Friday, June 26, 2015

Ananas Pie



Lebaran (religious holiday that marks the end of Ramadan) is time to fully charge your sweet tooth, isn’t it? One of the most popular cookies during Lebaran is Nastar (ananas tart), an Indonesian pineapple tart.

Making good pineapple tarts can’t be done in a flash. It takes time, a very long one (this is the reason why the nastar price is expensive). Unless you buy a readymade pineapple jam which – I won’t do that anyway because it contains preservatives. After – at least 2 hours – cooking mashed pineapples to make pineapple jam, it does however still takes time to rest them till cool, shape them into little balls and leave into firm. But the journey isn’t finished yet, you still have to make the pastry, divide them into little balls, flatten and place the jam balls in the middle of the dough and roll into a bigger balls now filled with jam. While the last step which takes time also is bake them. And guess what, with the more than 4 hours process, I believe the nastar will be gone in not more than an hour!

A quite long journey, huh?



I actually not that patient to follow all the steps, but lately I am craving for nastar. So I cheat a little by making the nastar into pie. Yes, into a pineapple jam filled pie or Ananas Pie. It saves much time and energy, but the best part is, the taste is the same!

You could use any nastar recipe you want, but here I use pie recipe for the pastry which is will be more crumbly and hard to shape as balls if you make it as traditional nastar. While for the pineapple jam, because it takes hours to cook, so I make a big batch which will be enough to make 4 pie filling.

Pineapple Jam
Ingredients:
3 pineapple or about 1,2 kg peeled pineapple (don’t forget to remove the eyes), blend until smooth
5 cm cinnamon stick
3 cloves
300 gr sugar
Pinch of salt

Pastry ingredients (from Gourmet Travelers)
250 gr plain flour
60 gr icing sugar
160 gr cold unsalted butter, coarsely chopped
2 egg yolks



Directions:

Pineapple jam: put all the ingredients except sugar in a wok. Cook until almost dry, add sugar, stirring occasionally till light brown and thick. Rest to cool.

For pastry: process flour and sugar in food processor to combine, add butter and pulse until mixture resembles fine crumbs. Add yolks and process until mixture comes together. Turn out onto a work surface, bring together with the heel of your hand, form into a disc. Wrap in a plastic wrap and refrigerate to rest (30 minutes).

Pre heat oven to 170 C.

Roll out pastry on a lightly floured surface to 2 mm thick, line base and sides of 4 cm deep, 20 cm diameter tart tin, trim edges. Spread the jam 4 mm thick (Keep in jar the remaining jam, refrigerate up to a month).

Roll out remaining pastry on a floured surface to 3 mm thick, cut out assorted start with pastry cutters, offset on pastry. Brush lid and starts with egg wash. Bake until golden and crisp (1 hour).


Dig in. 


Saturday, June 20, 2015

Belakang Layar Pemotretan Makanan

Dulu setiap kali mampir ke food blog, saya ga habis pikir mengapa para food blogger itu kok ya sebegitunya motrek makanan sampai ke gedung tua, taman, bahkan pantai.  Diam-diam saya membatin, untuk menjadi food blogger pastilah harus punya dapur putih cantik dan mesti berkantong tebal untuk jalan-jalan ke aneka tempat demi memotrek makanan di tempat tersebut.


Coba tebak ini motreknya di mana?
Yang jelas sih bukan di gedung tua dengan meja kayu berusia puluhan taun :P

Tetapi setelah mendalami Food Photography beberapa bulan terakhir ini, ternyata saya kecele! Tidak ada dapur putih luas dilengkapi aneka baking gadget canggih maupun gedung tua yang rustic seperti yang saya bayangkan. Dari banyak foto makanan yang saya lihat selama ini, terutama yang dilakukan oleh food blogger, kesan dan suasana yang tercipta dari foto yang mereka hasilkan ternyata dilakukan tanpa beranjak semeterpun dari rumah mereka sendiri!

Loh, kok bisa?

Jadi begini, pada dasarnya Food Photography adalah memotrek makanan dalam mode makro untuk mengekspos tekstur, bentuk dan warna makanan tersebut dengan tujuan membangkitkan selera siapapun yang melihatnya. Karena yang difoto hanya makanan (beserta properti pendukung), maka tempat yang dibutuhkan tidak terlalu lebar (bandingkan misalnya dengan fotografi lanskap yang mesti memotrek keindahan alam secara langsung). Jadi untuk memotrek tema baking, yang kita butuhkan hanya properti yang mendukung kesan “seolah-olah” berada di dapur. Motrek tema vintage, ya mesti pakai properti rustic yang membuat foto kita "seolah-olah" berada di tempat yang oldies

Lalu bagaimana cara mendapatkan “meja makan kayu rustic”, “dapur putih bersih” atau suasana “musim panas?”

Properti!!

Yup, selalu ada alasan untuk membeli perlengkapan, karena penataan properti di sekitar makanan yang kita potret sangat menentukan mood dan kesan yang ingin kita bangun (karena itu ada profesi food stylist!). Pemilihan properti yang tepat dapat menyiratkan dan menguatkan tema yang  kita usung, misalnya tema musim panas, lokasi di pantai, vintage, baking dll.

Mau tahu apa aja yang dibutuhkan untuk memotrek makananmu dengan tampilan seribu wajah? Let's check this out!


1.      Kayu

Untuk motrek makanan, pertama butuh alas dong, masa mau motrek beralaskan lantai? Alas paling cakep adalah kayu, karena serta-serat kayu memberi aksen lebih tanpa mengalahkan makanan itu sendiri. Enggak, ga perlu gotong meja mertua buat motrek, cukup cari kayu palet atau kayu box buah aja. Ada beberapa teman yang beruntung meminta gratis ke penjual buah/telur atau menemukan kayu ini di pinggir jalan. Tapi kalo kamu udah hunting sampe mata siwer dan belum nemu kayu juga, keluarkan lembaran Rupiah, hihihi.

Kayu palet ga mahal kok. Saya langsung datangi pembuat box buah (kalo kamu di Malang, bisa ditemui di daerah Juanda), biasanya sih ga jauh dari pasar tradisional. Untuk 6 bilah kayu berukuran panjang 1,2 cm dan lebar 9-15 cm, saya cukup membayar 10 ribu rupiah saja. Murce kan?

Kayu palet atau kayu box buah sebelum dicat
Kalo kayu udah di tangan, terus diapain? Dicat!!!

Sediakan aneka cat (asal jangan cat rambut atau cat kuku ya). Karena ingin mempertahankan serat kayu tapi ingin membuat warnanya lebih eksotis, saya pakai woodstain. Woodstain ini semacam cat kayu berbahan dasar air, tapi teksturnya cair kayak air dan bening berwarna kecoklatan (tergantung warna apa, saya pakai warna Salak Brown, berwarna cokelat tua). Untuk woodstain harganya agak mahal, sekitar 55 ribu per liter di toko bangunan. Tapi 1 liter itu buanyaaak loh, apalagi pakenya cuma sedikiiit, ga perlu ngecat berkali-kali lagi.


dicat pake woodstain

Alas kayu dicat (woodstain) coklat tua,
difoto di ruang tamu, bukan di gedung tua :P

Kalo sayang beli cat 1 liter yang ga tahu mesti dihabisin buat apa, pake cat enamel/besi atau cat akrilik aja, karena 2 cat ini tersedia segala ukuran, dari ukuran mini 50 ml sampe yang literan. Perbedaan keduanya, cat enamel/besi yang berbahan dasar minyak akan meninggalkan efek glossy (mengkilap) setelah diaplikasikan. Menurut saya kurang cakep kalo buat motrek. Solusinya, mesti diamplas berkali-kali agar kilapnya hilang, sekalian biar dapet kesan rusticnya.

Pilihan paling oke adalah cat akrilik yang berbahan dasar air dan bersifat doff, alias tanpa kilap setelah diaplikasikan, jadi ga perlu ngamplas. Cat enamel/besi bisa dibeli di toko bangunan, kisaran harga dari 7 ribu Rupiah untuk ukuran 100 ml. Sedangkan cat akrilik bisa didapatkan di toko buku bagian kerajinan tangan/kesenian. Harganya belasan ribu untuk ukuran 100 ml. 

Baliknya dicat pake cat akrilik warna hijau

Nih Ayam Woku beralaskan meja kayu hijau :D


Persiapan baking di "dapur putih"

2.      Triplek

Bahan kedua yang berguna banget sebagai alas atau background adalah triplek. Meski serat kayunya ga keliatan, tapi karena berbentuk lembaran dan tipis, triplek sangat enteng dan ga makan tempat. Selain sebagai alas dan background, triplek sangat berguna sebagai blocker loh.

Triplek yang paling tipis dengan ukuran  90 cm x 200 cm harganya mulai 45 ribu Rupiah. Saat beli, jangan lupa minta dipotongin sekalian sama penjualnya. Untuk ukuran di atas, saya minta dipotongin jadi 3, jadi saya punya 6 permukaan yang bisa dicat aneka warna, asyik kan?



Backrgound triplek dicat warna abu-abu,
alas triplek dicat warna coklat tua (woodstain)

Masih di tempat yang sama seperti milkshake,
musim panas gini nyeruput es kopi yuk?

Hidangkan bolu Jerman di "meja makan putih".
(padahal triplek dicat putih hihihihi)

3.      Meja Paralon

Udah punya alas kayu dan triplek buat motrek, tapi bingung mau ditaruh di mana. Masa mesti gotong meja makan ke sana ke sini demi mengejar indah cahaya matahari?

Kenapa ga bikin meja portable aja?

Dapet contekan dari @hennymarlina  untuk bikin meja portable dari pipa paralon. Jadi selain mudah dibongkar pasang, ringan dan ga makan tempat, biaya pembuatannya juga ga mahal-mahal amat loh. Berguna banget dibanding gotong meja ke sana ke sini yang bikin encok kambuh :p



Untuk meja paralon ini saya beli 2 x 3 meter pipa paralon ukuran 45 dim, 4 sambungan pipa berbentuk T dan 8 sambungan pipa berbentuk L, total semua 100 ribu saja. 2 pipa paralon tersebut dipotong (ingat untuk minta dipotongin ke penjualnya) dengan panjang 6 x 50 cm, 2 x 70 cm, 4 x 30 cm dan 2 x 10 cm. Pasang sambungan seperti gambar di atas, dan siap mengangkut kayu atau triplek di atasnya dengan beban maksimal sampai 5 kg.

Behind the scene foto pancake di atas:
meja paralon, alas kayu, background triplek, blocker triplek
tempat: di halaman belakang rumah *abaikan ember*

So, gimana, kamu ga perlu keliling kota dan desa untuk menyuguhkan foto makananmu kan? Cukup motret di rumah dengan properti di atas, kita bisa membuat makanan kita seolah-olah difoto di berbagai tempat.

Eiiits, meskipun memotrek makanan bisa dilakukan di rumah, waktu beli kayu, triplek dan pipa paralon mesti ke luar rumah dong!

Tahu ga siiih, untuk mencapai daerah Juanda tempat beli kayu palet, kan pulangnya mesti lewat pasar Kebalen yang jalannya geronjalan (banyak lubang sana sini), saya sampe mau jatuh. Bayangin aja bonceng bocah di depan, kayu paletnya di belakang diiket tali. Perjuangan belum berhenti di sana, karena esoknya, saya beli triplek, dan coba bayangin gimana bawa triplek sambil bonceng bocah? Jadi tripleknya saya dudukin, bocah berdiri di depan saya (kalo inget ini pengen nangis). Langsung deh cerita ke pak suami pengen mobiiiiil, tapi emang ada mobil yang irit, kece, performa ciamik tapi harganya terjangkau?



Kebetulan esoknya ada teman yang datang (makasih Pinot). Lagi enak ngobrol dan cerita tentang perjuangan bawa kayu dan triplek dua hari berturut-turut, eh dengan entengnya si teman cerita tentang Toyota Agya miliknya yang imut, stylish, hemat bahan bakar (penting buat kestabilan ekonomi), bagasi gede (penting banget buat emak-emak) daaaan harganya terjangkau. Ga percaya, langsung saya periksa sendiri, dan saya langsung jatuh cintah!



Meski termasuk imut untuk ukuran city car, tapi Agya gesit dan irit bahan bakar loh. Selain itu lihat interior dan eksteriornya yang lengkap, dari passenger seat model teranyar sampai kaca spion elektrik. Dari audio canggih sampai standar air bag untuk keamanan. Lihat kan, si kecil aja udah kerasan nyobain Agya. Malem ini lembur bikin proposal pengadaan Toyota Agya ke pak suami deh, doain di acc ya, hihihi..




Sekian postingan kali ini, yuk segera beli mobil Agya eh berburu kayu, triplek dan pipa paralon untuk menyulap tampilan fotomu. Takes a little works, but it worth loh...

Monday, June 15, 2015

Mi Kering Tropicana Slim: From Guilty to Healthy Pleasure



Pada jaman dahulu kala, saat tanggal tua menjadi hari-hari penuh perjuangan untuk mendapatkan makanan enak dan mengenyangkan hanya dengan bermodal tiga ribu Rupiah, mi instan selalu menjadi penyelamat. Lupakan soal buku Contending Theories of International Relations setebal 700 halaman yang habis saya baca saat itu, lha wong baca bungkus belakang mi instan untuk mengetahui kandungan gizinya aja ga pernah. Pada masa itu yang penting bagaimana bisa bertahan sampai uang kiriman datang lagi di awal bulan. Maka abaikan soal gizi, yang penting bisa makan makanan enak dan murah. (Ga heran, selama 5 tahun kuliah saya kena tipes 3x).

Hidup berubah 180 derajat saat berumah tangga dan memiliki anak. Tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu yang memberi makan suami dan anak membuat saya mengubah pola hidup untuk jadi lebih sehat. Sebisa mungkin memasak dan membuat sendiri makanan yang kami konsumsi. Kalaupun terpaksa beli, bisa dihitung dengan jari dalam sebulan. Termasuk mi instan yang saya beli diam-diam dan segera disembunyikan agar suami dan anak tak mengetahui rahasia kecil ini. 

Tapi tak jarang, rasa kangen akan masa-masa kuliah hinggap. Dan mi instan menjadi gerbang pembuka aneka memori pahit manis tersebut. Maka di malam sepi saat suami dan anak sudah terlelap, diam-diam saya memasak mi instan dengan telur ceplok dan irisan cabe rawit, persis seperti yang biasa saya lakukan dulu. Hanya kali ini, saat piring telah kosong, ada rasa bersalah yang membuncah. Terbayang berapa banyak kolesterol dan lemak, kandungan garam, belum lagi perasa dan pengawetnya.

Mi instan selalu menjadi dilema kita semua, istilah kerennya guilty pleasure, kesenangan yang bikin merasa bersalah. Kita sadar mie instan bukan makanan sehat, tapi kita selalu tergoda karena dulu (atau sampe sekarang?) mie instan selalu hadir dalam menu kita. Lalu gimana dong kalo kepengen? Ada ga ya mi instan yang bebas dimakan dan ga bikin merasa bersalah?

Kemasannya ekslusif, sukaaaa!


ADA!

Yup, Tropicana Slim kini merilis produk baru berupa mi. Dengan 2 varian mi kering dan mi kuah yang sama-sama lezat, Mi Tropicana Slim dijamin lebih sehat karena memiliki kandungan lemak, garam dan kalori yang lebih rendah dari mi instan yang selama ini kita kenal.

Loh emang mi instan bisa sehat?

Bisa dong!

Tahu kenapa sisa air rebusan mi instan selalu berwarna kuning keruh? Keruhnya air rebusan karena lemak yang terkandung dalam mi instan meluruh saat mi dimasak. Bandingkan dengan sisa rebusan Mi Kering TropicanaSlim yang berwarna kuning jernih. Usut punya usut, kadar lemak yang jauh lebih rendah ini disebabkan proses pemanggangan Mi Kering Tropicana Slim, sedangkan mi instan lainnya diproses dengan cara digoreng.

Anyway, kalau soal kesehatan jelas ya, produk Tropicana Slim dijamin mengandung nutrisi terbaik. Tapi soal rasa gimana ya? Itu batin saya saat pak suami tiba-tiba beliin Mi Kering Tropicana Slim, rupanya beliau sadar kalau istrinya suka bikin mi sembunyi-sembunyi hihi. Dengan agak enggan saya bikin, ga terlalu berharap dengan rasa lah ya, biasanya yang mengklaim makanan sehat kan pasti mengorbankan rasa, sedangkan lidah ga bisa bohong cyiiin.

ide cerdas: wadah plastik pembungkus mi agar mi tidak rusak


But hey, it is surprisingly delicious!

Tekstur mi nya seperti mi keriting, lebih pipih dari mi instan yang selama ini saya konsumsi. Tekstur pipih ini membuat waktu pemasakan lebih cepat dan bumbu lebih meresap ke dalam setiap helai mi. Dan yang bikin kaget, rasa ayam bakarnya enak, asinnya pas, dan terasa lebih light dibanding mi instan biasanya. Sampai suapan terakhir, saya tidak merasa eneg yang tertinggal di tenggorokan.Yang bikin lebih happy, kini makan mi ga perlu pake sembunyi-sembunyi lagi dan bisa dinikmati bersama suami dan anak, asyik kan?

My Healthy Pleasure!


Alhasil, sejak ketemu Mi Kering Tropicana Slim makan mi instan bukan lagi guilty pleasure, tapi healthy pleasure, terima kasih Tropicana Slim!


Saturday, June 6, 2015

The so called German (cup)Cake with Swiss Meringue

Sorry, all you can see is just perfect cupcake. You wouldn't notice that it shrank. 

Its called German Cake  though it has nothing to do with Bienenstich or Baumkuchen. This what-so-called as Bolu Jerman (German Cake) came from nowhere but here, with indescribable from whom or why it has its name. 

Anyway, this short of chiffon cake with all in one method is worth to try. It is really smooth as silk and relatively easier than chiffon cake, where you have to whisk egg yolks and whites separately. 

It should have been easier, but i failed making this cottony pillowy cake! My cake shrank successfully right after I took it from the oven. The middle of the cakes collapsed though the edges were OK. My friends told me it probably because I whisked it too long, so it had too many air inside (I don't know how to translate those chemistry code into human language, sorry).

So, what is the best way to hide those concave? Swiss Meringue! I know, I'm genius! I mean, I have no time to use the whites leftover, so why don't we use it as meringue on top of it, considering that I also use my muffin tray for these cake. 


I should have deleted this picture, now you see the cake shrink!

German Cake (Bolu Jerman)
from various source

Ingredients:
 6 egg yolks
3 egg whites
100 gr butter, melted, cooled
100 gr granulated sugar
60 gr all purpose flour
35 gr corn flour
25 gr milk powder
1/2 sdt emulsifier (skip)
1/2 sdt vanilla extract
pitted prunes

Swiss Meringue
3 egg whites
150 gr granulated sugar

Directions:
Preheat oven to 180 C.
Combine all ingredients except melted butter. Using an electric mixer, beat for 15-20 minutes.
Add pitted prunes.
Gradually pour the melted butter, fold to combine. 
Spoon mixture into bundt pan (I used 9 cup muffin tray and 2 loaves), bake for 15 minutes for the muffin and 30 minutes for the loaves. 

For meringue, whisk egg whites on high speed until stiff peaks (1-2 minutes), gradually add sugar and continuously until stiff and shiny (4-5 minutes).
Spoon mixture into a piping bag fitted with a 1 cm plain nozzle. 
Place the cupcakes on baking tray, pipe meringue on top of cupcakes. Bake for 3-4 minutes or until lightly browned. 





Week 18: Cold Beverages

Kalo dipikir-pikir, saya ga pernah motrek minuman dingin. Jadi saat tema 52WFPP minggu ke-18 ini keluar, saya langsung buka pinterest dan gugling foto2 minuman dingin, elemen apa saja yang diperlukan untuk menunjang kesegaran, styling serta aneka trik dan tips.

Seperti namanya, foto minuman dingin harus membuat siapapun yang melihat jadi mengelus dada eh tenggorokan alias clegukable. Bila foto minuman panas membutuhkan asap untuk menunjukkan kondisi panas, lalu sebaliknya bagaimana cara membuat foto minuman kita terlihat sangat segar?

Embun!


Embun di gelas, irisan lemon yang terlihat segar (transparan),
es batu yang mencair.
langsung haus liat foto milik @kxwardani, iya kan?

Yap, embun atau kondensasi “wajib” ada untuk menunjang kesan kesegaran suatu foto minuman dingin. Berikut beberapa catatan untuk menampilkan foto minuman yang clegukable:

-        Untuk mendapatkan hasil foto seperti halnya foto produk minuman dingin dengan embun yang melimpah, lighting harus kuat, bisa jadi membutuhkan 2 sumber cahaya untuk dapat mengekspos butiran embun yang menempel di gelas

-        Cara mendapatkan embun di gelas: taruh gelas di dalam kulkas selama beberapa menit, sediakan es batu yang sangat banyak, siapkan set pemotretan. Setelah semua siap, taruh gelas dalam posisinya, isi es batu hingga hampir penuh, lalu tuang minuman dingin, tunggu beberapa detik hingga muncul embun.

-        Bila embun kurang terlihat jelas, gelas bisa disemprot dengan semprotan kecil

-        Pemakaian minuman berkarbonasi (soda) bisa mengangkat efek kesegaran, syaratnya minuman soda harus terlihat gelembungnya. Artinya harus kerja cepat, siapkan set seperti poin di atas, setelah semua siap isi gelas dengan es batu lalu air soda dan cepat2 dipotret, karena buih soda paling banyak saat dituang dan akan menghilang seiring waktu.


-        Bila menggunakan buah-buahan segar untuk air soda (misalnya mojito), buah2an semakin lama akan mengapung karena massa jenisnya lebih ringan dari air soda, jadi begitu air soda dituang, harus langsung dipotrek.


Gelembung soda menambah efek kesegaran
sruputable pict by @hennymarlina

-        Dari beberapa peserta di dapat penemuan tentang jenis bahan gelas dan kondensasi: gelas yang tipis (apalagi yg bersifat konduktor (penghantar panas) seperti stainless stell) akan lebih cepat berembun dan lebih lama menahan suhu dingin dibandingkan gelas kaca yang tebal atau terbuat dari bahan isolator

-        Bila semua cara telah dilakukan tapi kondensasi belum tertangkap dengan jelas, maka “mood” kesegaran yang harus diperkuat dari sisi styling, komposisi, warna atau property penunjang. Misalnya di sekeliling gelas diberi beberapa es batu yang mulai mencair, pemakaian warna-warna dingin seperti biru, hitam, hijau; sehingga meskipun gelas tidak berembun (atau kurang kelihatan), namun mood kesegaran bisa ditangkap audience.

Sudut pengambilan gambar

Karena bentuk gelas yang tinggi (vertical) maka angle paling tepat untuk menangkap isi gelas (beserta embun di dinding gelas) adalah eye level (sejajar mata). Namun meski begitu, aturan ini tidak bersifat baku. Memotrek minuman dingin di dalam gelas bisa saja dilakukan dengan Bird Eye View (BEV), namun beberapa yang harus diperhatikan bila menggunakan angle ini adalah informasi yang cukup mengenai apa yang ada di dalam gelas. Misalnya memotrek smoothie, perlu adanya bahan-bahan pembuat smoothie di sekitar gelas dan memperkuat mood kesegaran minuman tersebut lewat styling, komposisi, warna atau properti seperti pembahasan di atas.
minuman bisa tampil dengan BEV, asalkan
terdapat cukup informasi tentang bahan pembuat minuman.
pict by @nyirocker

Daaan, foto yang saya kumpulkan hanya segelas milkshake cokelat yang semoga bikin pengen siapapun yang lihat :D


Milkshake cokelat dg whipped cream dan oreo





Week 19: Noodle

Bila dilihat dari galeri saya di Instagram, terlihat bahwa saya sangat jarang memotrek masakan lengkap (dish). Sebagian besar berupa penganan kecil yang sudah dari sononya terlihat cukup fotogenik, mudah didandani, serta tidak membutuhkan perlakuan khusus, dalam arti tidak berkejaran dengan waktu saat motrek, masih cukup aman dijepret selagi dalam kondisi panas maupun dingin.

Maka saat tema Mie muncul di minggu ke-19 52WFPP, jujur saja saya keder. Tiba-tiba teringat dengan tema Indonesian Food. Saat itu dengan sangat menggampangkan saya lakukan pemotretan di hari Sabtu, hari terakhir waktu pengumpulan. Dan ternyata foto ayam bumbu kuning punya saya gagal, tidak terlihat seperti ayam. Maka saat itu saya putuskan untuk bolos. Buat apa ngumpulin bila sejak awal saya kurang persiapan mengerjakannya sehingga hasilnya tidak maksimal?

Maka untuk minggu ini, saya sengaja bikin persiapan khusus, saya mesti motrek di awal2 minggu dengan konsep matang. I cooked the noodle by myself in two days (in a row), shot them in the same spot and properties, but in the different time. Berat dan sulit (mengingat saya sangat malas masak), tapi saya ga mau lagi menyepelekan tugas. Meski hasilnya belum memuaskan, but I know I have done my best, and I’m quite happy with that.

Dari 3 hari njepret, membaca dan mencatat berbagai masukan tentang styling mie, ini beberapa yang saya highlight:

Tahap persiapan:

-        Bila menggunakan sayur, sayur dimasak di wadah yang berbeda, atau cukup disiram air panas lalu cepat-cepat direndam air es agar warna sayur masih tetap terlihat cantik dan segar
Keuntungan dari memasak makanan yang kita foto adalah
kita bisa mengontrol seberapa matang makanan tsb.
Gagal poached egg hari 1, hari ke-2 pake telur rebus, less risky

-        Bila menggunakan telur, telur rebus adalah opsi yang paling aman, tapi mesti berhati-hati saat mengirisnya agar kuning telur terlihat mulus.


Foto hari pertama: poached egg yang tak berbentuk,
sayur terlihat terlalu matang.

-        Untuk poached egg agak tricky, sebaiknya poached egg dimasak setengah matang sehingga putih telur masih terlihat transparan, thus kuning telur masih terlihat jelas warnanya, untuk menambah drooling factor, bisa ditusuk/diiris sedikit sehingga kuning telur mbleber (bikin jilatable).

-        Untuk telur ceplok, bentuk tercantik pastilah telur mata sapi dengan kuning telur yang setengah matang.

-        Untuk mengurangi Over Exposure yang kerap menimpa putih telur yang berminyak, bisa diakali dengan taburan cabe kering atau irisan daun bawang


Cabe bubuk ditaburkan di telur untuk menghindari Over Exposure
Pict by @haswawed

-        Siapkan properti pendukung: piring untuk mie goreng, mangkok untuk mie kuah. Aturan ini tidak strict, boleh memakai wadah yang tidak biasa (ada beberapa peserta dengan ide cemerlang memakai wadah berupa cobek dan pincuk). Alat makan bisa sumpit, garpu, sertakan sendok untuk mie kuah.

Tahap styling:

-        Pertama Mie ditata dengan cara dicepol/menggunung (bisa dengan menaruh mangkuk kecil terbalik di dalam wadah mie. Bentuk cepol tersebut bertujuan untuk menambah dimensi mie dan menaikkan volume agar mie tidak terlihat flat.


Bentuk yang menggunung membuat mie terlihat
berdimensi dan bervolume
pict by @dewitrisna

-        Untuk mie dengan messy style, mie tetap harus dicepol terlebih dahulu, setelah mie rapi, ambil/cabut beberapa helai mie dan biarkan jatuh scr natural, sehingga desan grafis sbg mie yg berdimensi masih terlihat thus tidak mengganggu tampilan mie.

-        Setelah mie rapi, sayur, lauk , taburan bisa ditata. Misalnya sayur ditempatkan di pinggir mie bersebelahan dengan tomat dan atau telur. Udang/potongan ayam bisa ditaruh/ditempel di mie sedemikian rupa agar terlihat natural, atau cukup ambil 2-3 biji dan ditata yang cantik di atas gundukan mie.


Mie ditata sedemikian rupa dengan lauk yang cukup
agar terlihat cantik dan berimbang.
Pict by @lonapandy


Mie Goreng:

-        Permukaan mie dioles dengan minyak tipis tipis sehingga terlihat shiny saat terkena cahaya


Minyak di tiap helai mie terlihat jelas,
menambah faktor jilatable
pict by @lestijoeniar

Mie Kuah:

-        Untuk mie kuah lebih tricky daripada mie goreng, karena tujuan dari mie kuah adalah efek kesegaran yang didapat dari kuah. Efek kesegaran (sruputable) tersebut didapat dengan cara pantulan di kuah (thus, butuh cahaya yang aga kuat).


Lihat pantulan di kuah? salah satu syarat
agar kuah terlihat segar, sruputable.
pict by @anitajoyo

-        Karena kuah mie pada dasarnya adalah kaldu, maka perlu terlihat minyak kaldu di kuah, agar tidak seperti air. (untuk poin ini, kuah milik saya seperti air putih, bening tak terlihat minyaknya. Waktu saya tambahkan minyak goreng ke dalam kuah, hasilnya minyak menggumpal dan tidak tersebar di pinggir mangkok. Jadi sepertinya, memang butuh memasak kuah kaldu dengan lama untuk mendapatkan kuah yang berminyak)

-        Penggunaan property gelap sebagai wadah gelap lebih sulit untuk menampilkan kesegaran dan kelezatan kuah kaldu, bisa jadi wadah berwarna terang lebih mampu memperlihatkan minyak kaldu.

-        Saat mie dan lauk diatasnya sudah tertata rapi, tuang kuah di pinggir hingga terlihat menggenang (tapi ga banjir), lalu cepat2 jepret, karena semakin lama kuah akan meresap ke dalam mie, membuat mie mengembang dan kuah terserap habis. Opsi aman: kuah ditaruh di wadah tersendiri.

Untuk tema ini @sefafirdaus membebaskan bila ada yang memotrek mie mentah. Untuk memotrek mie mentah, maka arahnya lebih ke still life, bukan drooling effect yang kita kejar (ya masa mau makan mie mentah..); tapi perasaan wow, terkesima, terkesan dsb. Untuk itu dibutuhkan penguasaan dan permainan cahaya yang memadai agar mie mentah dapat stand out dan membuat siapapun yang melihat berdecak kagum.


Mie mentah juga mampu tampil wow dengan
cahaya dan styling yang cantik.
pict by @elizasetiawan