Friday, October 30, 2015

Kue Ku (Kue Thok) dan Jelajah Boga Indonesia

Kue Ku alias Kue Thok

Jadi begini. Di beberapa postingan terakhir, saya curhat betapa motrek makanan Indonesia itu ga seindah rasanya. Kita semua boleh jumawa betapa masakan Indonesia paling enak sedunia, tapi dengan rupa yang tidak fotogenik, apa iya anak cucu kita nantinya mengamini pendapat kita di tengah serbuan waralaba gerai fastfood dari western, Korean, Japanese dsb yang penampakannya lebih eye catching? Jangan-jangan waktu kita ngomongin kare, yang di kepala mereka terbayang karage; kita cerita tauco dikiranya taco K

Beruntung, saya dikelilingi orang-orang yang sedari awal sudah getol untuk memotrek masakan Indonesia dengan cantik. Saya yang mulanya antipati sama makanan Indonesia, lama-lama terketuk juga api keindonesiaan saya karena kompor mereka. Iseng-iseng kami bikin akun @jelajahboga di instagram untuk ikut serta dalam upaya mendokumentasikan masakan/makanan/minuman/buah/sayur khas daerah-daerah nusantara. Keinginan kami ga muluk-muluk, kami cuma ingin kita semua lebih getol motrek masakan Indonesia daripada masakan luar. Eh ini namanya muluk-muluk ya hahaha.

Jadi, buat kamu yang punya akun instagram, yuk sertakan tagar #jelajahbogaindonesia di caption foto masakan Indonesiamu, setiap harinya akan kami pilih 1-2 foto untuk kami kurasi. Selain foto, yang tidak kalah penting adalah resep atau cerita tentang masakan/minuman/buah/sayur tersebut. Misalnya nih foto keluwek, selain dibikin rawon biasanya dibikin apa? Atau barangkali ada tips untuk memilih keluwek yang bagus gimana? Dsb dsb. Karena kami yakin, setiap kuliner memiliki akar budaya yang berbeda, sehingga ceritanya pun berbeda.

Back to blog yang sudah 2 minggu libur, bebarengan dengan Pukis Pandan, 2 minggu saya juga bikin Kue Ku. Usut punya usut, ternyata Kue Ku ini berasal dari Tiongkok. Ku dalam bahas Tionghoa dialek Hokkian berarti Kura-kura, untuk menyebut bentuknya yang menyerupai kura-kura. Rakyat Cina selalu menyediakan Kue Ku di perayaan-perayaan besar keluarga seperti kelahiran atau ulang tahun orang tua, karena bentuk Kura-kura menyimbolkan panjang umur dan rejeki berlimpah.

Sedangkan di Jawa, Kue Ku lebih familiar dengan sebutan Kue Thok karena saat mengeluarkan adonan Kue Ku dari cetakan kayu, bunyinya “Tok Tok”. Nah karena suatu kali tersesat di sebuah toko tua dan menemukan cetakan kayu Kue Ku yang sudah uzur, di kepala langsung terbayang kenyalnya kulit yang terbuat dari tepung ketan dan legitnya kacang hijau kupas sebagai isiannya. Alhamdulillah, Kue Ku yang diwarna dengan daun suji ludes hari itu juga. Enaaaak!!!

Sunday, October 25, 2015

Day 3

Pernahkah terbersit di benakmu, bahwa sudut pengambilan foto ternyata juga menentukan cerita foto kita? Dengan aneka bentuk hero, ada beberapa bagian yang pastinya lebih menarik untuk ditonjolkan daripada bagian lainnya. Atau mungkin bagi yang bikin sendiri, selalu ada bocel-bocel ketidaksempurnaan yang sebisa mungkin ga keliatan saat difoto :D

Ada berbagai sudut pengambilan gambar dalam FP, katakanlah sudut 10 20, 30 derajat, 45 derajat atau 90 derajat. Pemilihan sudut pengambilan gambar sangat krusial untuk menyampaikan cerita foto kita. Misalnya mau motrek pizza yang berbentuk datar pipih, apa ga kliatan kayak roti maryam kalo dipotrek pake sudut 0 derajat? Sebaliknya untuk motrek makanan yang memiliki volume dan ketinggian dengan lapisan cantik seperti burger, apa bisa bikin ngiler kalo dipotrek dengan sudut 90 alias dipotrek dari atas?

Karena itu, hal pertama saat mempertimbangkan mau memakai sudut pengambilan berapa, kita perlu tau bagaimana bentuk, tekstur, sifat dan apa yang menonjol dari hero yang akan kita potrek. Apa yang ingin kita perlihatkan ke audience? Lapisannya? Warnanya? Bentuknya? Teksturnya? Atau kegiatan yang sedang dilakukan?



Foto nangka ini misalnya, saya pengen memperlihatkan bentuk nangka kupas, sekaligus menunjukkan setting meja messy (ceritanya habis ngupas nangka trus mau dicemil gitu). Coba bayangin kalo nangkanya belum dikupas lalu difoto dengan sudut dari atas seperti ini, ga bakal keliatan kalo itu nangka kan?

So, foto nangka ini adalah foto pertama yang saya kumpulin untuk 30dbfp. Motreknya udah sore sekitar jam 5an, dengan matahari yang hampir tenggelam. Karena dikejar waktu, saya ga sempat utak-atik komposisinya. Jadinya ya, kaku gitu. Piring 1, 2 dan biji nangka berada pada satu garis lurus. Kalo mau diubah, saya bakal geser piring kiri lebih ke atas dan mengamini krisan Winda Priandita, untuk mengurangi nangka di piring kiri agar fokus ga rebutan antara piring 1 dan 2. Dan mungkin nambah beberapa serat atau biji nangka di sekitar piring. Atau nampak napkin juga? Entahlah. Gitu deh kalo motrek tanpa persiapan. 


Sekian laporan hari ke-3.  

Day 2

As I told you earlier, sebagai seseorang yang ingin menjadi seorang food blogger yang baik dan gaya #eaaaa, saya selalu terdorong untuk memotrek hasil kreasi saya sendiri. Selain untuk mendokumentasikan resep dan bikin saya rajin di dapur, juga agar saya lebih mampu mengeksplorasi setiap sudut dan sifat makanan yang saya bikin untuk kemudian dipotrek.

Nah di 30dbfp ini, sikap di atas ingin saya aplikasikan. Iya iya bakalan berat baking/masak untuk dipotrek setiap harinya selama 30 hari. Kak Henny pun udah memperingatkan sebaiknya fokus di foto aja, tanpa peduli subyek apa yang dipotrek. Tapi karena saya ga kapok sebelum kepentok, maka dengan ini saya keukeuh untuk motrek apa yang saya bikin. Minimal motrek bahan mentah lah. Pokoknya bukan makanan beli.


Jadi yah, tugas hari kedua 30dbfp adalah memutuskan mau motrek apa selama 30 hari ke depan. Dan pleidoi di atas adalah jawaban saya. 

Garing banget laporannya. 

Day 1

Pernah suatu kali mbok bertanya (yang sampai sekarang belum saya jawab pertanyaannya), siapa fotografer favorit saya. Kalo fotografer secara umur (bukan food photographer), tentu James Nachtwey akan selalu menempati urutan teratas. Beliaulah yang pertama kali membuat saya jatuh cinta pada melukis dengan cahaya. Dan beliaulah yang memercik impian saya bertahun lalu untuk menjadi agen perdamaian di Afrika. Tapi takdir berkata lain, tentu saja. Saya ga ke Afrika. Dan alangkah baiknya kita beralih ke topik selanjutnya, yakni food photographer favorit, daripada saya kembali labil meratapi nasib karena cita-cita tak tercapai.

Jujur saja saya bingung memilih karena saking banyaknya food photographer yang karya-karyanya banyak menginspirasi dan mempengaruhi saya. Dari Eliza Setiawan yang membuat saya jatuh hati ke low key, Sefa Firdaus yang membuat saya semakin terjerat ke FP, Ira Rodrigues yang penguasaannya terhadap cahaya bikin saya klepek-klepek, Asri Pamuncar yang mengubah pandangan saya tentang food photography, La Binar yang menggelitik dengan still life, Henny Marlina yang banyak mengajari soal teknis fotografi, sampai Anitajoyo yang memancing kecintaan saya pada makanan Indonesia; daaan banyak lagi lainnya yang tidak sempat saya sebutkan satu demi satu. Tapi untuk tugas hari pertama 30 dbfp ini, saya pilih fotografer yang telah disediakan Neel aja ya, biar nama yang saya sebutkan di atas ga pundung karena saya cuma milih 2 :D

Pertama, saya pilih Matt Armendariz.

bukan foto saya, tapi milik Matt Armendariz
diambil dari https://www.pinterest.com/pin/72761350205895129/

Foto-foto Matt Armendariz menurut saya tipe editorial/ food blog yang lebih banyak bermain dengan ketidaksempurnaan untuk menunjukkan jejak aktivitas manusia di dalamnya. Dalam setiap fotonya, selalu ada detil kecil yang membuat saya ditarik ke dalamnya, ikut menikmati makanan yang difotonya. Misalnya di foto muffin, galette atau es krim, akan selalu kita temukan muffin yang telah digigit, galette yang dikucuri saus caramel yang berantakan atau es krim yang mencair. Namun justru sentuhan manusiawi itulah yang membuat fotonya hidup dan membuat makanan terlihat sangat real dan sangat applicable untuk dibuat di rumah. Di foto-foto Armendariz, property digunakan dengan jitu, sebagaimana fungsinya. Misalnya di foto galette, tak ada property lain kecuali sendok dengan bekas saus caramel. Dan sendok tersebut sudah cukup menyampaikan cerita foto tentang pembuatan galette dengan kucuran saus caramel yang berantakan, lengket namun manis.

Kedua, saya pilih Helene Dujardin.

Tak jauh berbeda dengan Armendariz, karya-karya Helen Dujardin  bernafaskan foto editorial yang homey sekali. stylingnya effortless, sangat luwes, dengan cahaya yang kalem. Tentang stylingnya, bisa jadi karena beliau berangkat dari food blogger sehingga foto-fotonya sangat bercerita. Makanan tidak hanya menjadi hero, tapi juga pendukung suasana. Sehingga tak jarang kita temui susunan botol-botol sebagai background untuk menegaskan suasana di dapur, atau sekedar jendela besar di sebelah meja makan yang menguatkan cerita sarapan pagi

So dari kedua fotografer di atas, saya menyimpulkan bahwa tendensi saya mengarah pada foto-foto model editorial yang lebih banyak menekankan pada cerita foto, daripada kesempurnaan subyek itu sendiri. Kalo kamu, siapa food photographer idolamu?


Anyway, tulisan ini adalah laporan hari pertama dari rangkaian 30 Days for Better Food Photography (30dbfp) yang digagas Neel dari LFP. Sebuah kursus onlen selama 30 hari non stop yang mengharuskan pesertanya untuk memotrek makanan sesuai dengan tema yang diberikan setiap harinya. Last thing, doakan saya bisa istiqomah ya, untuk baking, motrek dan nulis laporannya di blog. 

Monday, October 19, 2015

Pukis Pandan


Suatu kali, seorang karib yang saya anggap adik sendiri bertanya heran, kenapa di galeri instagram saya sangat jarang ditemui masakan Indonesia. Saya mengiyakan keheranannya, karena memang, jujur saja masakan Indonesia menurut saya tidak fotogenik. Coba ingat bentuk dan tekstur rendang, yang pernah nangkring sebagai jawara makanan terlezat di dunia tahun 2013, hitam pekat dengan bongkahan daging yang mirip batu. Mau distyling model apa cobaaaa??? Dikasi dedaunan di sebelahnya? Kayak taman berbatu dong.

Gimana dengan jajanan tradisional? Meski terlihat fotogenik dengan warna-warna mencolok dan bentuk yang menggemaskan (terbayang cenil seperti ulat pink), tapi tau sendiri kan makanan tradisional itu ribet bikinnya. Bahannya boleh murah dan sederhana, tapi siapa coba yang mau mbuletin puluhan klepon dan mengisinya dengan gula merah untuk satu resep? Belum lagi proses merebusnya yang rawan njebrot. Aaaghhhhh. Paling gampang ya beli, udah murah, tersedia tiap hari lagi.

Nah yang terakhir ini saya agak segan. Sebisa mungkin makanan yang saya foto ya saya masak sendiri. Mengamini beberapa foodblogger senior, saat memasak makanan yang kita potrek, kita akan merasa lebih nyambung saat memotreknya. Karena kita tahu bagaimana proses dan seluk beluk pembuatan sehingga lebih mudah mencari apa yang mesti ditonjolkan dan apa yang mesti disembunyikan. Coba kalo makanan beli, dapetnya itu ya udah itu aja yang dipotrek. 

Sampai suatu hari saya membaca buku Antropologi Kuliner Nusantara terbitan Tempo.

Lalu saya tersentak.

Sunday, October 18, 2015

Banana Cake




Buat yang hobi baking, pasti pernah (atau sering banget?) bikin banana cake. Gimana enggak, rata-rata resep banana cake sama aja (cuma beda di takaran), bahan2nya sangat home friendly dan yg terpenting, bisa dibikin dari bahan yang murah sampe yang mahal (ini penting di saat akhir bulan pengen ngemil hihi). Bahan utamanya cuma telur, tepung, gula dan lemak. Mau dibikin eggless bisa, tinggal tambahin bahan cairnya. Mau tambah susu/yogurt bisa, tinggal utak-atik perbandingan bahan kering : bahan basah. Lemak bisa dari mentega, margarin atau minyak sayur/minyak goreng. Mau legit bisa pake gula palem atau brown sugar (atau, hey udah pernah cobain pake gula merah?). Isiannya bisa dari kacang, choco chips atau tanpa isian juga udah okeh.

Kali ini saya bikin Banana Cake punya Julie Hasson. Ihwal resep ini, dulu saya sering kepoin twitter mbak Ienas Tsuroiya. Beliau jualan Banana Cake yang sepertinya selalu jadi best seller. Akhirnya saya dapat resep dari dapursolia yang berasal dari mbak Ienas Tsuroiya. Entah resep ini yang dipake beliau jualan atau ga, saya ga paham. Tapi yang jelas, cake ini enaaaak banget.

Sunday, October 4, 2015

Tentang Orisinalitas



Dengan muka penuh amarah artis Titi Rajo Bintang mengarahkan moncong bedil ke kepala Marcellino Lefrandt, di bawah Titi tersungkur penyanyi Andre Hehanusa dalam dekapan Regina Ivanova. 

Sudah bisa menebak cerita di atas berjudul apa? Yak anda benar, Sabai Nan Aluih adalah salah satu dari 17 foto cerita rakyat yang dipamerkan di Grand Indonesia Agustus lalu. Pameran foto bertajuk Alkisah yang melibatkan 100 pekerja seni tersebut merupakan mahakarya dari fotografer muda Rio Wibowo atau yang populer sebagai Rio Motret.

Mengangkat cerita yang popular ke dalam foto dan menggunakan sosok selebritis sebagai modelnya, hmmm, sounds familiar?

Yuuhuuu, konsep seperti itu telah lebih dulu diangkat oleh fotografer kenamaan asal AS, Annie Leibovitz. Sejak tahun 2007 hingga kini, Leibovitz telah mempublikasikan foto-foto selebriti AS dari Taylor Swift sampai David Beckham dalam balutan seri kisah Walt Disney seperti Putri Salju, Cinderella, Rapunzel, Putri Tidur, dll.

Eeeeh, tunggu. Kalo Leibovitz udah lebih dulu bikin foto dengan konsep seperti itu, lalu pameran foto Alkisah punya RioMotret ga orisinal dong?

Siomay Batagor


 
Jauh sebelum Cornelis De Houtman melabuhkan jangkar kapal di Banten tahun 1596, bangsa Cina telah terlebih dahulu mendarat di pesisir pantai Jawa Timur pada abad 5. Rombongan ras kuning tersebut datang bergelombang dalam misi perdagangan dengan kerajaan-kerajaan nusantara.

Namun kemudian kita tahu bahwa bukan hanya kain sutera dan rempah-rempah saja yang dihasikan dari ekspedisi Panglima Ceng Ho. Lebih dari itu, ada asimilasi dan akulturasi budaya Cina dan Indonesia yang menghasilkan kebudayaan anyar yang menjadi salah satu kekayaan khas Indonesia.

Termasuk di dalamnya adalah kuliner peranakan.

Saturday, October 3, 2015

Roti Tanpa Uleni


Bicara tentang ragi adalah berbicara tentang peradaban manusia itu sendiri. Karena konon, ragi telah dimanfaatkan oleh bangsa Mesir Kuno sejak jaman prasejarah, suatu masa saat manusia belum mengenal tulisan. Bangsa penyembah Dewa Ra tersebut menggunakan ragi dalam proses fermentasi untuk membuat minuman beralkohol dan roti.

Sedangkan di Indonesia, roti adalah panganan asing yang dikenalkan Belanda di abad ke-20. Meski demikian, ragi sebagai mikroorganisme yang mampu memfermentasi karbohidrat bukanlah hal  asing di Indonesia. Menurut Denys Lombard, tempe berasal dari kata nusantara tape yang mengandung arti fermentasi, dan wadah besar tempat produk fermentasi disebut tempayan. 

Karena itu, jujur saja, secinta apapun saya dengan roti, roti bagi saya tetap panganan asing. Yang tidak bisa menggantikan nasi, yang keberadaannya sekedar menjadi obsesi baking, yang setiap kali memakannya dengan margarine mengingatkan saya pada masa kecil dulu.