Saturday, December 26, 2015

Lemon Tart



I know that most of times I do look like a seriously smart badass *pasangkacamatahitam. I am preaching about the food photography theories, the highly developed recipes (which errrr mostly turn into horrible disaster foods), the feminism concept, or about the omnipresence and omnipotent of God. But today, this time, the most philosophical thought on my mind as a wellbeing is about Ed Sheeran *grin*

Think I’m in the puberty phase, again. Gosh, could it be because of the period I don’t know. I just fall for this cute ginger alive. Spending home alone when it was rain outside while listening his tracks again and again, and I helplessly couldn’t help myself to stop.

Forgot the draft about Andrew Scrivani’s speech on lighting and compositional basic which is really enlightened me in a very basis of FP understanding. Didn’t finish the draft about the use of flowers in FP either, while the pictures were already in pc about weeks ago. Have many kinds of chocolate and breads and jams and spreads and new old props which off course too photogenic to not photograph them. But instead of taking picture or reading the e- Donna Hay magazines, I spend my time effortlessy, lazily watched Teddy’s channel on Youtube.

Friday, December 25, 2015

Sapi Menek Pring


Sekitar tahun 1990-an, kuliner di kota Malang berpusat di daerah mall dan pertokoan paling ngehits kala itu, yakni Mitra, Gajahmada Plaza, Variety dan disusul Matahari yang berjajar di sekitar Jl KH Agus Salim sampai Jl Pasar Besar. Warung-warung yang saat ini dibilang legendaris berkumpul di daerah tersebut, seperti Warung Nguling, Warung Lama, Warung Brintik, Pangsit Hok Lay, Dragon Phoenix, Mie Gloria, sampai Warung Bu Yun. Yang terakhir disebut barangkali tak dikenal saat ini. Maklum Warung Bu Yun yang berjarak sekitar 2-3 toko dari Hok Lay di jl Kh Ahmad Dahlan sudah tutup bertahun lalu (terakhir kali berpindah ke daerah Kauman, dan sekarang kabarnya ada di dalam Pasar Besar).

Berbeda dari Warung Nguling yang terlihat modern dan lebih wah di tahun 1990-an, warung Bu Yun terbilang sangat sederhana. Menempati ruangan 3x6 meter dengan bangku kayu tua mengelilingi stall yang berisi aneka masakan Jawa, berdirilah Bu Yun bersama beberapa pegawainya yang sibuk melayani pembeli. Dapur ngebulnya ada di rumah belakang, tempat tungku besar berbahan bakar arang dan batok kelapa selalu mengepul.

Sejak pukul 6 pagi, deretan mobil dan sepeda motor sudah mengantri di depan warung sampai hampir sepanjang jalan Ahmad Dahlan. Belum waktunya makan siang, sudah dipastikan lebih dari separuh menu telah ludes. Iya, seramai dan seenak itu masakan di warung Bu Haji.

Ibu Yun sendiri, seorang wanita paruh baya dengan perawakan subur dan ngecepres. Suaranya melengking cemprang, tapi dari nadanya semua pelanggan tau bahwa beliau sangat ramah. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Apalagi saat ia menjawab pesanan pengunjung. Ada bahasa-bahasa khusus yang hanya dimengerti Bu Yun, pegawainya dan pelanggan setia. Lewat kode-kode unik tersebut, tanpa sadar pelanggan disuguhi pertunjukan serupa ludruk yang mbanyol.


Bagaimana tidak bikin ketawa, menyebut sate komoh, Bu Yun menggantinya dengan istilah Sapi Menek Pring atau dalam bahasa Indonesia Sapi Naik Bambu (sate komoh adalah potongan daging sapi yang dimasak bumbu merah, digeprek hingga agak tipis, ditusuk di tusukan bambu, kemudian dibakar). Atau menggunakan bahasa Walikan khas Malang, seperti Lecep untuk menyebut Pecel.

Entah sejak kapan pastinya warung Bu Yun berpindah ke daerah Kauman, tak jauh dari tempat asalnya. Namun di sana, meski dengan pertunjukan ludruk yang masih istimewa, bangunan lama dari kayu tak bisa tergantikan oleh angkuh beton yang menopang ruko. Ada yang hilang di situ. Seperti halnya surat elektronik yang menggantikan kertas surat. Meski isi pesan sama, media yang berbeda membuat rasa tak lagi serupa.

Tuesday, December 22, 2015

Chocolate Meringue Cake





It’s sometimes funny to see how people change. Lebih lucu lagi kalo yang berubah itu ternyata kita. Saya, maksudnya. Tujuh tahun lalu, tak akan terlintas sedetikpun di pikiran kalo saya di tengah malam seperti ini akan ngeblog setelah seharian bebersih dapur, ngasuh anak, masak dan segala pekerjaan domestik tak berkesudahan itu. Satu-satunya waktu sendiri adalah tengah malam seperti ini, saat semua kewajiban istri dan ibu usai, sebelum esok memulai hal yang sama. All over again.

Tujuh tahun lalu, ketika getol-getolnya mempelajari feminisme, menikah adalah the least thing on earth I imagined. Saya bahkan pernah berdebat dengan seorang sahabat betapa pernikahan adalah legalisasi hubungan seksual, in the name of religion and social construction. And love doesn’t need those legally binding formal institution. Tapi tentu saja, I sometimes feel that God loves me that much. And He’s surely has a very big sense of humor. Me, the one who opposed marriage idea years ago, diketemukanlah dengan my better half. The one who could make me laugh and cry in a second. And yes, I eat my words. Blatantly. Married at 26 right after I graduated. And I am living what I cursed years ago: Manak, Masak, Macak atau dalam seloroh kaum feminist title WIFE: Washing, Ironing, Fucking and Entertaining.

Pound Cake



Saya lupa kapan terakhir kali membaca novel sampai habis. Sepertinya bertahun lalu, pada novel Manjali dan Cakrabirawa. Atau pada The Unknown Errors of Our Lives. Entah saya tidak ingat. Beberapa novel yang mengisi daftar resolusi buku di 3 tahun terakhir pun belum juga saya selesaikan; seperti 1984, Anna Karenina, The God of Small Things, The Famished Road atau Cantik Itu Luka. Membaca pada masa seperti ini menjadi sebuah kemewahan. Bertahun lalu saat masih kuliah, Vagina Monologues atau Animal Farms bisa saya habiskan dalam satu malam. Namun saat ini, membaca satu bab buku terjemahan Paulo Coelho saja butuh perjuangan lebih.

Saya dulu, sering bertemu beberapa teman hanya untuk duduk diam bersama membaca buku masing-masing. Sesekali berseloroh tentang isi buku, lalu kembali tenggelam dalam kata. Diam yang karib. We are sailing in the different sea, but we are sailors. Saat pertemuan telah usai, di sepanjang jalan kami sibuk menceritakan pengalaman membaca masing-masing, hingga saat tiba di kostan, kami sama-sama tersenyum karena merasa penuh hari itu.

Pada waktu itu, membaca adalah perjalanan menuju saya. Secuil meditasi dalam kesunyian, saat yang ada hanya saya dan tokoh dalam buku. Tak ada riuh rendah likes atau follower atau komen. Tak ada gegap gempita maya maupun basa basi indah. Semua hanya kesunyian yang tersembunyi dalam ruang-ruang imajinasi kita.



Sunday, December 13, 2015

Lemon Madeleines



Jadi, berapa banyak dari kita yang selalu memiliki berjuta alasan untuk tidak melakukan sesuatu? Punya ide jalan cerita di kepala, tapi satu-satunya laptop di rumah dipake suami untuk kerja. Akhirnya ide untuk menulis novel tersebut menguap tanpa jejak. Atau terlalu sibuk mengisi bookmark resep di ponsel pintar; tapi jangankan memulai, membaca dengan detil resepnya saja enggak. Alasannya sibuk ini itu lah, ga punya oven lah, bahan-bahannya ga lengkap lah. Yang penting ngesave resep dulu, perkara nyobanya kapan itu urusan nanti. (ngacung bareng siapa yang kayak giniii??!)

Padahal, seorang tua pernah bersabda bahwa you will be regret of what you didn’t do rather than what you did, atau kira-kira kamu bakal lebih nyesel karena ga melakukan sesuatu daripada menyesal karena telah melakukannya. Baik atau buruk, gagal atau sukses, akan selalu memberi kita pelajaran berharga saat kita benar-benar telah mencobanya. Membayangkan saja tidak akan membawa kita kemana-mana. Karena pada akhirnya, pengalaman yang memperkaya jiwa bukanlah deretan kalimat yang kita baca; namun lebih kepada hal nyata yang kita alami sendiri.

Thursday, December 10, 2015

Welcome Waffle

Percayalah, pancake yang lebih mirip serabi ini ga enak :/
Entah sejak kapan pastinya saya kehilangan kesaktian dalam seni pencampuran bahan basah ke bahan kering, alias metode muffin dalam jagad perbakingan. Pancake adalah mimpi buruk saya beberapa bulan terakhir ini. Sekitar 5 kali bikin pancake dengan aneka resep, semuanya berakhir dengan uraian air mata dan kejengkelan luar biasa. Gimana ga jengkel, semua rasa ke-5 pancake tersebut persis seperti kulit pisang goreng. Lebih buruknya, ini adonan ga digoreng serta tanpa pisang, sehingga tidak ada gurih garing saat adonan tepung bertemu minyak goreng panas; ataupun legitnya ketika berpadu dengan pisang raja yang manis. Pancake saya kenyal dan hambar. Sesederhana itu.

Kemalangan tak berhenti sampai di situ. Karena muffin yang menggunakan metode adonan basah vs kering juga turut beranjak pergi dari saya. Kini tak ada lagi muffin beremah yang empuk dengan permukaan menggunung tinggi dan retakan indah. Yang ada hanya muffin bantat dengan retakan nanggung.
apalagi muffin ini, b a n t a t. nuff said.


Entahlah. Bila rumput bergoyang saja tak tau musababnya, apalagi saya?

Tuesday, December 8, 2015

Chicken Nawabi and Bukhari Rice




Whenever I lost my appetite, I turn into Arabian food or something resembles their food characteristics which use tons of spices (think about gulai and rendang). I don’t know why, but something about spices has attracted me so much. Their beautiful shapes and color, the exotic taste and warmth really kick my bud. No wonder, everytime we went to Arabian restaurant – Cairo restaurant here in Malang – I could clean my full plate of Kebuli rice with Roasted Lamb, a full jar of Chai Tea and 3 big sambosa. And for sure, let my husband dropped his jaw watching me ate those festive Arabian foods all by myself.

But then in the name of tight money policy, we can’t go to Cairo restaurant whenever we want. So the best thing I can do is back to the kitchen, grab some rice, chicken and spices and cook them. Lucky me, I already have Chicken Nawabi instant paste from my bestie once she came to my house last Eid Fitri (thanks granbun!!). So my job is only preparing the rice, as I chose Bukhari Rice because its ingredients are available in my pantry.