Thursday, June 22, 2017

Let’s Talk About M(i)e

Buat saya pribadi, Mie - sebagaimana hidangan utama lain - adalah salah satu makanan yang paling menantang untuk difoto. Hingga kini, Mie masih menjadi obyek favorit saya, salah satunya karena pertama kalinya saya menerima kritik luar biasa dari seseorang yang luar biasa adalah ketika pertama kalinya saya mengunggah foto Mie, fettucini tepatnya, di WFPP tema #noprops. Saya ingin sekali copas kritiknya di sini, namun apa daya akun instagramnya sudah dihapus, jadi komennya pun musnah tak bersisa. Eniwe, intinya, it was my wake up call. Saya seolah tersadar bahwa motrek makanan ga bisa seenak udelnya, ada aturan-aturan yang mesti dipatuhi untuk memaksimalkan fungsi foto (yaitu bikin ngiler). 


Foto fetucini di atas tertanggal 3 Februari 2015, waktu saya masih pake hape. Lucu ya fotonya? 😂 Entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu, kok ya bisa-bisanya fetucini ditaruh langsung di alas foto 😂😂 banyak yang protes dong, rata-rata karena artistik tidak boleh mengalahkan fungsi. Foto semestinya replika kehidupan nyata: masa makan mie tanpa alas, kan kotor, jorok, aneh ah. Kalo konsepnya mie tumpah, mana wadahnya? Kenapa terlihat diatur sedemikian rupa? Cahaya masih keras, waktu itu belum kenal diffuser atau blocker. Styling, hmmm ga usah dibahas deh 😄



9 feb 2015
Kurang dari seminggu kemudian, 9 Februari 2015 tepatnya, saya mengulang konsep foto #wfppnoprops di atas, hanya kali ini menuruti saran dan kritik seseorang untuk mengambil gambar dengan teknik BEV, belajar blocking cahaya, serta memperbaiki styling yang ga asal gabruk aja: pertama-tama mie dicepol menggunung agar terlihat berdimensi, lalu beberapa helai dicerabut untuk memberi kesan messy, lalu menata topping (irisan cabe, tuna, daun basir, keju parmesan). Arah cahaya dari pukul 12 yang diblok, tapi disisakan sedikit yang mengarah langsung ke obyek. Karena konsepnya tanpa properti, maka butuh membuat foto yang moody nan dramatis agar pemirsa tidak bertanya-tanya mana piringnya, garpunya, dsb; tapi langsung memandang keindahan mie dan parkir di situ #eaaaa. Tepat di titik inilah saya berkenalan dengan Still Life. It doesn't have to be rational, you just have to make them alive. Meski kalo untuk still life, masih kurang dramatis sih ya, but hey, it was my first time! 😬




27 mei 2015


30 mei 2015


1 juni 2015


30 mei 2015
Empat foto di atas adalah setoran untuk #WFPPNOODLE dan ulangannya :D. Pertama kalinya motrek mie kuah dengan topping lengkap, dari sayur, lauk hingga kuahnya. Lihat kan, mie-nya sudah terlihat berdimensi, tapi toppingnya kedodoran, poached egg gagal, kuah yang tidak terlihat kaldunya, irisan tomat yang tidak terlihat kesegarannya, styling yang masih kaku dsb.


15 Juni 2015







Kalo dua foto di atas adalah foto yang saya kumpulkan untuk ikulan lomba foto mie. Cahaya flat, telur ceploknya tidak menyelerakan (ga ada pantulan cahaya di kuning telur, terlalu matang), styling kaku banget.



 


Dua foto di atas tertanggal 7 April 2016, pertama kalinya motrek mie mentah. Lumayan lah.


5 mei 2016
Sudah pernah motrek mie kuah, jadi lumayan pede lah motrek mie kuah lagi, meski komposisi terlihat sesak, tapi styling makanan udah oke: kuah terlihat kaldunya, topping ayam terlihat shiny, begitu juga dengan mie-nya.


14 juni 2016, Mie Buah Bit
 


Pertama kalinya bikin mie sendiri dengan pewarna dari buah bit, meski kurang merah dan sewaktu dimasak warnanya buyar, tapi cukup puas dengan hasilnya (baik foto maupun rasa).


17 juni 2016, Pad Thai
Foto ini untuk foto produk sebuah wajan yang mengendorse saya. Maunya styling ala-ala Donna Hay yang messy gitu, tapi gagal dong 😥. Tantangan banget motrek Pad Thai dengan warna pucat yang isinya ada kecambah, bakso (berwarna pucat) dan udang. Taburan daun ketumbar, cabe kering dan kacang mete nya kebanyakan, jadi nutupi tekstur mie; terus lupa lagi irisan jeruk nipisnya.


Homemade Pasta
Fettucine Carbonara

Foto tertanggal 22 Juni ini pertama kalinya bikin pasta sendiri. Masalah utama di sini lighting yang flat!! PR banget kalo motrek pake props putih-putih 😭😭 Jelek, me dont like it.



Spaghetti
 Foto tanggal 6 November 2016 ini hasil endorse produk sosis. Simple, but i like this picture. Andai ada daun basil atau peterseli di situ kayaknya bisa bikin lebih hidup ya.
21 nov 2016
Kalo ini foto untuk mi instan yang jadi penyelamat anak kos ituuuuh. Komposisi dan styling aga kaku, lighting pun agak flat. Sejujurnya fotonya maksa, waktu itu saya baru ngelahirin (Z masih 2 bulan kurang). Pelajaran banget untuk ga memaksa diri sendiri nerima kerjaan saat kondisi ga memungkinkan. Untunglah klien oke-oke aja meski saya ga puas sama hasil fotonya 🙈🙈


16 des 2016
Ini pentingnya persiapan dan mengetahui karakteristik hero yang hendak dipotrek. Foto di atas adalah zoodle, alias zucchini noodle. Zucchini yang dirajang panjang seperti mie lalu dimasak. Karena belum pernah masak zucchini, nekad deh, eh ternyata waktu dimasak berair, huwaaaaa. Pas diangkat dan airnya dilap pake tisu, zucchininya udah letoy banget. Payah!


5 jan 2017
 Pertama kalinya motrek bihun. Karena tanpa pesiapan, jadi ambil properti seadanya sambil main matching-matchingan. Banyak kurangnya foto ini, dari ga ada cabe, topping yang kalah sama bihun, but I like it!


5 mei 2017
Bikin mie buah bit lagi, saat itu pindah spot ke dapur yang semi outdoor (selama ini motrek di ruang tamu). Eh ternyata cahayanya oke juga. Saya baru ini dapat cahaya yang terangnya oke untuk alas putih. Warna mie beserta toppingnya terlihat nyalak. Oke timunnya maksa, but this one is my favorite!


7 mei 2017
 Sejak punya buku Women's Weekly, saya jadi terpengaruh gayanya yang messy, vibrant dengan nuansa oldies yang kental (enamelware, rustic silverware tapi dg mood cerah ceria). Ini salah satu hasil contekan stylingnya menurut versi saya. Lighting aga flat, tapi saya suka dengan mie yang terlihat naturally effortless, kayak mak gedabruk gitu aja tapi masih terkontrol.


16 mei 2017
Foto mie terakhir ini dari endorse produk mie sehat. Buat menaikkan tantangan, dalam satu frame saya bikin mie kuah dan mie goreng dengan topping yang berbeda. Ribetttt, but i love it!

Karena dapat mie yg warnanya bluwek, jd ngerencanain topping warna-warni untuk ngangkat mie. Begini persiapannya:
1. Siapin props, tes cahaya
2. Masak Mie: a. Rebus rebus jagung n jamur sambil motong cabe, kompor satunya rebus telur
b. Jagung & jamur ☑, rebus mie utk mie kuah (kuahnya ga dipake ya), kompor satunya goreng bawang goreng, lalu ayam. c. Mie utk mie kuah ☑, lanjut rebus buat mi goreng, ayam udah matang, kompornya ganti rebus air (buat kuah)
3. Plating mie goreng n kuah 
4. Motrek, utak atik komposisi, cahaya (apa perlu diffuser, blocker, reflektor)
5. Poin e  oke, baru nyiram kuah ke mangkok utk mie kuah
6. Last touch: oles minyak ke mie, jamur, cabe n jagung agar shiny n kliatan fresh 
7. Jepret berbagai angle

8.  Z udah nangis geruh2 dicuekin dari tadi 😂😂

Kesimpulannya, as cliche as it sounds, practice makes perfect. Skill is like muscles, the more you train, the stronger they are.  Foto mie saya masih jauh dari sempurna, tapi semakin lama saya semakin tahu apa yang kurang dari foto saya, ga se-clueless waktu pertama kali motrek mie 2 tahun lalu. Motrek mie juga udah ga selama dulu. Ingat kan kalo persiapan adalah setengah dari kesuksesan, jadi persiapan saya jauh lebih matang (dari  nentuin konsep, nyiapin properti, menghias topping, menata mie, dsb). But again, at the end of the day, your feeling is the matter at the most. Ga peduli orang kata apa soal fotomu, as long as you like it, YOU WIN!!! 

Tuesday, June 20, 2017

Ladrang



Kraus Kraus Kraus…

Sejarah mencatat bahwa cemilan berbentuk stik renyah yang dibuat dari adonan roti berasal dari kota Turin, Italia. Konon Grissini, nama stik roti tersebut, telah diciptakan semenjak abad ke-14, meski menurut orang lokal Turin, pencipta pertama Grissini adalah Lanzo Torinese pada tahun 1679 (begini kata Wikipedia).

Kraus Kraus Kraus…

Entah bagaimana caranya, Grissini yang memakai adonan roti kehilangan raginya saat perjalanan ke Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Dan barangkali seperti Patih Gaj Ahmada yang berubah menjadi Gajahmada pada lidah orang Jawa, maka Grissini pun dialihbahasakan menjadi Ladrang. Jauh amat ya keseleo lidahnya… Padahal Ladrang adalah struktur 32 ketukan dalam karawitan, mungkinkah dinamai Ladrang karena pembuatan Ladrang membutuhkan 32 ketukan dan hentakan pisau saat mengiris adonannya?

Kraus Kraus Kraus…

Ladrang adalah stik renyah dari tepung dan kanji, dibumbui bawang putih dan micin banyak-banyak agar gurihnya nonjok; serta tak lupa diberi kucai atau seledri sebagai pengurang rasa bersalah. Sebungkus plastik ukuran 200 gram dibanderol tujuh ribu rupiah, harga yang lumayan untuk stik tepung rasa micin...

Kraus Kraus Kraus….

Dan karena sekali makan saja langsung habis sebungkus plastik itu, maka khusus setiap bulan puasa pak suami minta dibikinin Ladrang agar gilingan mie yang dibeli tahun lalu ga mangkrak di lemari dapur.

Kraus Kraus Kraus….


Stik Bawang Pedas
Modif dikit dari: Rizma Syuhada dapoer ijo

Bahan:
500 gr tepung protein sedang
125 gr tepung sagu
90 gr margarin leleh
1 bungkus Boncabe level 30 + 1 sdm Boncabe rasa Teri
8 tangkai daun seledri
2 siung bawang putih, haluskan
2 butir telur
¼ sdt baking powder
¼ sdt baking soda
½ sdt kaldu ayam bubuk
Air secukupnya

Cara membuat:
Aduk semua bahan hingga tercampur rata, tuang air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga kalis.
Giling tipis di gilingan mie dengan ketebalan sesuai selera.
Potong dengan pemotong mie yang lebar (kwetiau).
Potong panjang 15 cm.
Goreng dalam minyak banyak yang sudah dipanaskan terlebih dahlu hingga matang dan kering.
Angkat, tiriskan.

catatan: a. rasanya aga hambar, lain kali tambah garam 1/2 sdt deh biar nonjok. Atau micinnya dibanyakin. Di resep asli utk 1 kg tepung terigu butuh micin 1,5 sdt.
b. resepnya pake seledri tapi fotonya kok peterseli? Beneran pake seledri, tapi pas motrek seledrinya udah layu menguning, jelek ah dipoto :P



Friday, June 16, 2017

Sifon Ketan Hitam


Saat masih kuliah dulu, saya bercita-cita, jika kelak memiliki anak perempuan akan saya namai Liyan. Liyan atau dalam bahasa Inggris The Other adalah konsep fundamental dalam pemikiran Simone de Beauvoir di bukunya The Second Sex. Meminjam modus “Ada” pada manusia dalam filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Beauvoir berpendapat bahwa dalam relasi laki-laki dan perempuan, laki-laki (Diri, Subyek) memandang perempuan sebagai Liyan, sebuah obyek yang tidak dapat berdiri sendiri. Tak hanya dapat berdiri (eksistensi) sendiri, Liyan juga dipandang sebagai ancaman bagi Diri, maka di sinilah sumber subordinasi laki-laki terhadap perempuan. Perempuan harus ditundukkan karena ia adalah ancaman laten dan manifest bagi eksistensi laki-laki.

Namun tak terbatas pada feminisme, konsep Liyan juga banyak dipakai untuk menjelaskan tentang sesuatu yang tak terpecahkan, tak terhitungkan, yang terpisah dari keDirian kita. Pada satu titik, Liyan adalah ancaman, namun bukankah apa-apa yang berada di luar kita adalah ancaman karena ketidaktahuan kita tentangnya?

Alasan lain pemberian nama Liyan, adalah karena Goenawan Mohamad. Catatan Pinggir adalah manuskrip pertama yang membuat saya jatuh cinta pada dunia literasi, jauh sebelum cinta saya pada Matilda dan Little Prince. Lahir dan besar dari orangtua yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, alm Bapak mengajarkan kecintaan pada aksara saat ia – seorang sopir di pabrik rokok – berlangganan majalah Tempo. Bagi bapak, membaca Tempo adalah secuil surga yang ia nikmati setelah seharian bermandikan peluh di jalanan. Saya masih ingat benar, saat kelas dua SD, saya hafal semua nama menteri di kabinet Pembangunan beserta nama ketua DPR dan MPR. Saya ikut ngobrol dengan bapak tentang perpecahan di PDI, antara Soerjadi dan Megawati. Saya tidak mengerti arti komunisme, kapitalisme, Marxisme, hingga usaha Fritjof Capra untuk menjembatani sains dan agama di bukunya The Tao of Physic; namun otak saya sudah sedemikian familiar dengan nama dan konsep-konsep asing tersebut. Dan ya, Goenawan Mohamad adalah orang yang memperkenalkan istilah Liyan ke dalam kamus bahasa Indonesia.

Maka nama Liyan saya pilih bukan hanya karena ia adalah salah satu konsep terpenting di Feminisme, namun juga karena ia mengandung kenangan akan Bapak. Bapak yang ternyata seorang Liyan: sopir miskin yang dengan kurang ajarnya berlangganan majalah Tempo yang tentu saja harganya tidak murah.


Sekitar bulan Juni-Juli tahun lalu, saat bidan dengan yakin menyatakan bahwa janin yang saya kandung berjenis kelamin perempuan, saya memutuskan untuk tidak menamainya Liyan. Entah karena didorong naluri sebagai orang tua yang ingin melindungi anaknya, bagi saya Liyan adalah sebuah resiko. Menamai Liyan berarti mengharapkan keLiyanan pada anakmu, dan ternyata saya tidak cukup kuat untuk menanggungnya saat ini. Saya menyadari bahwa saya tidak memiliki hak untuk menginvestasikan harapan terlalu besar padanya. Saya ingin, biarlah dia sendiri yang menentukan jalannya, bukan saya ibunya. Entah apa kelak ia menjadi Liyan atau Diri, cukup dia, pengalaman serta pilihannya yang akan membuatnya menjadi. Seperti halnya pilihan saya untuk tidak menindik telinganya, yang bagi saya adalah memberinya pilihan ketika ia besar nanti. Bagi saya dan suami, masalah tindik telinga ini sangat sepele; namun ternyata tidak bagi keluarga besar, tetangga serta teman-teman kami. Bagi mereka, penanda perempuan salah satunya adalah tindik di telinga :D. maka tanpa saya menamainya Liyan-pun, saat ini Z sudah menjadi Liyan di mata handai taulan kami yang memandangnya aneh  (dan berkali-kali menganggapnya anak laki-laki). Oh well….


Nah dalam dunia perglepungan, bagi saya tepung ketan hitam adalah liyan. Selain karena warnanya, teksturnya pun sangat berbeda dari tepung-tepungan. Meski namanya black glutinous rice, namun ketan hitam ternyata tidak mengandung gluten. Nama glutinous merujuk pada teksturnya yang lengket seperti lem yang disebabkan oleh kandungan amylose dan amylopectin yang tinggi. Saat diolah, teksturnya berpasir, legit dan rasanya sangat khas: sedikit terasa kacang (nutty) dengan selintas rasa manis alami. Di Indonesia tepung ketan hitam banyak diolah menjadi aneka jajan tradisional seperti Bugis, Kue Ku atau Getas. Untuk cake yang paling sering ya ini: Sifon Ketan Hitam. Aduhhhh, tekstur empus-empus ala sifon ketemu ketan hitam yang berpasir dan legit, huah susah berhentinya. Enak. Enak. Enak!


Sifon Ketan Hitam

Adonan A:
40 ml minyak sayur
65 ml santan kental
5 kuning telur
100 gr tepung ketan hitam

Adonan B:
5 putih telur
80 gr gula pasir

Cara membuat:
Panaskan oven 170 C.
Campur adonan A jadi satu di mangkok, aduk dengan kocokan kawat, sisihkan.
Campur adonan B jadi satu di mangkok lain, kocok dengan mixer kecepatan tinggi hingga jambul petruk (saat mangkok dibalik adonan tidak tumpah).
Aduk balik Adonan B ke adonan A dalam tiga tahap.
Tuang ke Loyang sifon, hentakkan 3 kali agar gelembung udara keluar.
Panggang hingga matang sekitar 40 menit.
Angkat, balik Loyang hingga dingin.
Keluarkan cake dengan disisir sekelilingnya menggunakan pisau tipis.
Potong-potong, sajikan.






Thursday, June 15, 2017

Apple Crumble


Buibu, liburan gini hayuk ah berdayakan bocah-bocah untuk turun ke dapur. Meski dapur akan lebih berantakan, namun banyak pelajaran berharga yang bisa anak dapatkan dari kegiatan domestik seperti ini. Tak hanya belajar memasak atau bikin kue, tapi bu ibu juga bisa menyisipkan pesan-pesan tentang arti menjaga kebersihan, belajar berhitung (menimbang bahan kue), keselamatan (menyalakan kompor, memasukkan Loyang ke oven), sampai keterampilan kinetik seperti mengiris, mencetak, melipat, dsb.


Hoaaaaaaahhhm…


I wish I could say that caption from the bottom of my heart. But the bitter truth is: having 8 months baby and a toddler really .. really drain my energy. Z my daughter is starting to walk. She could stand while holding the chair but the next minute she raise her hands and trying to stand up by herself. Horror. And K is sometimes… most of times….getting on my nerves. Asking anything from what is God until talking about his friend named Azra or Rozak or Zara - or whoever I dont remember - pushing his chair so he fell when he was going to sit. Grabbing anything he likes, from colander to lego, ball to banana and spread them away in the floor like grenades. And don’t forget the never ending request right after he ate some food, from nugget to sushi, pudding to soto, muffin to candy; you know, just like oldies said “sak mecotote lambe”.

Rome Beauty
And so… no. Bringing two children to kitchen is the most horrifying thing in my vocabulary rite now. Since Ramadan, I rarely cook or bake. Because… well because I have two loyal audiences whenever I go to the bathroom and you expect me to cook? Where should I keep them? In a box so I could bake cookies wholeheartedly? These kids, the baby especially, is my biggest, hugest fans in the world, she could not, could never, will never leave me alone. She knocked on my bathroom door while crying right after I left her for take a piss, like five second ago. So if you think having one child is terrible, just imagine if you have two little monster. Now I need to make appointment to my obgyn for my birth control. No thanks, I don’t plan having third me in near future.

Manalagi
Anyway, enough ranting about MOMMA NEED SOME REST. Let’s talk about this Apple Crumble. Actually I was planning to make Apple Pie, but again, considering those two little monsters, so I made this Apple Crumble which less difficult, less complicated but the result is as good as I imagined. If you wonder how could I made it, well off course I peel and chopped the apples the night before when the kids were sleeping. The next day, I just set my oven, prepare for the crumble while my son doing all the measurement, mixing, pouring etc. So did I do nothing? If you categorize cleaning the mess (flour and apple filling spilling all over the flour, creating a sticky kitchen) as doing nothing, so yes, I did nothing. Nothing but cleaning. For the sake of happy kids but tiring mom. I guess that conclude the perk of being mom: making your children happy but you do the dirty laundry.


Apple Crumble

Filling:
7 apples, I used local Manalagi and Rome Beauty, peeled, chopped coarsely
100 gr brown sugar
3 calamansi juice
1 tsp cinnamon powder

Crumble:
50 gr biscuits
50 gr gluten free flour (mocaf)
50 gr leftover soy meal  
50 gr nuts (canary, almond, pumpkin seeds)
50 gr butter

Directions:
Pre heat oven to 180 C
Mix apple, calamansi juice, and brown sugar in a bowl. Stir in cinnamon powder. Spoon mixture into 4 1-cup (250 gr) shallow ovenproof dishes.
Crumble biscuit flour, soy meal and nuts into a bowl. Rub in butter until mixture clumps slightly. Sprinkle mixture on fruit.
Bake for 20 minutes or until crumbles are heated through.

** The day before I made soy milk then I baked the leftover soy meal until completely dry. Dry soy meal can be used in baked goods. You can replace the soy meal with flour, biscuit or nuts for the crumble.







Saturday, May 27, 2017

Hiatus


Membahas tentang pro kontra media sosial memang tidak akan ada habisnya, terutama di masa sekarang saat masih terasa hangat gegar gempita pilgub Jakarta yang bikin beranda fesbuk jadi medan perang. Di satu sisi, media sosial memang menjadi senjata ampuh untuk menyebarkan pesan (berantai). Sekali klik, sebuah informasi yang belum tentu benar mampu menjalar tanpa arah, tanpa saring; kecuali kita sendiri yang mau bersusah payah memilih dan memilah sambil menelusuri kebenarannya. Teman jadi lawan. Sodara jadi musuh gara-gara beda pendapat, nilai, golongan.

Sedangkan dari sisi antropologis, perangkat teknologi yang memuat media sosial ini begitu kuatnya hingga mengubah cara hidup kita. Ponsel (beserta wifi) serupa udara yang kita hirup, yang kita tak mampu hidup tanpanya. Dari bangun tidur, makan, mengasuh anak, masak, berjalan, di kendaraan sampai di toiletpun; ponsel selalu di genggaman. Kita lebih bingung kehabisan baterai atau kehabisan paket data atau tak memiliki jangkauan wifi daripada ketinggalan dompet.

Dan di titik inilah saya capek.

Sejujurnya di balik sisi kelam sosmed di atas, tak bisa dipungkiri betapa sosmed juga berpengaruh positif di kehidupan. Lewat Instagram, saya menemukan salah satu passion saya: motrek makanan. Lalu hobi itu bergulir semakin besar bagai bola salju: bertemu dan berteman dengan orang-orang yang sangat menginspirasi, meningkatkan kegemaran akan masak dan baking (termasuk ngumpulin properti foto) hingga beberapa kali mendapatkan duit karena diendorse, menang kuis atau jadi buzzer sebuah produk makanan. It was so much fun, indeed.

Tapi kembali ke paragraf di atas, tanpa sadar tiga tahun terakhir ini saya semakin banyak menghabiskan waktu untuk memotrek dan instagraman. I build my life in instragam, but I forgot my real life. Gambar di Instagram adalah imaji yang saya bangun, suasana yang ingin saya tunjukkan; meski pada kenyataannya sangat berbeda (my picture is not my real life). Wait, when I write virtual vs real life, I don’t mean to talk about art stuffs (artist’ imagination to escape vs create reality until philosophy stuffs like Baudrillard’s (confusing) simulacrum).

Begini, sebagai manusia kita punya fundamental need to seek for acceptance and affirmation. We always hunger for positive confirmation of everything we do. We wanted to be accepted, we wanted our works to be accepted. But sadly, in social media, the confirmation comes from numbers. Semakin banyak jumlah followers, semakin banyak jumlah like, maka semakin tervalidasi keakuan kita (aduh jadi inget lagunya mas Anang dan mbak KD ….cermin sikapmu yang mampu memendam rasaaaaa… keakuanku….). (Efek lanjutannya sih, kebanyakan, makin banyak jumlah followers, makin besar pengaruh kita, dus makin banyak sponsor/endorsement berdatangan). Again, it was fun. To have a power. To voice our mind (sah sah aja nyelipin pesan pribadi/sponsor di caption). To share. To know that some people follow, recook, rebake, inspired by our account/pictures/captions.

Sampai sebagian besar waktu tersita gara-gara Instagram. Dudududududududu. Bocah merengek minta makan, emaknya masih sibuk motrekin makanan setengah matang (biar warna dan teksturnya kelihatan cakep). Atau sudah matang, tapi waktu disajikan ke keluarga udah pada dingin dan letoy (#sorrynosorry hun :P). Udah janji bikin ayam kentaki rikues bocah tapi putar haluan masak ayam bumbu rujak gara-gara mau nyocokin menu nasi kuning yang santannya dari sponsor. Berkali-kali absen bacain buku karena sibuk motrek. Berkali-kali kecapekan ga ngantar bocah ngaji (yang tentu saja bocahnya kesenengan). Berkali-kali cuma jawab singkat Hmmm, Iya, Iya tah, Oke, Hmmmm saat diajak ngobrol bocah gara-gara kepala emaknya nunduk terus sibuk komen-komenan di Instagram. 
Berkali-kali beli ini itu gegara fotojenik, tapi habis difoto, masuk kulkas sampe rusak dan akhirnya kebuang (mubazirrrr!!!!). Beberapa kali ngotot bikin ini itu demi difoto padahal juga ga ada yang makan pfffffttt. Berkali-kali ga nepati janji ke bocah gara-gara sibuk motrek, sibuk instagraman. Rumah berantakan karena habis masak dan motrek ga langsung dirapihin, malah ndahuluin nginstagram dududududududu. Berkali-kali duit belanja kurang karena beli props ooooops :D. Dan setelah dipikir-pikir, dengan betapa pengertiannya suami dan bocah, saya ngerasa ga adil…

It’s not fair to defend taking picture and Instagram as my me time while I forget my duty as wife and mother. It’s not fair to ban my son from smartphone while his mom keep on playing Instagram. It’s not fair to think over my picture, the styling and composition, what will I bake/cook tomorrow, arrange sentence to make caption; while I was spending time with my family. It’s not fair that I should have done more useful things to do (like reciting Quran, talking to neighbor, calling my mom, teaching my son, telling stories to my daughter, chatting with husband, take a really long bath, sports, writing, etc) than surfing on Instagram. It’s just not fair that somehow, slowly, Instagram has took over my life.

Saya memang ga stand by 24 jam di Instagram, ngelike dan komen foto teman-teman (bahkan balesin komen di foto saya sendiri aja jarang). Tapi untuk saat ini saya ngerasa udah overload, I need to be more focus on my real life than the virtual I built in Instagram. Gile cuyyy, 2 bocah masih balitaaaaa. Cant deny that Instagram gave me a lot. It was my outlet of my works. I find and make friends from it. I earn money from Instagram, too. But I guess I am not ready for Instagram, not right now. Maybe later, when I’m no longer a hero for my kids. But now, what my kids need is their mother, not only physically, but also mentally, psychologically, wholeheartedly.

So by this, I rest my case.

I’ll see you, not very soon, Instagram.

Dan kepada teman-teman semua, terima kasih untuk pertemanan indah selama ini. Semoga kita tetap lanjut silaturahim di luar IG *hugs


Monday, May 22, 2017

Keju Dangke



Hari ini, dia-diam saya mengamini petuah Giada de Laurentiis; bahwa  food brings people together on many different levels. it's nourishment of the soul and body; it's truly love.

Memandangi beranda fesbuk (dan karena alasan inilah saya lebih suka ke Instagram) yang berbulan-bulan ini kental dengan atmosfer tegang karena pandangan politik yang berseberangan, dan kini yang terhangat tentang status Afi dengan kata kunci warisan. Saya ga akan membahas pro-kontra “warisan”, sesederhana karena saya ga punya pengetahuan yang cukup untuk menelitinya (baik dari sisi agama, antropologi, sosial, budaya, dst dst). Dan atas dasar alasan tersebut, maka bagi saya arena yang paling tepat untuk membincangkan politik ada di ruang-ruang pribadi di mana kita saling kenal siapa yang kita ajak bicara, bukan di media sosial yang siapa saja bisa mampir dan berkomentar (I dont have enough time and energy to reply, rebut, debate, defend, offend something beyond my knowledge).

Lalu apa hubungannya dengan makanan? Karena tadi pagi saya mengunggah foto keju Dangke, keju asli Indonesia asal kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Keju Dangke dibuat dari susu kerbau/sapi dengan memanfaatkan getah daun/batang/bunga papaya muda untuk memisahkan air dan lemaknya. Bongkahan lemak terfermentasi tersebut kemudian dicetak di dalam batok kelapa sebelum dibungkus daun pisang.

Menilik sejarahnya, konon penduduk lokal menyajikan keju ini ke orang Belanda saat pertama kalinya mereka “bertamu” sambil berucap “dank je” yang dalam bahasa Belanda berarti Terima Kasih. Keselip lidah, Dank Je berubah jadi Dangke.


Yang bikin saya senang dengan unggahan saya di Instagram tadi pagi, karena begitu banyak respon dari orang Sulawesi dan daerah lain Indonesia terkait keju Dangke. Seseorang yang ibundanya asli Enrekang menerangkan tentang cara makan Dangke. Seseorang dari Batak mengaku bahwa produk susu kerbau yang serupa juga ada di Batak dan biasa dimasak Arsik (Arsik Susu Horbo). Seseorang dari Sumbar juga menyebut tentang Dadiah, olahan susu kerbau yang difermentasi dalam bambu, mirip seperti keju Dangke. Orang Indonesia di Perancis dan California sampai penasaran dengan Dangke dan membandingkan antara Dangke dengan Paneer (keju segar asli India), Dangke dengan Ricotta.

Lihat kan, betapa perbincangan tentang makanan mampu menembus sekat perbedaan di antara kita? Ga peduli warna kulitmu apa, sukumu apa, pandangan politikmu gimana, sampai apakah kamu peserta #HariPatahHatiNasional atau ga; makanan menyatukan kita :D. Tentu kita boleh berbeda pendapat apakah Soto Banjar memakai kunyit atau ga, apakah Bubur Ayam mesti diaduk atau ga, apakah kamu pantas ditenggelamkan Bu Susi karena ga doyan makan ikan; tapi di atas itu semua, kita sepakat bahwa makanan Indonesia ituuuuuuu …… paling enak sedunia!!!

Kembali ke Dangke, foto di atas adalah penampakan Keju Dangke (beserta olahannya di bawah ini). Makasih buat pak suami yang tak lupa membawakan makanan tradisional khas saat berkunjung ke daerah lain demi menuruti hobi bininya yang suka nguplek pawon dan jeprat-jepret :*.

Dangke Goreng


Cukup iris tipis Dangke, lalu goreng seperti goreng tahu. Ga pake bumbu apa-apa udah gurih. Beberapa menyarankan untuk dipotong bentuk stik seukuran jari lalu digoreng (jadi bayangin kayak French fries ya). Ini saya ngiris Dangke teralu tebal karena takut hancur waktu digoreng, eh ternyata utuh kok, jadi diiris lebih tipispun ga akan mudah hancur. Menurut penuturan orang Sulawesi, Dangke biasa digoreng atau dipanggang (dengan olesan mentega) untuk kemudian dicocol sambal.


Dangke Pan Pizza


Saya suka banget dengan adonan Pizza dari Seriouseats ini. Dengan fermentasi semalaman dan kadar air yang tinggi, membuat interior pizza berlubang-lubang besar, sehingga saus lebih meresap. Selain itu dalamnya empuk tapi permukaan luar dan bawahnya garing renyah, asik kan? Tapi kalo kamu sudah punya resep pizza andalan, sok atuh. Ini saya Cuma tambah Keju Dangke aja sebagai toppingnya, dan kejutaaaan, enak juga loh! Keju Dangke yang cenderung gurih-hambar, bisa masuk tuh dimakan bareng saus Bolognese.

Dangke Pan Pizza
Bahan:
400 gr tepung protein tinggi
10 gr garam
4 gr ragi instan
275 gr air
8 gr minyak zaitun
Saus Bolognese
Mozarella
Topping sesuai selera (saya pake smoked beef dan Dangke)

Cara membuat:
Campur tepung, garam, ragi, air dan minyak di wadah yang besar. Aduk rata dengan sendok kayu.
Tutup dengan plastic wrap, istirahatkan di suhu ruang 8-24 jam. Adonan akan mengembang tinggi.
Basahi tangan dengan minyak, ambil adonan, bagi 2 lalu bulatkan.
Tuang 1-2 sdm minyak zaitun di dasar skillet ukuran diameter 20cm (saya pake skillet dan Loyang biasa). Letakkan adonan di skillet (dan Loyang), lalu tekan-tekan perlahan hingga pipih dan memenuhi dasar skillet (ga perlu ngotor ngelebarin, tar adoannnya melebar sendiri kok), istirahatkan 2 jam.
Panaskan oven 250 C selama minimal 15 menit.
Angkat pinggir adonan pizza dengan jari, lalu tekan hingga mengisi setiap sudut skillet dan  gelembung udaranya keluar.
Olesi permukaan dnegan saus Bolognese, keju mozzarella, smoked beef dan keju Dangke. Kecruti minyak zaitun.
Panggang hingga matang dan dasar pizza kecoklatan garing, sekitar 12-15 menit.
Angkat dari skillet, potong-potong, sajikan.
Pssst, karena ga punya daun Basil, saya pake daun Sirih Bumi buat garnish pizza :D

Paprika Panggang Isi Dangke



Bermula dari mbak Ayu yang berkomentar bahwa Dangke sepertinya mirip Paneer, guglinglah saya tentang Paneer ini. Dan ternyata benar, Dangke dan Paneer sepupuan loh, sama-sama dari susu sapi/kerbau yang diolah secara tradisional. Karena penasaran, saya coba mengkreasikan Dangke menjadi isian Paprika, seperti umumnya masakan India yang menggunakan Paneer. Rasanya? Enak!

Bahan:
½ buah bawang Bombay, cincang kasar
1 siung bawang putih, cincang
3 buah paprika ukuran sedang, potong horizontal atasnya, lalu keruk bijinya sehingga menyerupai mangkuk dengan tutup
1 bongkah keju Dangke, hancurkan dengan garpu
1 sdm bumbu kare (atau 1/2 sdm bubuk kari)
1 tomat, potong dadu
3 bunga bawang, iris tipis (boleh diganti daun bawang)
Gula, garam, merica
Minyak goreng

Cara membuat:
Panaskan oven 180 C.
Panaskan 2 sdm minyak goreng, tumis bawang Bombay dan bawang putih hingga harum.
Masukkan bumbu kare, tumis hingga wangi.
Masukkan keju Dangke, aduh-aduk hingga bumbu merasuk.
Terakhir masukkan tomat dan bunga bawang, gula garam merica, aduk rata. Tes rasa.
Isi paprika dengan tumisan Dangke hingga penuh, lalu letakkan di Loyang. Panggang hingga paprika lembut, sekitar 20-25 menit.
Angkat, sajikan hangat dengan acar timun.



Saturday, April 22, 2017

Tumisan Sayur Indonesia Banget


Saya suka jalan-jalan ke supermarket besar seperti Loka, terutama untuk mampir ke bagian sayur dan buah. Di sana, bisa puas-puasin mata memandang warna-warni buah-buahan dan sayuran (impor) yang menawan hati (tapi bikin hati tersayat pilu). Cukup membayangkan saja bikin blueberry muffin (karena harga blueberry 200 gr seratus ribu lebih), atau mata yang berbinar-binar saat pertama kalinya melihat Alfalfa Sprout, micro vegetables yang imutnya keterlaluan, yang biasanya nampang di majalah-majalah foodie sebagai campuran salad. Lalu binar di mata itu perlahan pudar saat mengintip harganya yang 30 ribu rupiah untuk sekotak kecil Alfalfa. Errrrr….

Sakit hati!

Itu yang saya rasakan. Sakit hati karena ga semudah itu beli sayur/buah impor (faktor dompet) dan karena keIndonesiaan saya yang (akhirnya) terusik (faktor identitas kebangsaan). Dan saat berjalan ke lorong pasar tradisional, tanpa sengaja menemukan seorang mbah-mbah penjual sayur. Tapi bukan sayur biasa seperti bayam, kangkung atau sawi. Sayuran yang beliau jual adalah sayuran yang mulai langka yang jarang sekali ada di pasaran, seperti kecipir, bunga pepaya, daun beluntas, daun ketela, sinom (daun pohon asem jawa), jantung pisang, pokak (rimbang), hingga kadang ada semanggi, daun kelor hingga daun katuk. Menemukan mbah-mbah tersebut merupakan tamparan tersendiri. Betapa selama ini saya memuja sayur/buah asing karena penampakannya yang unch unch waktu dipotrek, tapi meleng dari harta karun negeri kita yang sangat jarang terabadikan secara genah, baik dan cantik oleh kita-kita sendiri.

Maka di sinilah saya sekarang. Mencoba merekam secuil keindahan Indonesia. Tak muluk-muluklah impian saya, cuma buat belajar mencintai apa yang tumbuh di tanah kita, mengolahnya dengan sepenuh hati dan membiasakan mengkonsumsinya bersama keluarga. Ibu adalah madrasah terbaik untuk buah hatinya kan, dan kurikulum makanan untuk sekolah di keluarga kecil saya adalah memperkenalkan sedini mungkin aneka makanan/masakan/minuman tradisional Indonesia. Go Local!!!


Tumis Bunga Bawang



sumber: Anitajoyo

Bahan:
1 kotak tahu, potong dadu, goreng 
1 ikat bunga bawang, cuci, potong 2 cm 
1 ons udang, buang kepala dan kulit, sisakan ekornya 
6 bawang merah, rajang tipis 4 bawang putih, rajang tipis 
5 cabe rawit, iris jadi 2
3 sdm kecap manis 
100 ml air matang gula, garam, merica


Cara membuat: 
Tumis duo bawang hingga wangi, masukkan cabe rawit dan udang. Tumis lagi hingga udang berubah warna. 
Tuang kecap manis, tunggu sebentar hingga kecap mendidih terkaramelisasi, masukkan tahu goreng dan bunga bawang. 
Tuang air, tambah gula, garam, merica. 
Masak hingga bumbu meresap dan air habis.


Tumis Pokak Teri



Sumber: Anitajoyo

Bahan:
250 gr pokak, petiki, cuci bersih
100 gr teri, gorenggula, garam

Bumbu halus:
8 bawang merah
6 bawang putih
2 cabe merah besar (tambahan dr saya)
10 cabe rawit
4 butir kemiri bakar

Cara membuat:
Rebus pokak hingga agak empuk (sekitar 7 menit), tiriskan, sisihkan.
Tumis bumbu halus hingga wangi, tambahkan sedikit air. 
Masukkan pokak, gula, garam; masak hingga air menyusut, minyak keluar dan bumbu merasuk.
Sesaat sebelum diangkat masukkan teri, aduk rata. 
Sajikan dengan nasi panas ngepul



Tumis Bunga Pepaya 



Bahan:
500 gr bunga pepaya, petiki, buang batangnya, cuci bersih, tiriskan
1 sdt asam jawa
1 ons udang, kuliti, sisakan ekor
8 bawang merah, rajang tipis
4 bawang putih, rajang tipis1 ruas lengkuas, geprek
10 cabe rawit
2 cabe merah besar
gula, garam, merica

Cara membuat:
Rebus air di panci bersama asam jawa, masukkan bunga pepaya. 
Masak 5 menit, angkat, saring, sisihkan.
Tumis duo bawang dan lengkuas hingga harum.
Masukkan cabe merah besar, cabe rawit dan udang. Masak hingga udang berubah warna.
Masukkan bunga pepaya, gula, garam, merica. Aduk rata hingga bumbu meresap.


Tumis Kulit Melinjo



Bahan:
300 gr kulit melinjo, iris tipis
1 papan pete, kupas
5 siung bawang putih, geprek
1 butir bawang merah, rajang
10 cabe rawit, iris
1 lembar daun salam
1 ruas lengkuas, geprek
Gula, garam, merica50 ml air matang

Teri goreng


Cara membuat:
Tumis duo bawang, lengkuas, cabe rawit dan daun salam hingga wangi. 
Masukkan kulit melinjo, aduk sebentar, tuang air.
Tambahkan gula, garam, merica, masak hingga air berkurang. 
Masukkan pete, aduk-aduk hingga air menyusut. 
Taburi teri goreng, aduk rata, sajikan