah satu dari 17 foto cerita rakyat yang dipamerkan di Grand Indonesia Agustus lalu. Pameran foto bertajuk Alkisah yang melibatkan 100 pekerja seni tersebut merupakan mahakarya dari fotografer muda Rio Wibowo atau yang populer sebagai Rio Motret.

Mengangkat cerita yang popular ke dalam foto dan menggunakan sosok selebritis sebagai modelnya, hmmm, sounds familiar?

Yuuhuuu, konsep seperti itu telah lebih dulu diangkat oleh fotografer kenamaan asal AS, Annie Leibovitz. Sejak tahun 2007 hingga kini, Leibovitz telah mempublikasikan foto-foto selebriti AS dari Taylor Swift sampai David Beckham dalam balutan seri kisah Walt Disney seperti Putri Salju, Cinderella, Rapunzel, Putri Tidur, dll.

Eeeeh, tunggu. Kalo Leibovitz udah lebih dulu bikin foto dengan konsep seperti itu, lalu pameran foto Alkisah punya RioMotret ga orisinal dong?

Siomay Batagor


 
Jauh sebelum Cornelis De Houtman melabuhkan jangkar kapal di Banten tahun 1596, bangsa Cina telah terlebih dahulu mendarat di pesisir pantai Jawa Timur pada abad 5. Rombongan ras kuning tersebut datang bergelombang dalam misi perdagangan dengan kerajaan-kerajaan nusantara.

Namun kemudian kita tahu bahwa bukan hanya kain sutera dan rempah-rempah saja yang dihasikan dari ekspedisi Panglima Ceng Ho. Lebih dari itu, ada asimilasi dan akulturasi budaya Cina dan Indonesia yang menghasilkan kebudayaan anyar yang menjadi salah satu kekayaan khas Indonesia.

Termasuk di dalamnya adalah kuliner peranakan.

Saturday, October 3, 2015

Roti Tanpa Uleni


Bicara tentang ragi adalah berbicara tentang peradaban manusia itu sendiri. Karena konon, ragi telah dimanfaatkan oleh bangsa Mesir Kuno sejak jaman prasejarah, suatu masa saat manusia belum mengenal tulisan. Bangsa penyembah Dewa Ra tersebut menggunakan ragi dalam proses fermentasi untuk membuat minuman beralkohol dan roti.

Sedangkan di Indonesia, roti adalah panganan asing yang dikenalkan Belanda di abad ke-20. Meski demikian, ragi sebagai mikroorganisme yang mampu memfermentasi karbohidrat bukanlah hal  asing di Indonesia. Menurut Denys Lombard, tempe berasal dari kata nusantara tape yang mengandung arti fermentasi, dan wadah besar tempat produk fermentasi disebut tempayan. 

Karena itu, jujur saja, secinta apapun saya dengan roti, roti bagi saya tetap panganan asing. Yang tidak bisa menggantikan nasi, yang keberadaannya sekedar menjadi obsesi baking, yang setiap kali memakannya dengan margarine mengingatkan saya pada masa kecil dulu.

Saturday, September 19, 2015

Croissant dan hal-hal setelahnya...







Konon, artis Teuku Wisnu suatu kali pelesir ke Eropa. Di sana dia bertemu dan tergila-gila dengan strudel, penganan manis asal Austria. Strudel adalah puff pastry berukuran panjang berisi cincangan apel yang dimasak dengan brown sugar dan kayu manis, yup persis seperti isian apple pie.

Pulang dari pelesir, Teuku Wisnu menduplikasi rasa dan penampakan strudel, kemudian memasarkannya. Gayung bersambut, orang-orang sekelilingnya sangat menyukai strudel. Maka suami Shirene Sungkar tsb punya ide memproduksi strudel di kota Malang, penghasil apel manalagi yang bertektur keras dengan rasa manis asam, cocok sebagai isian strudel.

Jangan bayangkan betapa ramai gerai strudel di Malang. Khususnya di musim lebaran, pembeli harus rela antri menunggu kedatangan strudel yang dimasak di Singosari, pusat dapur strudel untuk dikirim ke 4 penjuru cabang strudel di Malang dan Batu. Tak hanya antri, pembeli dibatasi hanya boleh membeli maksimal 2 kotak strudel. Maka pengorbanan seperti apa lagi yang mesti saya lakukan demi memenuhi 5 kotak strudel pesanan emak-emak sempel saat meet up di rumah saya? Toh meski begitu, saya masih dicap sebagai tuan rumah yang tak baik karena kealpaan kecil lupa masak nasi, sehingga mereka makan nasi kemarin dengan porsi mini, dan sebagian sudah kering. Huahahahaha.

Anyway, teringat tragedi antri strudel yang bikin emosi jiwa, kenapa ga bikin strudel sendiri?

Ayam Panggang Rosemary



Jujur saja, dibandingkan dengan olehan ayam khas Indonesia seperti ayam bumbu rujak sampai ayam betutu; ayam panggang rosemary ini tentu menjadi opsi belakangan.

Namun mengingat kemampuan diri atas kerumitan bumbu dan proses memasak yang tak bisa instan, tentu saja ayam dengan balutan bumbu kaya rempah di atas bukan wilayah kekuasaan saya yang masak sop aja bisa rasa sayur asem. Hahahah buka kartu deh.

Friday, September 11, 2015

Tentang Properti : Kepatutan



Kalo kamu orang yang masak masak sendiri, motrek motrek sendiri dan penggemar Caca Handika, pasti pernah dong kelimpungan karena keterbatasan properti. Misalnya nih, udah susah-susah bikin es krim, nyiapin setting pemotrekan, kamera sudah siap jepret, eh lha kok ga punya sendok es krim. Punya cupcake lucu tapi ga punya garpu cake yang imut, jadilah si garpu makan yang ga proporsional nangkring dengan manisnya di sebelah cupcake. 

Atau kayak saya beberapa bulan lalu yang saking kreatifnya pasangin garpu dan pisau sebagai alat makan jajanan pasar, dan jadilah steak cenil! Huahahahaha…#ditujesrame2



Seriously *ngomongginisambilngaca*, kalo buat dimakan sendiri sih ga masalah ya. Mau makan eskrim pake sutil, monggo. Makan steak pake gergaji ya hayuk aja. Tapiiii, saat makanan udah ketangkap tombol rana kamera, mau ga mau kita mesti mempresentasikan bagaimana makanan tersebut dimakan sebagaimana mestinya.

Sup Merah







Sungguh tak ada yang istimewa dari sup merah.

Ia sesederhana menikmati pagi di bangku taman. There is no rush. Hanya sekedar memeluk waktu yang berjalan lambat. Dan tenang.

Ada gurih dan manis yang lamat di kuah sup merah. Perihal yang berasal dari cincangan kasar bawang putih dan bawang bombay yang ditumis oleh waktu. Api kecil yang hampir padam. Panas membakar irisan bawang bombay, membuatnya terlihat transparan, serupa kaca yang diguyur hujan selepas senja.

Banana Cake with Whipped Cream and Salted Caramel





Tersebutlah sebuah bakery femes di Jakarta. Yang foto-fotonya membuat ngeces. Yang harganya pasti selangit. Yang salah satu foto signature cake nya merupakan gambaran cake yang lagi ngehitz saat ini, pertama kalinya dipopulerkan oleh tante Linda Lomelino yang ikut jadi pelopor tren bunga-bunga dalam FP ituuu.

Eniwe, nama cake milik Brooklynid itu adalah Banana Palm Cake. Namun foto yang saya maksud adalah Brooklyn Honey Comb. Karena ga mungkin bikin 2 cake dalam waktu bersamaan, akhirnya saya gabungkan 2 cake idaman tersebut, dan jadilah Banana Cake with Salted Caramel. I know, I'm genius!!

Friday, August 28, 2015

Black Glutinous Rice Pudding





I must say that I actually not really into Indonesian sweet porridge which mostly served with thick coconut milk. I’d rather eat their savory counterpart like Chicken Porridge, as I have tendency to add sambal in everything I eat. But there are times when you miss your childhood. Times when everything seems so simple yet memorable.

Tuesday, August 25, 2015

Cake Kesemek (Persimmon Cake)



Kesemek / Oriental Persimmon

Sebagai anggota generasi 90-an yang dalam tahap mengasah insting perbakingan, percobaan di dapur kali itu sungguh luar biasa mencengangkan (hehe, ini cake udah dibikin sebulan lalu). Betapa tidak, tidak hanya mengolah kesemek menjadi cake, saya juga mengharuskan diri mulai pake tepung non gluten yang teksturnya belum saya kuasai sama sekali.

Kenapa kesemek, karena waktu itu lagi musim. Tukang sayur saban hari bawa kesemek, jadi cemilan buah di rumah akhirnya ya si kesemek ini. Sampe beberapa udah mulai kisut kulitnya. Dan kenapa tepung singkong, karena jujur saja meskipun sangat mencintai gluten yang dikandung tepung, saya sadar diri untuk mengurangi konsumsi gluten. Selain faktor kesehatan, juga karena faktor kesejahteraan bangsa Indonesia #tsaaah. Negeri kita bukan penghasil utama gandum bok, jadi konsumsi tepung yang berjuta ton setiap tahunnya itu mayoritas adalah hasil impor. Tapi kalo singkong, yes, umbi-umbian ini bagai padi di tanah sendiri. Berlimpah dan murah namun sayang ga terlalu laku di pasaran.

Tuesday, August 11, 2015

Donat Kentang, lagi


Saat masih kecil, saya banyak menghabiskan waktu di rumah emak (bahasa Jawa yang berarti ibu, tapi panggilan tersebut saya sematkan untuk nenek dari pihak bapak). Emak Kartima bukan seorang priyayi yang tinggal di rumah peninggalan Belanda. Sebaliknya, beliau justru orang-orang pinggiran yang tergerus jaman. Dengan 13 anak dan kemiskinan yang membelenggunya sedari lahir, tak banyak pilihan baginya kecuali masih memerah keringat di usia yang tak lagi muda. Emak Kartima kala itu adalah penjual gorengan.  Dari roti goreng, weci (heci atau bala-bala), menjes (fermentasi sisa kedelai) hingga donat ia buat sejak jam 2 pagi untuk kemudian dititipkan ke gerobak-gerobak penjual yang datang saat subuh. Semua adonan ia kerjakan sendiri tanpa takaran pasti. Sedangkan anak-anak perempuannya mendapat tugas untuk menggoreng di wajan besar di atas tungku kayu bakar. Saat menginap di rumahnya, sering saya terbangun dengan sedikit sesak nafas karena rupanya emak baru saja mematikan kompor purbanya.

Monday, August 3, 2015

Banana Ice Cream


Unless the cookies and the candy, this ice cream is positively healthy. It only contains frozen banana, honey and milk powder (which you can skip anyway to make it dairy free). Blend them, freeze them then voila, in the next day you have a full bowl of non guilty pleasure. Kid friendly, money friendly, no churn, no ice cream maker and healthy! Unless, once again, you topped them or sandwich them with these freaking thingy made from sugar, a lot of sugar!

Friday, July 31, 2015

Soft Baked Chocolate Chip Cookies


No words to introduce you further about this chewy choco chips cookies. It is different from the small - crunchy - full of any ingredients you barely never heard of; it is soft baked! An adult's palm sized, with adult touch of bitter chocolate and salty fleur de sel to balance the sweetness that makes them beautifully cracked (mine isn't cracked much, yes, I always reduce the sugar in any sweet treats recipe). These cookies are only for adult, though I'm not so sure your kids will not grab these cookies. 

Thursday, July 30, 2015

Batik Pudding






I still remember her Chai Tea. 

As a spices lover but tea non-believer, I was so provoked when I read her post titled Chai Tea, a spiced milk tea originated from India. Beside I never taste the tea, it was all because her photographs that lingered into my mind for so long. I don't know how, but I barely could feel the warmth of the tea in the glass and taste the exotic-aromatic spices she captured in a silver tray. 

I guessed she is retired from blogging. Putu Ayu, dated Feb 20th 2013 is her last post. I sometimes come to her blog while hoping to find a new post. But I found none. I didn't know her real name, her friends or other social accounts she had. She was just disappeared.

Wednesday, July 8, 2015

Lemon Cardamom Cake



I rarely buy lemon in supermarket. Not only because it’s expensive, but also because it’s imported lemons. I don’t know how long does it takes from the farmers into come to my hands, I guess it takes weeks in the road? Can you imagine how much it lost its nutrition and enzymes?

Lime is the most common citrus in Indonesia, it is so cheap and abundant in any season. I always substitute lime for lemon in any recipe I tried, not until I finally found local lemon in my town. These local lemons are way more smaller and the juice is lesser than the imported one. But for the sake of freshness and price (it’s quarter of imported lemon price!) I choose local lemons (go local farmers!!).

Anyway, when life gives you lemons, make lemon cake!

Friday, July 3, 2015

Banana Chiffon Cake




What is the most essential thing when you make banana cake? Overripe, old and ugly banana with full of dark spots. Yep, a fragrant, moist and banana-y banana cake could only made from the last thing you want to see in your banana. Isn't it amazing, how an ugly thing can turn into the most beautiful one?

This Banana Chiffon Cake is really a keeper (thanks soooo much KT!!). No matter it shrank, too dry or slipped from the pan, I will never look upon another recipe. The taste is really banana-y, the texture is moist and fluffy, and the smell is so fragrant. The secret is in the comparison of banana vs flour. Most recipe have ratio 1 part banana :1 part flour, while this amazing recipe from Kitchentigress have 2,5 part banana to 1 part flour.

Wednesday, July 1, 2015

Poffertjes



I don’t remember since when my son starting to give his opinion about the food he’s eating. I mean he’s three years old and already notice whether the food is too salty, sweet, tangy, sour or bitter. Or he simply said he doesn’t like the food because it’s not delicious. He's not kind of picky eater, but there are days when he simply rejected the snacks I made. But every time I make him poffertjes, he's not going to complain. At all.


My friend said that the real poffertjes in Holland is in mini pancake shape, while this Indonesian version is like aebleskiver, a Danish ball shaped pancake. I do ever make aebleskiver, it taste almost the same but fluffier than poffertjes, due to egg whites’ beating separately. But since I have some degree of impatience, I always end up making poffertjes than aebleskiver. This combination of donuts and pancake is best served warm with sugar dusting and - special for this post - with chocolate ganache. Splendid. 




Poffertjes
Source: Femina via @anitajoyo

Ingredients:
250 gr bread flour
75 gr confectioner sugar
½ tsp instant yeast
3 eggs
400 ml milk
50 gr melted butter
¼ tsp salt

Filling:
Cheddar/ raisins/ chocolate chips/ anything you like

Poffy A
f 3,5 | speed 1/640 | ISO 200

Directions:
Mix the flour, sugar and instant yeast.

Heat the milk until simmer, turn off the heat. Add the eggs and whisk until frothy.

Pour the milk mixture into flour mixtures, keep whisking until the batter is uniform.

Add melted butter and salt, stir and rest for about 30 minutes.

Heat up the poffertjes pan at low heat for 15 minutes. Fill the holes ¾ with batter.

When the edges starts to get firm, turn the poffy 90 degrees (using 2 skewers or bamboo sticks) and let the batter flow into the pan. Put your desired filling then pour a little extra batter into the hole and turn the poffy another 90 degrees so the hole shape a ball.

Enjoy!

Poffy B
f 3,5 | speed 1/320 | ISO 200


Anyway, some of my friends ask me behind the scene of my photographs, here are 2 scenes where I take those pictures above (Poffy A and B). I took the Poffy A at 2 pm, while Poffy B at 8 am. I used my Canon 1000 D with fix lens 50 mm f 1,8.

Poffy A

Poffy B

Friday, June 26, 2015

Ananas Pie



Lebaran (religious holiday that marks the end of Ramadan) is time to fully charge your sweet tooth, isn’t it? One of the most popular cookies during Lebaran is Nastar (ananas tart), an Indonesian pineapple tart.

Making good pineapple tarts can’t be done in a flash. It takes time, a very long one (this is the reason why the nastar price is expensive). Unless you buy a readymade pineapple jam which – I won’t do that anyway because it contains preservatives. After – at least 2 hours – cooking mashed pineapples to make pineapple jam, it does however still takes time to rest them till cool, shape them into little balls and leave into firm. But the journey isn’t finished yet, you still have to make the pastry, divide them into little balls, flatten and place the jam balls in the middle of the dough and roll into a bigger balls now filled with jam. While the last step which takes time also is bake them. And guess what, with the more than 4 hours process, I believe the nastar will be gone in not more than an hour!

A quite long journey, huh?



I actually not that patient to follow all the steps, but lately I am craving for nastar. So I cheat a little by making the nastar into pie. Yes, into a pineapple jam filled pie or Ananas Pie. It saves much time and energy, but the best part is, the taste is the same!

You could use any nastar recipe you want, but here I use pie recipe for the pastry which is will be more crumbly and hard to shape as balls if you make it as traditional nastar. While for the pineapple jam, because it takes hours to cook, so I make a big batch which will be enough to make 4 pie filling.

Pineapple Jam
Ingredients:
3 pineapple or about 1,2 kg peeled pineapple (don’t forget to remove the eyes), blend until smooth
5 cm cinnamon stick
3 cloves
300 gr sugar
Pinch of salt

Pastry ingredients (from Gourmet Travelers)
250 gr plain flour
60 gr icing sugar
160 gr cold unsalted butter, coarsely chopped
2 egg yolks



Directions:

Pineapple jam: put all the ingredients except sugar in a wok. Cook until almost dry, add sugar, stirring occasionally till light brown and thick. Rest to cool.

For pastry: process flour and sugar in food processor to combine, add butter and pulse until mixture resembles fine crumbs. Add yolks and process until mixture comes together. Turn out onto a work surface, bring together with the heel of your hand, form into a disc. Wrap in a plastic wrap and refrigerate to rest (30 minutes).

Pre heat oven to 170 C.

Roll out pastry on a lightly floured surface to 2 mm thick, line base and sides of 4 cm deep, 20 cm diameter tart tin, trim edges. Spread the jam 4 mm thick (Keep in jar the remaining jam, refrigerate up to a month).

Roll out remaining pastry on a floured surface to 3 mm thick, cut out assorted start with pastry cutters, offset on pastry. Brush lid and starts with egg wash. Bake until golden and crisp (1 hour).


Dig in.