Monday, November 30, 2015

Babka Labu



Ada banyak cara pembuatan dan jenis roti di dunia, salah satunya adalah Babka. Babka merupakan salah satu tradisi pembuatan roti bangsa Yahudi di Eropa Timur yang kemudian menyebar cepat di Amerika Serikat pada awal abad 20.

Baik Babka maupun roti manis lain tidak memiliki perbedaan pada komposisi bahan-bahannya yang terdiri dari tepung, ragi, gula, susu dan telur. Satu-satunya yang membedakan adalah cara membentuknya. Adonan babka diolesi cokelat atau gula kayumanis, kemudian digulung atau dipuntir untuk dimasukkan ke dalam loyang loaf sebelum ditaburi streusel. Sehingga saat dikonsumsi, Babka tidak memerlukan olesan seperti selai karena rasanya yang sudah kaya.

Penasaran dengan Babka, beberapa waktu lalu saya pun memguatkan tekad dan niat bikin Babka. Padahal kalo udah mencium harum bau roti matang dari oven, segala cucuran keringat saat nguleni langsung menguap entah kemana. Tapi entahlah, ngebayangin nguleni itu sudah bikin ngantuk duluan.

Mumpung punya kabocha yang dibeli saat diskon 50%, yuk mari kita manfaatin. Ehhhmm.. sebenarnya ga ada ceritanya sih Babka dicampur labu, tapi kalo cireng aja sekarang diisi mozarella, ga salah kan kalo Babka dibuat dari labu?

Friday, November 27, 2015

Zebra Cake


Hidup adalah serangkaian pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Dibiarkannya kita meragu, menunggu dan melaju untuk mencari tahu. Seperti rindu. Tak pernah kita tahu bahwa apa yang biasa kita temui setiap hari, sekejap saja tiba-tiba musnah. Pergi untuk selamanya. Lalu kita pun terdiam pilu, menyesali mengapa waktu berlalu begitu kejap, hingga tak menyisakan apa-apa untuk kita.

Memandang tanah merah basah sore itu membuat saya, entah. Hanya rekaman memori yang terus menerus berputar di kepala. Ketika jasad orang tercinta telah terbungkus tanah untuk selamanya, saat itu baru kita sadar betapa waktu tak pernah menunggu. Hari ini atau esok nanti, bisa jadi saya yang terbaring di sana.

1 minggu yang melelahkan. Seolah semua energi terserap habis di hari itu. Tapi saat tak sengaja membuka buku resep, ada semangat memercik. Then I cook, bake, make something. Tanpa sadar, dapur telah menjelma menjadi sarana teurapis, tempat saya kembali menyala. Entah dengan pancake gagal untuk yang kesekian kali atau ini, zebra cake yang selalu mengingatkan saya pada kotak jajan berkatan kampung.

Unlavishly original, I told you. Karena saya – tentu saja – telah menambah kurangi ini itu, termasuk menambah ubi cilembu ke dalam adonannya. Hasilnya zebra cake yang lebih padat karena keberadaan ubi, wangi sekaligus lembab karena campuran mentega, margarine dan minyak kelapa; dan beremah khas butter cake. Bila ada yang ingin saya ubah saat membuatnya lagi kelak, akan saya tambah ½ cup susu ke dalam adonan agar sedikit lebih ringan, karena adonan kali ini lebih kental dari yang seharusnya.

Menikmati sepotong cake ditemani teh manis hangat di sore hari bersama bocah menjadi penenang dan pengingat bahwa hidup tak lebih dari penantian akan keabadian. Dan selagi singgah di sini, mari manfaatkan waktu sebaik-baiknya…

Thursday, November 19, 2015

Kue Kamir dan Shay Adane



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakutuhu
Ahlan wa sahlan ya akhi wa ukhti..

Bagi penduduk Pemalang, khususon yang mendiami wilayah kampung Arab, pasti tidak asing dengan Kue Kamir. Kue yang seperti perpaduan baina apem wa pancake ini konon diciptakan pertama kali oleh seorang Arab yang tinggal di Kelurahan Mulyoharjo, sebuah kampung Arab di Pemalang. Namun hingga kini masih menjadi tanda tanya mengapa kue tsb bernama Kamir. Kemungkinan paling mendekati, nama Kamir berasal dari kata Khamir yang dalam al lughotul Arabiyya berarti ragi.


Na'am, salah satu bahan utama pembuatan kue Kamir adalah ragi yang berasal dari tape singkong. Adonan didiamkan selama semalaman agar terfermentasi, menghasilkan kue berserat mengembang wa empuk dengan rasa tape yang khas. Di beberapa literatur menyebutkan bahwa ada dua jenis kue Kamir: berbahan dasar tepung terigu dan berbahan dasar tepung besar. Namun karena Kamir tepung beras hanya tahan satu hari, maka Kamir tepung beras hanya dibuat berdasar pesanan. Sedangkan Kamir tepung terigu banyak dijajakan di pasar-pasar maupun toko oleh-oleh di kota Pemalang.

Kamir yang saya bikin menggunakan tepung terigu, dengan resep asli yang berasal dari NCC yang telah dimodifikasi mbak Endang Justtryandtaste. Namun resep beliau juga tidak luput saya modifikasi hahaha. Kue Kamir ini paling nikmat dinikmati hangat-hangat bersama Shay Adane, semacam teh tarik berempah khas Timur Tengah. Setiap selesai makan kue Kamir dan menyeruput Shay Adane, saya merasa hidung semakin mancung kayak orang Arab...aamiin ya Allah..

Wednesday, November 18, 2015

Indonesian Mud Cake


In the last two months, I’ve been crazy about traditional foods. I sometimes still wondering how could a person like me, who addicted to anything highly effective and efficient (western) recipes, fall into the most challenging recipe ever. One thing about traditional snacks is the methods. The ingredients might be cheap but it takes more efforts to do those kind of special beating, a long waiting fermentation process, or unusual pan to cook them. And yet, the more depressing process lay in how to capture them. Most of time they doesn’t look appetizing at all, no bright beautiful color or shape. So, if you see my picture a bit odd, trust me, I’ve done my best and spent hours to capture them.

Anyway, these are Kue Lumpur or Indonesian potato mud cake. Totally different from American mud cake, Kue Lumpur is made from mashed potato with coconut milk. The texture is soft, moist and dense. The authentic Kue Lumpur has raisin topping, but now we can easily find various topping from young coconut flesh until shredded cheddar cheese. While some people are creatively substitute the potato with pumpkin, resulting a beautiful yellow Lumpur. And some, still using potato, but add pandan extract to make the color more vibrant.



Sunday, November 8, 2015

Juwet Crumble




Waktu masih duduk di sekolah dasar 20 tahun yang lalu, ada seorang bapak tua yang berjualan buah juwet di depan gerbang sekolah, di sebelah penjual kerupuk bumbu rujak, tepatnya. Pak tua itu datang dengan menggendong sekeranjang besar rotan berisi juwet. Kami, para pembeli ingusan, berdiri mengantri di depan pak tua yang selalu sibuk membungkus segenggam juwet ke dalam selembar kertas tulis bekas berbentuk contong (kerucut), lalu beliau menaburi dengan garam sekenanya. Saya tak ingat persis berapa rupiah yang kami bayar saat itu. Yang paling saya ingat hanya, kami semua selalu pamer seberapa ungu gigimu setelah makan juwet asam, asin, manis tersebut.

Tak banyak, bahkan bisa dibilang tak ada lagi penjual juwet di pasar-pasar maupun sekolah. Lagian toh siapa yang mau makan buah ndeso kecut ini, di saat pedagang buah di pasar maupun supermarket telah berbangga menjajakan apel fuji, jeruk kalifornia bahkan duren Thailand. Dengan nama yang sama sekali tidak catchy serta penampakan tak seseronok stroberi, juwet tetaplah juwet. Barangkali hanya orang tuan dan generasi sebelum 90 lah yang satu-dua mencarinya untuk mengenang masa lalu.

Tiba-tiba siang itu saat kaki tak tentu arah menyusuri pasar besar, mata tertuju pada timbunan buah kecil hitam di dalam keranjang rotan. Memori masa lalu kembali menari di ingatan, dan tanpa sadar saya telah membayar 10 ribu rupiah untuk satu kilo juwet. Ide pertama yang terbersit di kepala adalah membuat pie isi juwet. Dan dua hari kemudian, ide tersebut telah berwujud dalam 5 wadah ukuran besar kecil yang habis dalam sehari.

Aslinya pake resep Blueberry Crumble, tapi apa daya, melihat harga blueberry yang bikin bergidik, kenapa ga pake buah lokal yang rasanya kira-kira hampir sama (kira-kira loh ya, karena ga pernah makan blueberry): kecut, asem, seger. Dan dugaan saya terbukti. Lupakan blueberry laknat itu. Skip strawberry atau raspberry. Embrace Juwet in your pie, crumble, or any sweet treats. Terganggu dengan bijinya yang harus dilepeh setiap kali makan adalah resiko. Namun apa sih yang tidak mengandung resiko di dunia ini? Toh kenikmatan ikan panggang justru ketika kita mengelamuti sisa-sisa daging yang menempel di durinya kan?